Kamis, 01 April 2010

MENDUNG TAK SELAMANYA KELABU

MUNGKIN potongan kalimat dalam syair lagu lama, “Tak selamanya mendung itu kelabu”, adalah ungkapan tepat diberikan pada keluarga Siti (bukan nama sesungguhnya; Red.) yang kala itu menjadi teman seperawatan Menik, adik kami, di rumah sa-kit RSCM, kira-kira 5 tahun silam.
Siti menderita suatu penyakit yang hanya dokter dan keluarga besarnya saja yang tahu, sedang Menik tengah menjalani perawatan intensif saat kedua kakinya hancur dan patah terseret kereta api di peron stasiun Cikini.
Keluarga Siti, kedua orang-tuanya, bukanlah keluarga beruntung dalam hal finansial perawatan rumah sakit bagi Siti dan ibu kami yang ketika itu menjagai Menik selama perawatan tiga bulan lamanya, kerap dimintai bantuan atau pertolongan. Kami kini sudah bukan keluarga berpunya untuk biaya perawatan Menik yang waktu itu berjumlah kira-kira tujuh puluh lima juta rupiah. Tapi kami sekeluarga mempunyai harapan besar untuk adik kami agar Menik cepat sembuh kembali dan selalu berdoa pada Tuhan Yesus untuk kesembuhannya. “Puji Tuhan”, harapan kami sekeluarga didengar Tuhan sehingga Ia sendiri mengirimkan para malaikatNya dan biaya perawatan Menik dapat ditanggungNya.
Suatu waktu orang tua Siti sempat begitu bingung menghadapi tuntutan pihak rumah sakit akan begitu besarnya biaya perawatan Siti. Ibu adalah orang yang telah dikasihi Tuhan dan orangtua Siti menemui Ibu berharap besar agar beliau mau sekali lagi menolong Siti. Lantas Ibu meminta kedua orangtua Siti mencari Asuransi Jasa Kesehatan bagi orang miskin dan Ibu memberi sedikit uang untuk ongkos pulang-pergi ke kampung halaman Siti.
Dan itu hal pertama yang kucatat dalam ingatanku, bagaimana kami ketika itu pun ditimpa musibah, juga harus mengasihi sesama kami ka-rena kami percaya Kasih akan mengalir seperti air sungai. Dan ibu pun hany mampu berdoa, “Terima kasih Tuhan Yesus atas anugerah serta barkatMu bagi kami sekeluarga untuk kesembuhan Menik. Saat ini teman seperawatan Menik yakni Siti dan keluarganya membutuhkan anugerahMu yang telah kami terima dan kami berharap hanya kasihMu menyertai Siti dan keluarganya. Amin”.
Demi biaya perawatan Siti yang telah membengkak besar akhirnya Ibu berinisiatif mengumpulkan dana dari pihak para pengunjung yang tengah membesuk para pasien lain yang dirawat di rumah sakit dengan menuliskan tujuan dari usaha pengumpulan dana tadi. Dan ini hal kedua dari yang diperbuat Ibu sebagai catatan inga-tanku untuk hal Kasih Tuhanku, Yesus. “KasihMu,…Oh Tuhan”.
Rupanya Tuhan memang berkenan pada usaha Ibu membantu me-ringankan Siti dan keluarganya dan dana cepat sekali terkumpul sehingga ibu hanya menambah sedikit dari yang dibutuhkan oleh orangtua Siti agar Siti dapat kembali berkumpul bersama keluarga di kampung halaman.
Setelah semua dana dapat dipenuhi oleh orangtua Siti, Siti diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit tempat di mana ia dirawat dan orangtua Siti mengucapkan rasa syukur tak terhingga pada Tuhan melalui Ibu kami.
Lalu, sebuah memori rasul besar Santo Paulus pada suratnya Roma 15:1 mencatat, “Kita (demi Kasih), yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan sendiri”.
Semuanya, dari yang diperbuat Ibu kami, catatan Kasih rasul kupeli-hara untuk menjadi bahan renunganku karena Kasih itu, Kuat, berdoa dan mengalir seperti air sungai bagi diriku dan sesama.
Akhirnya Ibu kami pun berhenti berkisah tentang hal Kasih Tuhan yang telah teruji luar biasa pada salah seorang kerabat kami yang juga masih berharap besar akan Kasih KaruniaNya agar semua dapat kami teladani bagi keluarga kami. Kami tidak lekas berbangga hati dengan yang telah dibuat bagi kami oleh Ibu karena kami semua, dan banyak orang hingga kinipun, masih terus berharap pada Tuhan, Yesus akan Kasih besarNya. Dan aku pun menutup kisah Kasih Tuhan ini. “Terima kasih Yesus, Tuhan. Tak Selamanya Mendung Itu Kelabu. Amin”.

Ipung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda. ^^