Senin, 01 November 2010

Cover Depan November 2010

Redaksi Menulis

Injil merupakan harta hidup yang tak terperikan bagi umat Tuhan karena di dalamnya berisikan kebenaran yang dapat berupa teguran, sapaan, nasehat juga ajaran hidup. Ada banyak kisah menarik yang dapat kita petik darinya mengenai arti sesungguhnya dari perpisahan sementara karena Tuhan Yesus sudah menyatakan sebelumnya.
Memang tak dapat dipungkiri oleh manusia siapapun dia di dunia ini mengenai hal perpisahan. Ada ungkapan, “Ada perjumpaan pasti ada perpisahan.” Dan hal tersedih yang oleh seitap manusia mesti dihadapi adalah, “kematian” Namun ajaran gereja sebagai pangkal iman kita mengungkapkan bahwa kematian seseorang yang telah hidup di dunia ini sekian lama kurun waktu bukanlah sebuah keakhiran bagi segalanya, tetapi malah justru permulaan bagi kekekalan yang hidup sesungguhnya.
Dan kita dapat menganalogikan hidup baru bagi seorang manusia di alam baka kelak, layaknya petani yang harus menanam biji mati bagi semaian baru yang juga harus dipelihara, dirawat untuk kembali menumbuhkan hidup. Kita hanya percaya Tuhan Yesus melalui iman kita yang acap kali mudah goyah bila ditimpa kemalangan dan kita mencoba banyak berbuat baik bagi sesama sebagai bekal kita untuk memperoleh kehidupan kekal kelak.

Stop Press Edisi Khusus Natal 2010

Sajian Utama 1

DOA DAN PENGHARAPAN DI BALIK SUATU PERPISAHAAN


Kehilangan seseorang yang dikasihi, apalagi untuk selamanya akan sangat menyedihkan. Tangis pilu dan sedu sedan akan mewarnai perpisahan itu. Hal ini setiap saat bisa kita saksikan atau kita rasakan setiap kali ada peristiwa kematian, dimana orang yang meninggal adalah orang yang disayangi dalam keluarga atu kelompok sosialnya. Tangisan adalah ungkapan betapa kita sangat kehilangan, sangat menyayanginya dan tidak berdaya menghadapi kesedihan akibat perpisahan selamanya yang terkadung terasa sangat mendadak.
Demikian juga yang dialami oleh keluarga Titi pada suatu hari di akhir bulan September beberapa tahun yang lalu. Ayah Titi, Pak Broto, sore itu menghadap Bapa. Sekalipun boleh dibilang putra-putri Pak Broto sudah dewasa, semuanya sudah berkarya dan berkeluarga, tetap saja isak tangis Bu Broto dan putra-putrinya tidak bisa dicegah. Bagaimana mungkin mereka bisa menahan tangis, ketika seseorang yang selama ini menjadi ayah, sahabat, penuntun, pelindung, tumpuan keluarga tiba-tiba kehidupannya di dunia berakhir dan harus meninggalkan semuanya. Keluarga, kegiatan, sahabat, relasi, statusnya di dunia ini. Ratusan orang mengantarkan kepergian pak Broto, sebagai penghormatan yang terakhir.
Tangisan adalah bentuk ungkapan emosi yang cukup manusiawi, seperti halnya tawa, senyum, marah, kesal, senang, dll. Orang menangis bukan berarti tidak punya iman dan pengharapan. Penghiburan bagi orang-orang yang sedang merasa sangat kehilangan seperti ini akan sangat berarti. Doa bagi orang-orang yang meninggal pun sangat penting. Dengan doa, kita memohon kepada Allah yang Maha Rahim dan penuh belas kasih untuk melimpahkan karunia kasihNya kepada orang yang meninggal agar dosa-dosaNya diampuni dan diperkenankan memasuki kerajaan surga. Doa merupakan bentuk kasih kita kepada mereka yang kita doakan.
Kematian, adalah sebuah kepastian. Cepat atau lambat kita semua akan mengalaminya. Yesus mengajarkan kepada kita bahwa di pengujung kehidupan kita di dunia yang fana ini kita akan menyambut kedatangan mempelai laki-laki. Selain itu Yesus juga menyakinkan kita melalui wafat dan kebangkitanNya, bahwa kita semua akan mengalami kematian. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, namun awal dari sebuah kehidupan baru. Kita yang telah mengalami kematian juga akan mengalami kebangkitan dan memasuki kehidupan kekal. Jadi, suatu saat kita akan bertemu kembali dengan saudara kita yang telah terlebih dahulu menghadap Bapa di surga.
Masalahnya, apakah hidup kita memang sudah benar-benar mengimani Yesus yang sengsara, wafat dan bangkit mulia? Kalau kita mengikuti Yesus, berarti harus menyelaraskan hidup kita dengan teladan hidup Yesus agat kita ikut mengalami kebangkitan mulia. Sebagai pengikut Kristus kita memiliki pedoman, yaitu keteladanan para kudus di surga dengan hidup dalam ketergantungan dengan Allah atau dalam kemiskinan, rendah hati, tidak gampang marah, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, menjaga kebersihan hati, dll.
Sepintas, keteladanan para kudus ini kita rasakan seperti muluk-muluk dan tidak mungkin bisa kita lakukan. Dengan doa yang tekun dan memohon rahmat Allah, Roh Kudus akan membimbing setiap manusia untuk membuka diri dan memiliki kekuatan untuk melakukan hal-hal yang baik. Maukah kita tetap berdoa dan memohon kepadaNya? Juga pada saat keinginan kita tidak terkabulkan? Mari kita berjuang, selagi masih ada kesempatan, Tuhan memberkati! (E. Sri Hartati)

Sajian Utama 2

Perpisahan Sementara


Dunia bukan tempat kediaman tetap melainkan persinggahan sementara di dalam penziarahan manusia sepanjang perjalanan menuju ke rumah Bapa. Sebab Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan. Orang baik dan buruk mengalami nasib yang sama di dunia ini. Kadang-kadang orang jahat nampaknya lebih beruntung ketimbang orang baik. Namun orang bijaksana dan saleh merenung, melihat lebih dalam dan lebih jauh, lebih benar penilaiannya, mereka memilih jalan keutamaan dan kehidupan.
Tuhan tidak menghendaki kematian, Ia ingin kelestarian hidup. Dari semula yang direncanakan oleh Tuhan mengenai manusia, yang dijadikan gambar hakekatnya sendiri (Kebijakan Salomo 2:23), itulah kesucian dan kebakaan. Dan semua yang menentang kebenaran ini, adalah pikiran sesat yang dimasukkan pada manusia oleh setan, musuh sejak semula. Mulai dari Firdaus manusia sudah dijegal dan dijatuhkan oleh kedengkian setan, masuklah maut ke dunia, dan yang menjadi milik setan, mencari maut itu (Keb Sal 2:24). Maka hendaklah kita membebaskan diri dari kuasa setan dan dosa, dan mengikuti arah Roh yang benar dalam diri kita, untuk mendapatkan hidup, kesucian dan kebakaan.
Memang orang benar acapkali ditimpa siksaan, menderita kemiskinan, ditindas, sengsara tak berdaya. Namun “kalaupun mereka disiksa menurut pandangan manusia namun harapan mereka penuh kebakaan”. Maut itu menurut pandangan dunia adalah suatu malapetaka, kehancuran, tetapi jiwa orang bijaksana berada dalam ketentraman, ia ada di tangan Tuhan (Keb Sal 3:1-4).
Orang bijaksana menerima kebenaran, bahwa ia itu diuji “laksana emas dalam dapur api”, diuji sebentar, saat perpisahan sementara yang dialaminya, untuk kemudian menerima anugerah yang besar (Keb Sal 3:5-6).
Setelah meninggal, arwah secara langsung akan diadili oleh Tuhan dan putusan kekal yang tidak dapat diubah akan dikenakan padanya. Allah akan memberikan keringanan dalam pengadilan ini. Dalam Kitab Suci pengadilan perorangan tidak dikatakan dengan jelas, tetapi ternyata dari perumpamaan Lazarus dan orang kaya: “Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya”(Luk 16:22-23). Ini mengandaikan bahwa jiwa secara langsung diadili, karena saudara-saudara orang kaya itu masih hidup (Luk 16:27-28).
Dari teks-teks lain kita melihat bahwa sesudah kematian jiwa secara langsung mendapat pahala atau hukuman. Maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa sebelumnya ada pengadilan. Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:43).
Pada Wahyu 14:13 dikatakan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini. ‘Sungguh,’ kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka”.
Kristus berkali-kali menubuatkan pengadilan: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan BapaNya diiringi malaikat-malaikatNya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya”. (Mat 16:27).
Semua itu adalah demi untuk dapat tercapainya tujuan harapan iman kita, yaitu hidup bersama para Kudus di Sorga. Sorga adalah status kebahagiaan kekal sesudah kehidupan ini yang terdiri atas kesempatan memandang wajah Allah selamanya. (bdk Mat 5:8 , 18:10 ; 1Kor 13:12 ; 1Yoh 3:2).
Bila kita memandang Allah, kita tetap terbebas dari kejahatan. Bebas dari kejahatan fisik: “Mereka tidak akan menderita lapar dan dahaga lagi, dan matahari atau panas terik tidak akan menimpa mereka lagi. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Why 7:16 , 21:4). Bebas dari kejahatan moral, yakni bebas dari dosa.
Dengan diadilinya arwah secara langsung oleh Tuhan, itu berarti jiwa orang benar yaitu yang semasa hidupnya di dunia ini hanya terarah pada Yesus, melakukan perbuatan-perbuatan benar sesuai dengan ajaranNya, yang suci hatinya, maka akan mengalami perpisahan sementara saja, karena dia akan mengalami seperti apa yang dikatakan Maria Magdalena: “Aku telah melihat Tuhan!” (Yoh 20:18). Saat terjadi suatu perjumpaan pribadi antara manusia dan Yesus yang telah bangkit, dan hidup dalam GerejaNya. (Stefan Surya)

Catatan Kecil

Menghapus Air Mata


“Jangan gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah kepadaKu. Di rumah BapaKu banyak tempat tinggal, jika tidak demikian, tentu Aku menyatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu supaya di tempat dimana Aku berada, kamupun berada”. Baca injil Yohanes 14: 1-4, sangat menguatkan pada saat-saat ditinggalkan orang-orang yang dikasihi, bacaan diatas berkali-kali dibaca dan saya percaya bahwa mereka kembali ke rumah Bapa di surga.
Bagi semua yang saat ini sedang larut dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh yang kita kasihi, kita yang merasa bahwa kematian sudah memisahkan kita untuk selamanya, bangkitlah dari kesedihan Anda! Ingat apa yang dikatakan Tuhan bahwa mereka yang mati di dalam Yesus akan dikumpulkan bersama-sama dengan Dia dan kelak kitapun akan dikumpulkan bersama-sama dengan mereka. Rasul Paulus menasehatkan kepada jemaat di Tesalonika agar mereka saling menghiburkan dengan janji Tuhan yang sangat menghibur ini (1 Tesalonika 4: 18).
Setiap badai berlalu, so pasti pelangi tampak dengan warna-warninya, setelah penderitaan selalu hadir penghiburan. Terimakasih Tuhan, Engkau selalu hadir disetiap saat dimana kami mengalami penderitaan. Saudara, sahabat, dan handai taulan yang menghibur kami, dan ini menyadarkan bahwa kita akan dipertemukan lagi dalam suasana yang lebih indah daripada kebersamaan kita di bumi. Aku yakin orang-orang yang kita kasihi adalah orang-orang yang percaya kepada Kristus.
Bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ada kehidupan lain yang lebih indah dan lebih sempurna yaitu di dalam surga. Surga bukan isapan jempol. Surga disediakan bagi mereka yang setia kepada Yesus. Di surgalah kita semua akan berkumpul kembali tanpa ada perpisahan dan air mata. Janji ini benar, Yesus sendiri yang mengatakannya sebelum Ia naik ke surga. Ia pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagi kita semua dan Ia akan datang kembali untuk menjemput kita dan kita akan berkumpul selamanya di sana.
Ikhlaskan orang yang Anda kasihi untuk pergi, karena kelak akan ada reuni besar di surga. Tugas kita adalah hidup dalam kebenaran sehingga kelak kita bisa bertemu Tuhan dan orang-orang yang kita kasihi. Ambrosius berkata, “Kematian adalah pelabuhan kedamaian bagi orang benar, tetapi sebagai kapal karam bagi orang jahat.” Janji Tuhan mampu menghapus air mata dukacita dan menggantikannya dengan sukacita pengharapan. (diar sanjaya – MS 509)

Ruang Bina Iman Anak

Menceritakan Kebaikan Allah Kepada Anak-Anak! (IV)


Seseorang pernah berkata, “Aku lebih suka menjadi sekuntum bunga mawar seharga 50 sen daripada sekuntum bunga mawar seharga 7 dollar yang ditanam di atas tanah seharga 50 sen. Hubungan dengan setiap anak kita dan suasana yang kita bangun di rumah sangatlah penting. Hubungan dan suasana ini adalah seperangkat alat yang akan kita gunakan untuk membajak dan menyiapkan tanah hati anak-anak sehingga mereka akan siap untuk menerima pesan-pesan Allah.

Anak-anak itu penting!

1. Bahasa Cinta
Dengarkanlah anak-anak Anda, tunggu giliran Anda untuk berbicara, pusatkan perhatian Anda pada hal-hal yang sedang mereka katakan. Amati anak-anak Anda, perhatikan mereka, pikirkan bagaimana cara mereka mengungkapkan perasaan dan keyakinannya melalui tindak dan reaksi mereka, perjelas apa yang mereka ucapkan. Mintalah mereka ringkas apa yang telah mereka katakan untuk menguji apakah Anda benar-benar memahami perkataan mereka, nikmati anak-anak Anda. Hormatilah setiap anak sebagai sebuah pemberian unik dari Allah. Hargailah tempat setiap anak dalam keluarga Anda. Hormatilah dan hargailah gagasan dan perasaan setiap anak. Allah Bapa bersukacita di dalammu. Anda dapat meneladani hubungan Bapa dan Anak-Nya saat berhubungan dengan setiap anak Anda.

2. Mempedulikan
Komitmen, tetapkan tujuan untuk membangun sebuah hubungan yang kuat dengan anak-anak Anda. Siap sedia, Anda dapat ditemui kapan saja saat anak Anda memerlukan Anda, luangkan waktu bersama mereka. Peraturan dan tanggung jawab tetapkan batasan-batasan, berikan tanggung jawab itu. Dorongan, ucapkan kata-kata yang memberi dorongan, berikan harapan kepada anak-anak Anda, beri mereka kesempatan untuk mengalami kegagalan dan mencoba lagi.

3. Meluangkan Waktu Bersama-sama
Bermainlah bersama-sama untuk memperkuat hubungan Anda dengan setiap anak dan untuk menyediakan satu bentuk komunikasi dan latihan bagi mereka. Makanlah bersama anak-anak Anda sesering mungkin. Gunakan saat-saat di meja makan untuk saling berbagi gagasan dan pengalaman dan saling mendorong satu sama lain. Menjelang tidur adalah waktu dan saat-saat yang paling baik untuk mengajak anak-anak Anda berdoa bersama. Berbagi pengalaman dan saling memaafkan, biarkan saat-saat diatas dijadikan jalinan memperbaiki sikap kita selama sehari. (diar sanjaya-KH)

Orang Kudus 1

Santo Karolus Boromeus, Uskup 
dan Pengaku Iman


Karolus Boromeus lahir di Rocca d’Arona, tepi danau Maggiore pada tanggal 2 Oktober 1538. la adalah putera kedua dari Giberto Berromeo dan Margherita de’Medici, saudari Paus Pius IV (1846-1878). Di kemudian hari ia menjadi Kardinal dan Uskup Agung Milano serta tokoh utama usaha pembaharuan Tridentine. Dari seluruh kisah kehidupannya dan karyanya dapat dikatakan bahwa Karolus sudah ditentukan Tuhan sejak lahirnya untuk menjadi pelayan Allah bagi kemajuan GerejaNya.
Kurang lebih 40 tahun setelah meletusnya Reformasi Protestan, Tuhan menggerakkan Karolus Boromeus untuk membantu paus dalam usahanya menangkal segala sepak terjang para penganut Protestan. Dalam usia yang masih sangat muda (22 tahun), Karolus diangkat menjadi Kardinal oleh pamannya Paus Pius IV (1846-1878). la menjabat sebagai Sekretaris Negara dan menjadi orang terkuat di Kuria Roma. Ia tekun belajar hingga larut malam.
Setelah kakaknya meninggal mendadak, ia memutuskan mengikuti suatu retret khusus. Kemudian ia menjadi imam dan mulai hidup sangat sederhana. Sehari-hari ia berdoa berjamjam dan menjalani mati-raga keras. Kekayaannya dibagibagikan kepada orang-orang miskin; jumlah pelayanannya diperkecil, dan banyak dana disisihkannya untuk memberikan beasiswa.
Ia dikenal sebagai salah seorang pemeran utama Konsili Trente, bahkan keberhasilan Konsili itu merupakan hasil jerih payahnya. Ia berusaha keras meneruskan Konsili Trente dan mendesak agar keputusan-keputusan Konsili itu dilaksanakan. Dalam hubungan itu ia meminta paus agar ia dibebaskan dari tugasnya di Kuria Roma untuk membaharui keuskupannya, keuskupan Milano. Meskipun masih muda belia, Karolus sangat menyadari kebutuhan umatnya jaman itu. Di masa itu hidup keagamaan amat Parah: banyak anak tidak mengenal Tuhan, bahkan membuat tanda salib saja pun tidak bisa; gereja-gereja sepi dari kunjungan umat, bahkan ada gereja yang diubah menjadi toko atau bangsal pesta. Para imam tidak bisa berkotbah karena tak terdidik baik dalam hal pewartaan iman.
Karolus mengambil bagian di dalam sidang-sidang terakhir Konsili Trente, yang membahas pembaharuan Gereja. Lalu ia mulai bekerja sekuat tenaga untuk membaharui keuskupannya. Mula-mula ia menegas-kan agar staf keuskupan menghayati suatu corak hidup yang lebih mencerminkan status mereka sebagai rohaniwan. Ia sendiri memberi teladan serta bersemangat doa, rajin mengaku dosa, berpuasa dan hidup sederhana. Berulang kali ia mengunjungi paroki-paroki, menyelenggarakan rapat dengan para pastor, mengajar agama dan berkhotbah.
Pada tahap awal, usahanya hampir kandas karena ia tidak bisa berbicara dengan lancar. Tetapi ia pantang menyerah dan senantiasa berbicara dengan penuh keyakinan. Untuk memberantas kebutaan anak-anak dalam hal keagamaan, ia mendirikan ‘sekolah-sekolah minggu’. Ia membuka seminari-seminari keuskupan untuk menggembleng para calon imam yang tangguh. Itulah seminari model pertama. Dengan usaha usahanya itu, ia berhasil menyalakan api semangat Kristiani dalam hati umatnya dan membuat Kristus dicintai lagi.
Pengaruhnya tidak terbatas di dalam wilayahnya sendiri. Terbukti pada tahun 1576, ketika Milano terserang wabah sampar yang ganas, tempat tinggalnya dijadikan sebagai rumah sakit. Ia sendiri melayani sebagai perawat dan pembimbing rohani para pasien. Selain itu, ia masih juga menangani tugas-tugas berat lainnya: ia banyak mengadakan kunjungan-kunjungan ke wilayah-wilayah yang lain seperti Italia, Switzerland dan lain-lain dalam usaha mengatasi kerisauan di dalam tubuh Gereja akibat Reformasi Protestan dan timbulnya bidaah-bidaah. Ia berusaha memekarkan kembali kehidupan menggereja di daerah-daerah yang telah lemah semangat imannya. Namun ada saja orang yang menentang kebijaksanaannya. Beberapa biarawan yang tidak mau ditertibkan berusaha melawan melalui pembunuh bayaran. Untunglah ia selamat. Ia disukai umat dan dianggap sebagai penyelamat kota Milano. Pemerintah sendiri, yang seharusnya merasa beruntung dan oleh sebab itu harus berterimakasih kepada Karolus, kurang menyukainya, malahan memfitnahnya. Untunglah ia dilindungi oleh paus. Memang berbuat baik amat banyak cobaan dan rintangannya. Dunia sepertinya iri hati atas semua keberhasilannya. Namun iman dan ketabahannya tetap membuat Karolus berdiri tegak dalam prinsipnya. Pekerjaan berat ditambah penderitaan-penderitaan tersebut merongrong kesehatannya. Ia wafat di Milano pada tanggal 3 Nopember 1584.

Orang Kudus 2

Santa Elisabeth dan Santo Zakarias


Cerita perihal kehidupan Elisabeth dan Zakarias dan peranan mereka yang istimewa di dalam sejarah keselamatan Allah, hanya kita ketahui sedikit dari Injil terutama Injil Lukas bab 1:5-80.
Elisabeth adalah isteri Zakarias - seorang imam Israel dari kelompok Abia (1Taw 24:10, Luk 1:5) - dan ibu kandung Santo Yohanes Pemandi. Keduanya berasal dari keturunan Harun (ay. 5) dan hidup pada masa pemerintahan Herodes di wilayah Yudea. Di hadapan Tuhan, mereka hidup saleh dan benar, tanpa cela menghayati dan melaksanakan hukum Musa. Namun sayang Mereka tidak dikaruniai anak sampai umur tuanya. Dari sudut pandang Yahudi, hal ini merupakan aib bagi mereka, namun inilah rahasia Tuhan di luar batas pemahaman manusia. Karena melalui mereka Tuhan kemudian menunjukkan secara lebih tandas kuasaNya atas hidup manusia. Melalui mereka Tuhan mau melaksanakan rencana keselamatan Nya atas manusia yang akan dijalankan sendiri oleh Putera-Nya. Ternyata dari kedua orang kudus ini Tuhan mengaruniakan seorang nabi besar, Yohanes Pemandi, pendahulu Yesus, Sang Mesias.
Injil menceritakan bahwa Elisabeth adalah sanak Santa Maria, Bunda Yesus, namun hubungan itu tidak diketahui secara jelas dan pasti, (ay 36). Hubungannya dengan Maria, Ibu Yesus diceritakan di dalam kisah kunjungan Maria kepada Elisabeth sebelum kelahiran Yesus (ay 39).

Ruang Kitab Suci

Berjaga-jagalah

Mat 24:37-44
37 “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.

38   Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera,
39     dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.
40     Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan;
41     kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.
42   Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.
43   Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar.
44     Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

Susunan 
Ada tiga sabda Yesus yang menunjukkan tentang perumpamaan kedatangan Anak Manusia (ay. 37, 39, 42) ini memberikan dua tanda peringatan untuk berjaga-jaga dan siap sedia (ay. 42, 44).
Perumpamaan pertama membandingkan saat kedatangan Anak Manusia dengan zaman Nuh (ay. 37), yang berciri dengan hidup santai, konsumtif, nyaman (ay. 38). Dampaknya mereka mengalami musibah oleh air bah; hal yang sama akan terjadi saat Anak Manusia datang (ay. 39). Perumpamaan kedua mengibaratkan akibat kedatangan Anak Manusia dengan suatu tindakan seleksi dan pemisahan antara dua laki-laki/dua perempuan yang sedang melakukan pekerjaan yang sama di ladang/rumah (ay. 40, 41). Perumpamaan ketiga mengibaratkan kedatangan Anak Manusia dengan masuknya pencuri pada waktu malam, yang – seandainya diketahui saatnya – pasti membuat tuan rumah berjaga-jaga.
Perumpamaan ketiga ini diawali dan disusul dengan peringatan dan ajakan untuk berjaga-jaga (ay. 42) dan siap sedia (ay. 44), tetapi bukan berjaga-jaga dan siap sesaat saja melainkan terus menerus. Sebab berbeda dengan perumpamaan yang mengandaikan bahwa tuan rumah tahu saatnya pencuri datang, saat kedatangan Tuhan atau Anak Manusia sama sekali tidak dapat diduga sebelumnya.

Konteks   
Wejangan Yesus tentang akhir zaman dalam Matius 24-25 merupakan saduran dari Markus 13. Bacaan kita merupakan bahan tambahan yang pertama. Sebelumnya kita diberitahu tentang kedatangan Anak Manusia (24: 29 dab), atau parousia yang sebenarnya profan, tetapi dalam arti sakral mengacu kepada kedatangan Tuhan. Dan tentang tanda-tanda bahwa kedatangan itu dekat (ay. 32-35) tanpa harinya dapat diketahui siapa pun, kecuali hanya Bapa sendiri (ay. 36). Kemudian bacaan kita menegaskan bahwa hari kedatangan itu memang tidak diketahui, dan karena itu memperingatkan kita untuk terus berjaga-jaga dan siap sedia. Arti dari hal berjaga-jaga dan siap sedia untuk menyambut kedatangan Tuhan dijelaskan dalam dua perumpamaan yang menyusul (tentang hamba yang setia,  24:45-51, dan gadis-gadis yang bijaksana, 25:1-13); dan implikasinya untuk cara hidup dan kerja di dunia sekarang dijelaskan dalam dua perumpamaan lagi (menjalankan uang talenta, 25:14-30, dan melayani kebutuhan saudara-saudara terkecil, miskin dan hina, 25:31-46).

Keterangan 
Sebagaimana halnya pada zaman Nuh (ay. 37):  Perbandingan antara air bah pada zaman Nuh dan saat Anak Manusia adalah kedatangannya yang tak terduga, namun merupakan suatu yang pasti, bagi orang yang hidup dengan santai dan senang-senang saja. Mereka baru sadar ketika saat kritis sudah sampai, namun sudah terlambat.
Kedatangan Anak Manusia (ay. 37, 39, 44): Bagi Matius, kedatangan Yesus tidak berbicara tentang kedatangan salah seorang tokoh akhir zaman, tetapi adalah kedatangan–Nya sendiri, parousia, dalam kemuliaan bersama malaikat-malaikat untuk menjalankan pengadilan/penghakiman terakhir (13:41,  16:27 dab,  19:28,  24:27, 30,  25:31, 26:64). Bab 24 ini lebih menekankan sifatnya yang mendadak, saatnya tidak diketahui. Dalam ay. 37-39 pembaca berhadapan dengan dua aspek pemberitaan Yesus; di satu pihak Yesus memberitakan keselamatan, tetapi di lain pihak Ia memberitakan bencana. Kedua hal ini senantiasa harus diingat oleh manusia. Seruan agar manusia bertobat yang sekaligus diiringi dengan pemberitaan tentang kedatangan Anak Manusia merupakan dua peringatan yang Allah berikan kepada umatNya. Manusia masa kini akhirnya perlu sadar bahwa inilah saat terakhir untuk mengambil keputusan.
Makan dan minum (ay. 38):  Sesudah memberitahukan terjadinya suatu malapetaka dahsyat, Yesus menyibukkan diri dengan sikap manusia. Orang-orang di zaman Nuh tetap menjalankan kehidupannya dengan santai, happy, senang selalu, mereka makan-minum, kawin. Namun ketidak pahaman mereka sangat berbahaya: mereka mati sebab tidak menangkap tanda-tanda yang diberikan kepada mereka. Begitulah akan terjadi pada akhir zaman. Waktunya sudah terlambat untuk berbuat apa yang seharusnya dilakukan sebelumnya. Maka, sekarang juga setiap saat manusia harus berjaga-jaga dan siap sedia mempersiapkan diri dengan membuka mata dan hati dalam menanggapi peringatan Tuhan.
Seorang akan dibawa (ay. 40-41):  Maksudnya, dibawa oleh Anak Manusia atau malaikat-malaikat yang akan mengumpulkan orang-orang pilihanNya (ay. 31). Pada saat kedatangan Anak Manusia akan tersingkap perbedaan antara orang-orang yang sepintas kelihatan sama. Mereka melakukan kegiatan yang sama, namun yang satu dengan sikap dan cara yang siap untuk mendapat bagian di dalam Kerajaan Allah, sedangkan yang lain tidak siap lalu ditinggalkan di luar. Gambaran dua laki-laki yang bekerja di ladang di samping dua perempuan yang bekerja di rumah bermaksud memberi kesan lengkap: pengadilan serta pe-misahan oleh Anak Manusia mencakup semua manusia tanpa diskriminasi lahiriah.
Berjaga-jagalah; siap sedia (ay. 42, 44):  Ketidak-tahuan akan hari kedatangan Anak Manusia memintga orang untuk terus berjaga-jaga, siaga, siap sedia. Ajakan untuk berjaga-jaga terus tentu bahasa kiasan dan tidak bertentangan dengan tidur fisik. Dalam perumpamaan tentang sepuluh gadis, kelima yang bijaksana pun boleh saja tidur selama mempelai belum ada (25:5, 13). Juga ajakan “berjaga-jagalah dengan Aku” di taman Getsemani (26:38, 41) dimaksudkan suatu kewaspadaan yang lebih positif daripada hanya tidak tidur pada saat itu.
Tidak tahu pada hari mana … pencuri akan datang (ay. 42-43):  Kedatangan Tuhan sering dibandingkan dengan pembobolan rumah oleh pencuri yang tentu saja tidak membuat janji waktu terlebih dahulu, peristiwa terjadi secara tidak terduga. Yang diibaratkan di sini ialah kedatangan Tuhan yang saatnya justru tidak diketahui. Karena itu kesimpulannya murid harus berjaga-jaga dan siap sedia terus menerus.

Amanat    
Bencana yang dahsyat seperti datangnya banjir, meletusnya gunung berapi,  datangnya tak terduga-duga. Orang tahu ada sesuatu yang mengancam, tetapi selalu dikatakan: “Dalam waktu dekat belum akan terjadi”. Orang takut memikirkan kejadian yang dahsyat, maka datangnya selalu dirasa sebagai tiba-tiba dan ngeri! Orang terus mau rutin, hidup biasa-biasa saja. Tetapi hari perhitungan, penghakiman Tuhan, akhirnya datang juga.
Pada saat kedatangan Tuhan itu kebahagiaan atau kecelakaan manusia ditentukan untuk selamanya, maka orang didesak untuk selalu waspada, siap sedia. Kedatangan Tuhan yang begitu penting itu tak mungkin diketahui saatnya. Maka tidak cukuplah siap siaga sewaktu-waktu saja, tetapi diperlukan sikap waspada dan siap sedia yang terus menerus dan tidak lengah. Sikap berjaga-jaga dan siap sedia yang diperintahkan Tuhan dapat ditemukan dalam beberapa perumpamaan yang menyusul: melayani kebutuhan sesama, khususnya mereka yang terkecil, hina dan miskin (25:40), bekerja dengan karunia-karunia yang diberikan Tuhan sehingga membawa hasil bagiNya (25:16-20), memperlengkapi diri untuk dapat menyambut Tuhan kapan pun (25:4). Dan bacaan II (Rm 13:11-14) pun mengajak kita untuk bangun  dari tidur, yang diartikan sebagai hal menanggalkan perbuatan kegelapan (pesta pora, kemabukan, percabulan, hawa nafsu, perselisihan dan iri hati) dan mengenakan perlengkapan senjata terang, atau mengenakan Tuhan Yesus Kristus. (Stefan Surya)

Seputar Paroki 1

REKOLEKSI LEKTOR-LEKTRIS St. FRANSISKUS 
@ Villa The Gadog 88
18-19 SEPTEMBER 2010

Sabtu dan Minggu, 18-19 September 2010 Lektor-Lektris St.Fransiskus Asisi mengadakan kegiatan berupa rekoleksi lektor di Perkemahan Villa The Gadog 88. Pukul 12.00, peserta mulai berdatangan dan berkumpul di depan gereja St. Fransiskus Assisi Sukasari. Sebelum berangkat kami para lektor dan lektris berfoto bersama di depan gereja dengan didampingi oleh Rm. Eeng. Setelah selesai berfoto, Rm Garbito memimpin doa agar perjalanan dan seluruh rangkaian kegiatan kami disertai olehNya dan dapat berjalan dengan lancar. Sekitar pk 12.30 kami berangkat dengan menggunakan 3 kendaraan pribadi milik Tante Monik, Tante Yuli dan Tante Yani. Rekoleksi para lektor ini didampingi pula oleh Sie. Liturgi Paroki (Ibu Giacinta Tanti Yulia) serta pelatih lektor (Bp. Simon Mauritz).

Kira-kira pk. 13.40, kami tiba di Perkemahan Villa The Gadog 88. Berhubung kami semua tiba di Villa The Gadog 88 lebih cepat dari waktu yang ditentukan, maka kami memulai rekoleksi ini dengan acara briefing. Sebelumnya kami diminta menaruh perlengkapan dan barang-barang yang kami bawa di depan aula. Acara briefing ini dilaksanakan di aula yang sederhana dimana kami diberi pengarahan tentang acara rekoleksi, tata tertib, kontak kerja serta juga serah terima secara simbolis dari Ibu Monika Kusjanti selaku Pembina Lektor kepada Bapak Frans Lim dan rekan yang akan memberikan rekoleksi. Acara rekoleksi lektor ini dipimpin langsung oleh Pak Frans dan rekan rekan yang terdiri atas Pak Frans Lim, Pak Nick, Pak Hardjono dan Ibu Lusia. Saat acara briefing ini kami diperkenalkan dan belajar tentang lagu yang berjudul “Chiki Chaka”.
Kemudian setelah itu kami dibagi ke dalam tenda tenda dimana setiap tenda diberi nama sesuai Kitab Suci seperti Amsal, Mazmur, Keluaran, Kidung Agung. Kami diberi waktu istirahat hanya 15 menit saja lalu kemudian kami berkumpul kembali di aula untuk memulai games kebersamaan. Pada games ini kami dibagi menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok mengganti nama nama arah menggunakan nama nama yang terdapat di dalam Alkitab. Adapun nama nama tersebut digunakan sebagai penunjuk jalan untuk mencari harta karun yang ada di luar villa. Kami pun bermain sesuai dengan kelompok yang telah dibagi. Setiap ketua kelompok diberikan sebuah peta kecil oleh Pak Frans dimana disitulah letak harta karun yang harus kami semua cari. Setelah masing masing ketua kelompok mengetahui tempat harta karun tersebut, maka para anggota kelompoknya ditutup matanya dan membentuk satu barisan dimana kami harus mendengarkan aba aba dari ketua kelompok untuk menuju ke tempat harta karun tersebut.
Permainan ini membutuhkan kerja sama, rasa saling percaya, kesabaran, dan kekompakan. Setelah semua kelompok mendapatkan harta karunnya maka kami semua berkumpul kembali di depan aula dan melanjutkan dengan games “Jembatan Madura”. Games kali ini dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri atas kelompok 1 dan 2 sedangkan kelompok kedua terdiri atas kelompok 3 dan 4. Masing masing kelompok berdiri di atas bambu panjang dan Pak Nick mengomando games ini. Dalam games ini peserta tidak boleh sampai jatuh dari bambu. Games ini menyuruh masing masing kelompok untuk meng-urutkan berdasarkan tinggi badan, tanggal ulang tahun dan sudah berapa lama menjadi lektor. Kekompakan, perjuangan, dan kerja sama semakin menjadikan kami untuk menyelesaikan games kali ini. Tapi apa daya walaupun sudah berusaha tapi tetap saja ada yang tidak bisa mencapai kemenangan.
Kelompok ataupun personal yang kalah mendapat hukuman dengan dicoret lipstik oleh Ibu Lucia. Acara games kemudian ditutup dengan snack sore. Acara snack selesai langsung dilanjutkan dengan mandi sore dan urusan pribadi. 
Setelah itu pada pukul 17.00, kami semua kembali berkumpul di aula untuk memainkan sebuah games dimana pada games ini kami masing masing diberi 3 kertas yang berwarna hijau, ungu dan biru sebagai modal. Masing masing peserta bermain dan yang mengumpulkan kertas terbanyak, akan keluar sebagai pemenang.
Games ini tidak memakan banyak waktu. Ketika Pak Frans menyatakan waktu habis, maka terbagi dalam 4 kelompok. Kelompok pertama yang memiliki lebih dari 4 kertas = dianggap sebagai lektor yang maju, kelompok kedua yang memiliki 3 kertas (sama dengan modal awal) = dianggap sebagai lektor yang tetap. Kelompok ketiga yang memiliki 2 atau 1 kertas = dianggap sebagai lektor yang mundur. Dan kelompok terakhir yang tak memiliki 1 kertas pun dianggap sebagai kelompok yang bangkrut.
Dari permainan ini dapat disimpulkan bahwa dalam lektor ada 4 kelompok yakni :
1. Kelompok maju = lektor yang mau berusaha dan terus berusaha untuk memperbaiki diri menjadi yang lebih baik lagi.
2. Kelompok tetap = lektor yang dari waktu pertama menjadi lektor hingga sekarang hanya itu itu saja, tidak mundur, tidak maju, tetap di tempat.
3. Kelompok mundur = lektor yang mengalami kemunduran dan tidak mau berusaha untuk menjadi maju.
4. Kelompok bangkrut = lektor yang mengalami kemunduran terus dan tidak berusaha untuk bangkit untuk menjadi yang lebih baik.
Inti dari permainan ini adalah harus menjadi kelompok yang maju dengan cara berusaha dan terus berusaha untuk memperbaiki diri dan menjadi lektor yang lebih baik lagi dari hari ke hari.
Acara games selesai, sebelum memulai session I dan kerja kelompok, masing masing kelompok membuat yel yel yang lucu dan menarik. Kreativitas, tukar menukar pikiran, kebersamaan semakin mengakrabkan kami. Session I ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama secara berkelompok (sesuai kelompok kerja) membahas dan menguraikan dari tiap tiap bab yang ada. Session pertama ini diselingi dengan makan malam pada pukul 19.00. Setelah makan malam dilanjutkan dengan pembahasan dari setiap kelompok. 
Tak terasa waktu menunjukkan hampir pukul 21.00 maka kami mengakhiri session pertama ini dan melanjutkan dengan acara api unggun. Kami duduk berkumpul bersama di tengah lapangan rumput ditemani hangatnya api unggun. Acara api unggun dibuka dengan harapan dari Ibu Monika Kusjanti selaku pembina lektor yang diteruskan oleh Cynthia Mexsura selaku ketua lektor. Penyalaan api unggun oleh Ibu Giacinta Tanti Yulia selaku seksi liturgi paroki. Kemudian kami berdiri bersama untuk membacakan janji lektor. 
Setelah pembacaan janji lektor, kami pun menyantap jagung bakar yang sudah disediakan. Sambil menyantap jagung bakar, kami kembali bermain. Permainan kali ini membagi peserta menjadi 2 kelompok dan masing masing kelompok saling berlomba untuk bisa menjawab dari pertanyaan dalam versi lagu “Sedang Apa”. Setelah games ini selesai, kembali kami ber-kumpul bersama dengan kelompok kerja kami masing masing dan menampilkan yel yel dari masing masing kelompok. Untuk kali ini yel yel yang ditampilkan akan diberi nilai dari kelompok yang lain. Demikian juga Ibu Yuli, Pak Frans, Pak Nick, Pak Hardjono dan Ibu Lusia selaku dewan juri memberikan nilai juga. Ada yang bernyanyi “Geregetan” dari kelompok 4, mengundang tawa kami semua karena salah satu dari anggota kelompok tersebut (Donny) menampilkannya dengan gaya yang lucu … Uhhhh… Jadi Gregetan, kami melihat gerakannya…… ^_^
Setelah semua kelompok menampilkan yel-yel dan dinilai maka keluarlah kelompok 4 sebagai pemenang. Congratz buat kelompok 4..!! Setelah itu masih ada kuis kitab suci yang dibawakan oleh Pak Nick. Dimana Pak Nick memperagakan gaya dan watak tokoh tokoh dalam alkitab dan setiap kelompok harus menebaknya. Kuis kitab suci ini dimenangkan oleh kelompok 1. Dan kelompok yang kalah yakni kelompok 4 mendapatkan hukuman dengan membersihkan kamar mandi atau WC tapi pada kenyataannya itu tak terlaksana.
Acara api unggun selesai pada pukul 23.15, lalu kami kembali disuguhi dengan snack malam berupa tekwan. Menyantap tekwan yang hangat di tengah dinginnya udara malam di Gadog.. Hmmm… Nikmat…. Karena sudah larut malam, kami semua beranjak ke tenda masing masing, menutup rangkaian acara malam pertama rekoleksi ini dengan istirahat malam. Gud nite all.. Zzzzzz…..
19 September 2010 pagi yang cerah dan sejuk ini dibuka dengan berkumpul bersama di halaman depan aula untuk olahraga pagi dipimpin oleh Pak Nick. Walaupun masih terasa mengantuk dan dinginnya udara pagi tapi kami tetap semangat dan gembira… Setelah itu kami duduk bersama secara berkelompok dan mulai membaca ayat yang disuruh setiap kelompok. Ayat tersebut dibaca, didalami dan dimengerti barulah satu persatu anggota kelompok membacakan ayat tersebut dengan suara keras seakan-akan pada saat membaca itu tanpa mic dan umat yang hadir adalah ribuan. Setelah masing masing wakil kelompok membacakan maka Pak Simon dan Ibu Monika selaku pelatih lektor memberikan komentar dan masukan. Setelah selesai kami menutupnya dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ibu Yuli sekaligus menjadi doa makan juga. Sarapan…. sarapan…..
Selesai sarapan, kami diajak mengikuti games lagi. Games kali ini tetap menguji kekompakan dan kerja sama di dalam kelompok. Games yang dipandu oleh Pak hardjono ini setiap kelompok diberikan sebuah lilin yang menyala dan lilin tersebut harus dilindungi agar tidak padam. Ternyata ketika kami sedang membawa lilin tersebut, dari sela pepohonan Pak Frans , Ibu Lucia dan Pak Nick menyiramkan air… Ternyata itulah tantangan agar kami dapat tetap menjaga agar lilin tidak padam. Kelompok yang dapat membawa lilin menyala dan berhasil menyalakannya pada obor akan keluar sebagai pemenang. Karena sudah terlanjur basah, akhirnya kami pun saling membanjur. Tak peduli tua muda semua dibanjur. Bahkan Pak Frans, Pak Hardjono, Pak Nick dan Ibu Lucia ikut dibanjur. Sie liturgi mencoba bersembunyi agar tidak dibanjur, akhirnya basah juga.. Satu dibanjur, semua dibanjur, biar kompak…
Setelah itu peserta mandi dan acara pribadi. Lalu kembali berkumpul di aula untuk melanjutkan dengan session II. Session yang dibawakan oleh Pak Frans ini berlangsung dari pukul 10.00 – 11.00. Session II selesai dilanjutkan dengan snack. Rm. Ridwan datang untuk memberikan session terakhir dan mempersembahkan misa penutupan rekoleksi ini. 
Setelah Misa penutup dilanjutkan dengan makan siang bersama. Setelah makan siang kami pun checking tenda, membereskan barang barang dan tentunya berfoto bersama di halaman bersama Pastor Ridwan, Pak Frans, Pak Nick, Pak Hardjono dan Ibu Lucia.
Lalu kami pun berpamitan dengan Pak Frans, Pak Hardjono, Pak Nick dan Ibu Lucia. Pukul 14.25 kami semua sudah tiba kembali di Gereja St. Fransiskus Assisi Sukasari. Acara ini terasa singkat, tapi semoga dapat berarti dan memberi manfaat bagi pengolahan iman para anggota lektor. Ingatlah, kalian semua telah dipilih dan dipanggil dalam tugas pelayanan. Mari kita KOMITMEN pada tugas pelayanan kita dan bersama-sama melayani dengan TULUS..! Saya berharap setelah rekoleksi ini, para lektor-lektris St. Fransiskus Assisi Sukasari akan menjadi lektor sejati… yes yes yes..!
Kami para lektor mengucapkan banyak terima kasih kepada RD. Ignatius Heru W., RD Antonius Garbito P., RD Robertus Eeng Gunawan, RD. J.M. Ridwan Amo, Ibu Tanti Yulia, Pak Frans Lim, Pak Nick, Pak Hardjono, Ibu Lucia, dan semua pihak yang terlibat. Teman-teman lektor, ingat ya… Siapakah saya..??? SAYA LEKTOR SEJATI… Yes.. Yes.. Yes..!!! GBU all… -VCM-

Seputar Paroki 2

HUT ke-47 Paroki St. Fransiskus Assisi Bogor


Menjelang HUT paroki ke-47, yakni jatuh pada tanggal 4 Oktober 2010 (namun dirayakan pada hari Minggu, 3 Oktober 2010), Paroki mengadakan serangkaian kegiatan mulai dari Porseni, lomba quiz Kitab Suci, Lomba baca Kitab Suci, Pemazmur cilik, Mewarnai untuk anak SD dan Playgroup, melukis untuk anak-anak SD kelas 4-6 serta lomba menghias nasi tumpeng antar wilayah dan BAZAAR dan dimeriahkan oleh Barongsai ‘GASI’.
Serangkaian kegiatan tersebut diawali pada tanggal 12 September 2010 yang dibuka secara resmi oleh Pastor Paroki RD. Ignatius Heru Wihardono bersama Romo Eeng dan Panitia (yang dipimpin oleh S. Surya Tjandra dan para peserta) dihadiri oleh para peserta yang mengikuti Porseni berlangsung dengan penuh semangat dan meriah dalam suasana keakraban. Porseni (badminton, basket ball, volley ball, tenis meja, catur, gaple, futsal, dan tarik tambang) dilaksanakan dalam serangkaian perlombaan yang berlangsung dalam beberapa Minggu dan diakhiri dengan final tarik tambang anak-anak, dewasa putra, dan dewasa putri). Perlombaan yang berlangsung setiap Minggu menjelang 3 Oktober 2010, berlangsung sangat meriah dan penuh antusias oleh peserta. 
Akhirnya pada hari H-nya, selepas misa kedua, umat yang selesai misa disambut oleh barongsai ‘GASI’ yang sedari awal telah menanti umat. Umat disuguhkan suatu atraksi seni yang menarik dibimbing ke tempat perayaan HUT Paroki yang telah dipersiapkan yakni di sekolah Mardi Waluya dengan para peserta bazaar yang telah dengan sabar menunggu umat/ pembeli.
Atraksi Barongsai berlangsung dalam beberapa pertunjukkan seni yang begitu istimewa. Selepas atraksi barongsai, Pastor Paroki memberikan sambutan secara khusus sehubungan dengan Ultah Paroki, dengan pesan semoga persaudaraan ‘Koinonia’ diantara umat gereja khususnya di Paroki ini terjalin dengan baik dan semakin lebih baik dari hari ke hari, yang telah ditugaskan oleh Tuhan Yesus sendiri kepada kita. Perayaan HUT paroki ditandai dengan pengguntingan dan pelepasan Balon Fransiskus, dan dilanjutkan Final Tarik Tambang (anak-anak, Dewasa Putra dan Dewasa Putri) yang berlangsung dengan sangat menarik dan heboh. Uniknya semua kelas tarik tambang dimenangkan oleh peserta dari Wilayah St. Maria Fatima Bondongan. Kemudian acara dilanjutkan dengan acara spontan yang dikemas oleh Sdr. Ignatius Djati, serta pengumuman pemenang menghias nasi Tumpeng yakni wilayah dari St. Stefanus Cipaku dan pemotongan nasi tumpeng sebagai wujud syukur umat paroki. Pemotongan dilakukan oleh Bpk Herman mewakili wilayah Stefanus Cipaku dan diberikan kepada Pastor Paroki disaksikan oleh wakil DPP Harian Bpk T Suyitno serta Ketua Panitia S Surya Tjandra. 
Acara dilanjutkan dengan doa makan bersama dan umat dengan antusias menyantap makanan yang telah dipersiapkan oleh panitia melalui wilayah-wilayah yang ada di Paroki. Diselingi dengan pembagian hadiah kepada para pemenang baik anak-anak maupun dewasa. Akhirnya wilayah St. Antonius Tajur berhasil keluar sebagai juara umum (piala bergilir) dan sebagai wilayah peserta favorit (mengikuti seluruh cabang perlombaan dan dengan antusiasme peserta serta supporter) hinggap pada wilayah St. Maria Fatima. HUT Paroki berlangsung dengan suasana kebersamaan (yang telah lama hilang) di mana umat setiap wilayah dapat berinteraksi dan bertemu dalam banyak kesempatan dan lebih dekat. 
Tak lupa panitia mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat yang telah mewakili wilayahnya, Para Ketua Wilayah dan para pengurusnya, kepada seluruh peserta yang mengikuti perayaan HUT Paroki mulai dari awal hingga akhir, sehingga dengan persauda-raan Fransiskus di tengah umat berlangsung dengan sangat meriah dan penuh keakraban. Terima kasih secara khusus kami sampaikan kepada Bpk Agus Sukeria (atas dokumentasinya), Bpk Sukotjo, Bpk Sardjono yang tak kenal lelah mengkoordinir perlombaan, dan semua panitia yang telah telah terlibat sehingga perayaan HUT ke-47 Paroki St. Fransiskus Assisi Bogor dapat berlangsung dengan suasana kebersamaan dan meriah. Sampai jumpa tahun depan. Proficiat! (Panitia HUT Paroki)

Seputar Paroki 3

PARTISIPASI BIA PADA HUT PAROKI

BIA : Lomba Menggambar

Meriah. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana perayaan ulang tahun ke 47, Paroki St. Fransiskus Asisi. Aneka kegiatan digelar jauh sebelum puncak perayaannya tanggal 3 Oktober 2010. Seluruh umat tampak antusias berpartisipasi, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Seperti tak ingin ketinggalan, anak-anak BIA pun mengikuti serangkaian lomba yang diadakan oleh panitia. Tiap lomba dikategorikan berdasarkan kelompok umur. Untuk anak TK hingga SD kelas 2, diadakan lomba mewarnai gambar. Anak kelas 3 hingga 6 SD dapat mengikuti lomba menggambar, kuis kitab suci, membaca kitab suci dan menyanyikan mazmur. Pada hari yang telah ditentukan, semua anak yang mengikuti lomba berkumpul di lapangan basket sekolah Mardi Yuana. Acara dibuka dengan doa dan sedikit kata sambutan yang disampaikan langsung oleh pastor paroki, RD Heru Wihardono. Dalam sambutan singkatnya, Romo Heru demikian beliau biasa disapa berpesan agar anak-anak mau meneladan hidup Santo Fransiskus Asisi. Santo Fransiskus seorang yang sederhana, mencintai lingkungan hidup dan yang paling utama, dia sangat mencintai Tuhan Yesus dengan sepenuh hatinya. Walaupun Santo Fransiskus berasal dari keluarga kaya, namun dia rela meninggalkan semua harta bendanya untuk mengikuti panggilan Tuhan menjadi pewarta kasih Kristus.
Lomba diadakan secara serentak, menggunakan ruangan kelas SMP dan aula. Semua peserta terlihat bersemangat dan tampil semaksimal mungkin agar bisa keluar sebagai juara. Setelah melewati proses seleksi yang agak sulit, akhirnya panitia berhasil menetapkan pemenang dari tiap kategori lomba. Dari lomba mewarnai gambar, keluar sebagai juara adalah Lucia Setiadi (juara 1, kategori A, wilayah Bondongan),Vinicia Joan D (juara2, kategori A, wilayah siliwangi 1), Rian Dwiaditia (juara 3, kategori A, wilayah Tajur). Dari kategori B lomba mewarnai, pemenangnya adalah: Karina (juara 1, wilayah Tajur), Listia (juara 2, wilayah Tajur), Olivia (juara 3, wilayah Suryakencana). Pemenang lomba menggambar: Chyntiadiani (juara 1), Anastasi Meylinda (juara 2) dan Monica Handajani (juara 3) semuanya dari wilayah Tajur. Untuk kelompok kelas 3 hingga 6 SD, panitia hanya menetapkan satu juara dari tiap jenis lomba. Lomba membaca kitab suci dimenangkan oleh Yohanes Aryo (wilayah Tajur), lomba pemazmur Tania (Cipaku) dan dari lomba kuis kitab suci, keluar sebagai juara adalah wilayah Siliwangi 1 yang diwakili oleh Jeremy, Helena dan Lily.
Semua pemenang memperoleh piala dan hadiah yang dibagikan saat penutupan rangkaian acara HUT Paroki.  Selamat kepada semua pemenang, semoga menjadi semangat untuk meraih yang lebih baik lagi dikesempatan mendatang. (vie)

Seputar Paroki 4

Serba-serbi dari Rapat Kerja Wilayah 2010-2011
“Komunitas Sehat-Komunitas yang menyapa”

Setiap tahun, Wilayah telah mengagendakan Evaluasi Kerja para Pengurus Dewan Pleno Wilayah, dengan penekanan pada tema-tema yang diambil untuk peningkatan kinerja para pengurus dalam melayani umat, sesuai dengan tugas dan perutusan yang diberikan pihak Gereja melalui Paroki setempat. Laporan hasil kerja disajikan dalam 2 bagian yakni dalam bentuk kronologis yang dimuat dalam bulletin bulan ini serta bagian dalam bentuk program kerja yang akan dimulat pada bulletin edisi bulan Oktober 2010.

Dalam masa bakti Pengurus Wilayah periode 2009-2012 ini, maka tema tahunan Program Kerja Wilayah, sbb:
2009-2010 : Pemberdayaan-Persaudaraan dalam Komunitas
2010-2011 : Komunitas Sehat-Komunitas yang menyapa
2011-2012 : Komunitas Basis yang lebih kuat dan lebih mandiri
Pada rapat kerja tahun ini, maka Pengurus Wilayah mengambil tema Komunitas Sehat-Komunitas yang menyapa.
Rapat Kerja dibuka dengan doa oleh bapak H. Anton Rubana, diisi secara singkat tentang agenda rapat kerja oleh Ketua Wilayah. Beberapa saat kemudian Romo Wilayah berkenan hadir dan mengupas tentang komunitas dengan pembahasan mendalam tentang komunitas basis. 
Raker diteruskan dengan pembahasan tentang komunitas dengan lebih intens yang dibawakan oleh Ketua Wilayah. Kemudian evaluasi kerja kegiatan setiap Lingkungan yang dibawakan oleh masing-masing Ketua Lingkungan, serta disampaikan pula tentang program kerja-program kerja setiap Lingkungan.
Dalam raker ini juga dilakukan pemetaan ulang wilayah dari setiap lingkungan, sehingga diharapkan lingkungan semakin lebih berkembang. Pada saat ini jumlah lingkungan sebanyak 6 akan segera dimekarkan menjadi 8 lingkungan. lingkungan 1 St. Caecilia bertambah jumlah rukunnya menjadi 4, sehingga setiap lingkungan mempunyai jumlah KK berkisar dari 40 hingga 60 KK. 
Hasil pemetaan ini menjadi sangat penting, karena lebih memantapkan lingkungan untuk dapat berdaya dan berkembang. 
Pada kesempatan Raker tahun ini, Romo Wilayah, Romo RD. Ignatius Heru Wihardono berkesempatan hadir di awal Raker. Beliau sempat memaparkan pemahaman tentang komunitas khususnya komunitas basis dengan sangat jelas. Beliau juga mengharapkan bahwa perkembangan Paroki dimulai dan didukung dari setiap wilayah yang ada, dan Wilayah St. Maria Fatima Bondongan merupakan salah satu contoh yang cukup serius dalam memulai hal ini. Sebelum beliau pamitan, beberapa interaksi dalam bentuk tanya jawab berlangsung dalam suasana yang menarik dan penuh keakraban. Kemudian raker diteruskan oleh Ketua Wilayah dengan mengingatkan secara khusus, bahwa dalam komunitas selalu terdapat keunikan dan perbedaan-perbedaan pada setiap anggotanya (baik konflik, perbedaan pendapat, dll), yang selalu akan membawa perubahan untuk kemajuan komunitasnya. jadi Komunitas Sehat adalah kumpulan dari para umat dalam terang iman Kristiani sejati, yang siap selalu dalam tugas perutusannya.

Evaluasi dari Lingkungan 1 St. Caecilia
Diwakili oleh Surya Suhendar (salah satu ketua Rukun, yang kini telah diangkat menjadi ketua Lingkungan dengan sekretaris D. Basuki) menceritakan beberapa kemajuan penting dalam pertemuan Lingkungan yang dilaksanakan setiap bulan. Kedepannya lingkungan akan mengaktifkan pertemuan-pertemuan di tingkat rukun, sehingga diharapkan umat lebih tersapa dan proaktif.

Evaluasi Lingkungan 2 St. Antonius, yang dibawakan oleh ketuanya Bp. C Widi Pramono, memberikan kesan bahwa persiapan sangat matang telah mereka persiapkan dalam mengikuti raker tahun ini. Menguraikan jumlah umat di setiap rukun, dan mutasi umat secara keseluruhan, dan memaparkan tentang pelaksanaan kegiatan lingkungannya serta agenda lingkungan 2010-2011 dalam presentasi yang apik, memberikan gambaran bahwa pelayanan yang sungguh-sungguh akan memberikan hasil yang maksimal.

Evaluasi Lingkungan 3 St. Vincentius, dilaporkan oleh ketuanya Ibu Febrina Felisia Siok. Agenda Lingkungan 3 selama ini telah berjalan dengan baik walaupun masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu untuk dibenahi, namun secara keseluruhan evaluasi kegiatan lingkungan 3 berjalan dengan sangat baik, juga penuh persiapan. 

Evaluasi Lingkungan 4, St. Theresia
Presentasi disampaikan oleh Sdr. Sambi. Dipaparkan bahwa kegiatan lingkungan 4 secara umum juga telah berjalan dengan baik, walaupun kegiatan rukun di Purimas masih sedikit tertinggal dibandingkan dengan rukun yang ada di lingkungan 4 lainnya. Mudah-mudahan ini hanya disebabkan oleh kendala informasi/komunikasi yang belum efektif.

Evaluasi Lingkungan 5, St. Silvester
Lingkungan yang merupakan salah satu rukun termuda dari semua lingkungan yang ada, berusaha untuk bangkit melakukan kegiatan-kegiatan, sharing maupun, ibadat/ doa/ misa ditengah kesibukan umat sehari-hari yang cukup heterogen. Perkumpulan Ibu-ibu bernama St. Monica secara teratur berkumpul melaksanakan kegiatan mingguan. Umat Lingkungan dengan usaha extra dicoba dipertemukan pada saat ibadat atau misa baik ibadat/ misa pemberkatan/arwah/syukuran dll, yang diupayakan 1 bulan sekali. Pertemuan rukun pada saat ini akan diusahakan agar komunitas basis secara sungguh-sungguh dapat terlaksana dengan baik.

Evaluasi Lingkungan 6, St. Stephanus
Lingkungan yang dikomandoi Bp. V. Djoni Wijaya ini, memaparkan kinerja lingkungannya melalui presentasi yang cukup apik. Disadari bahwa masih terdapat beberapa kendala untuk memulai pertemuan di tingkat rukun, namun secara keseluruhan agenda pelayanan dapat diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik.
Secara keseluruhan, bahwa setiap Lingkungan telah merasa percaya diri untuk bangkit mewujudkan komunitas yang lebih berdaya dan penuh persaudaraan. 
Pada Raker ini pula, sesuai dengan panduan dari Buku Pedoman Kumpulan Beberapa Statuta Keuskupan Sufragan Bogor (yang disahkan oleh Uskup Bogor pada 18 Maret 2008) dan Anggaran Rumah Tangga Wilayah St. Maria Fatiima Bondongan Bogor, maka setiap lingkungan dibebankan dengan Kepala Keluarga (KK) berjumlah 40 hingga 60 KK. Maka Lingkungan 1 yang sebelumnya hanya berjumlah 36 KK mendapat tambahan 1 rukun, Lingkungan 3 dipecah menjadi 2 Lingkungan (Total ada 87 KK) dan Lingkungan 5 dimekarkan menjadi 2 Lingkungan (Total ada 70 KK). Secara umum Wilayah St. Maria Fatima Bondongan dimekarkan menjadi 8 Lingkungan.
Raker dilanjutkan dengan evaluasi kegiatan Wilayah dan diselingi dengan misa Sabtu sore yang dibawakan oleh RD. Garbito, dengan intensi khusus agar WilBond dalam Raker 2010 ini dapat menghasilkan program kerja yang membawa berkat dan rahmat bagi umatnya, dengan pelayanan yang tiada henti dari para pengurusnya. 
Setelah misa diikuti dengan makan malam bersama antara pengurus dan para anggota TTK dan koor wilayah, yang berlangsung dengan suasana keluargaan. Pada penghujung Raker, para Ketua Lingkungan dan Seksi-seksi memimpin rapat kerja penyusunan program kerja wilayah periode 2010-2011.
Beberapa hasil keputusan penting dari Raker WilBond 2010, adalah sebagai berikut: 
1. Pemekaran Lingkungan, dengan jumlah KK yang ideal per Lingkungan (berkisar antara 40-60 KK), sehingga setiap Rukun dapat menjalankan kegiatan/ pelayanannya dengan lebih optimal dalam rangka mewujudkan komunitas sehat yang menyapa, yang pada akhirnya bermuara pada komunitas basis yang kuat dan mandiri.
2. Program kerja di tingkat wilayah sesuai dengan bobotnya akan dikoordinir dan dikelola secara kolektif oleh beberapa lingkungan, sehingga wilayah menjadi lebih mandiri sesuai dengan hasil pemberdayaan komunitas yang telah dijalankan.
3. Novena St. Maria Fatima, yang diusahakan dilaksanakan mulai tanggal 13 Oktober 2011 ini (menjadi pertimbangan untuk dipantau dulu ibadat Rosario setiap tanggal 13 selama tahun 2010-2011, baru diputuskan untuk menjalankan Novena!).
4. Wilayah sebagai bagian dari komponen penting penyokong Paroki, turut serta secara aktif mendukung kegiatan Paroki dalam tugas perutusannya yakni dalam bidang Koinonia, Liturgiia, Diakonia, Kerygma dan Martyria.
Semoga dari semangat para pengurus mengikuti Raker dalam mewujudkan komunitas sehat yang menyapa, baik dalam bentuk program-program kerja yang dihasilkan maupun proses pemberdayaan yang terjadi dalam komunitas, akan semakin memantapkan diri para pengurus untuk mampu dan percaya diri menjadi ujung tombak Gereja dalam melayani umat tanpa lelah. Proficiat! (swara WilBond)

Renungan 1

BEGITU MAHAL CINTANYA

Kala itu aku merasa kalau aku ini seorang mahasiswa yang cukup beruntung di kampus tempat aku masih berkuliah, IKIP Sanata Dharma Yogyakarta, karena aku mendapatkan dispensasi tiga semester masa cuti kuliah dari dua semester yang seharusnya. Aku harus menjalani terapi psikiatri karena penyakit syaraf setelah selesai menempuh semester enam, di jurusanku Fakultas Pendidikan Bahasa Inggris. Dokter pribadiku telah mengevaluasi kasus penyakitku sehingga aku tak mungkin dapat pulang dan pergi ke Yogya secepatnya dan surat ijin dokter yang merawatku telah kuberikan pada baik Dekan, Ketua Jurusan Fakultas juga Pembantu Rektor III Bidang Kemahasiswaan, agar yang berkepentingan dapat maklum.

Pada tahun itu aku masih berpacaran dengan seorang mahasiswi jurusan Sejarah. Kukatakan pada dia sebelum aku pulang kembali ke Bogor, “Nan,... aku harus menjalani perawatan dokter di Jakarta,... dan kamu baik-baik saja ya,” pintaku, “jangan pikirkan aku yang begini, aku pergi hanya sebentar dan sementara.”
Wajah kekasihku, Nani kemudian memerah. Kesedihannya karena akan kutinggal pergi pulang ke Bogor lalu disusul dengan hamburan titik-titik air mata yang mulai mengalir ke pipinya dan dia memelukku, “Ipung, aku... sayang kamu,” katanya sedih, “cepat sembuh dan cepat kembali,” katanya masih memelukku.
Selain sakit aku pun mengeluh pada Nani di taman depan hall kampus mengungkapkan banyak hal tentang hubunganku dengan dia yang sering menjadi masalah bagi teman-teman puteriku di jurusan lain, sehingga aku tak sepenuhnya dapat berkonsenterasi pada banyak mata kuliah yang harus kuhadapi.
Kini romansa dan nuansa masa lalu juga mempengaruhi hidupku dan kupikir walau itu hanya sementara, kepergian seseorang yang dicintai kerap juga mengganggu emosi. Yang ketika itu bahagia, kini berganti dengan kesedihan yang menghantuinya, dan yang ketika itu gembira, kini isak haru pun mulai terdengar. Sehingga dengan berat hati waktu itu aku harus meninggalkan kota Yogya, kampusku tercinta Sanata Dharma, meninggalkan Nani.
Sebelum Tuhan kembali ke tempat Bapa, Yesus telah berpesan banyak pada para rasulNya. Pesan-pesan kesedihan bagi murid-muridNya dicatat dalam InjilNya dan tersurat bagi kita agar kepergianNya yang sementara juga memiliki tujuan mulia, supaya kita dapat selalu bersamaNya selamanya. Sehingga kita tak perlu menjadi gusar dan lama bersedih hati se-peninggalNya.
Cinta dan kasih pada seseorang adalah ungkapan hati. Cinta atau kasih pada seseorang membuat kita bahagia, sekaligus dapat membuat kita sedih. Yesus, Tuhan telah banyak berbuat bagi kita karena Dia adalah Firman yang hidup, walau sering kita merasa tak layak untuk dicintaiNya. Ungkapan kasih Allah pada manusia tergambar jelas dan telah dimanifestasikanNya dalam hidupNya bersama para rasul dan kita umatNya. Dari kelahiranNya di kandang domba hingga kematianNya yang mengerikan di kayu salib Golgota menjadi tanda bagi kita yang telah diselamatkan dari belenggu dosa yang kejam.
Sekarang, apa mau kita yang sesungguhnya, untuk kita dapat membalas Kasih? Cuma doa pujian dan rasa syukurlah yang harus dapat kita haturkan di setiap waktu kita kepada Allah, bahwa kita tak dapat sendiri melakukan setiap kewajiban kita dalam karya kecil di bumi ini, bagi sesama. Kita membutuhkan Dia di setiap waktu kita dalam kasih Roh KudusNya.
Karena hanya melalui Yesus, Tuhan, Bapa akan dengan hangat membalas dan juga menjawab doa-doa kita, jika kita juga mengakui sebagai dombaNya. Jadi peliharalah cinta atau kasih bahagia kita karena Tuhan bagi sesama dan juga jangan lalaikan perintahNya, teguranNya, sapaanNya yang menyejukkan itu.
Bagi kita, cinta Yesus pada kita adalah yang termahal, karena untuk itu Ia rela mati bagi kita umat yang telah dipilihNya. Ada syair lagu, “Bukan dengan emas perak Engkau telah menebusku dari hutang dosa, tetapi hanya karena wafatMu.”
Begitu mahalNya dia sang Pencipta hidup itu dan pasti kita tak mampu membayarnya. Isyarat bagi kita agar kita harus lebih tekun untuk kembali memutar memori kita akan Dia dalam kita mendengar Firman-firman InjilNya, sehingga kepergianNya dan kematianNya tidak menjadi sia-sia.
Dan jika ada orang yang harus membenci kita dalam Dia dan karena Dia kita harus berpegang teguh akan ujaranNya agar kita pun tak lagi membenci, orang-orang seperti kita yang dibenci banyak pihak haruslah sadar, bahwa Dia sudah terlebih dulu banyak dibenci. Usaha kita hanyalah berdoa pada Tuhan. Sekali lagi, berdoa padaNya untuk dipersembahkan pada si pembenci supaya kemuliaan Tuhan karena doa kita dapat terus bersinar di setiap hati orang-orang yang mengasihi Tuhan, untuk memadamkan kegelapan hati orang yang tega membenci kita. Karena di situ ada cinta, di situ pula ada membenci. (IPUNG)