Senin, 09 April 2012

Informasi

Mohon maaf karena blog ini belum sempat di update kembali.

Rabu, 29 Februari 2012

Cover Depan Edisi Februari 2012


Redaksi Menulis


Perayaan Rabu Abu, yang jatuh pada tanggal 22 Februari 2012 bagi umat Katolik baik anak-anak, remaja maupun dewasa merupakan saat untuk  memulai masa prapaskah, masa yang diawali dengan misa Rabu Abu. Pemberkatan abu dan pemberian abu pada dahi sebagai tanda manusia berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu , merupakan awal memasuki retret agung selama 40 hari. Selama masa itu  kita diajak untuk hidup menurut firman Tuhan, tidak hanya dalam kata-kata tapi dalam tindakan nyata dalam hidup sehari-hari. 
Kita diajak untuk merefleksikan hidup ini, hidup menurut kehendak Tuhan. Karena kelemahan-kelemahan kita, hati kita sudah terkoyak maka kita diajak untuk memperbaiki hidup kita, berbalik kepada Allah. Dengan tekun menjalankan 3 kewajiban keagamaan kita secara tulus dengan hati yang murni dalam bersedekah / berderma, berdoa dan berpuasa.
Marilah kita mengisi masa prapaskah ini dengan niat yang tulus, rendah hati agar kita layak menyambut Tuhan Yesus yang sengsara, wafat dan bangkit demi karya penebusan umat manusia. 

Sajian Utama


Puasa  Dan  Tobat  Untuk  Meninggalkan  Dosa Dan  Kesia-siaan  Dunia

Hidup utuh itu dimulai dengan pertobatan, di mana manusia meninggalkan kesia-siaan dan berpaling kepada Tuhan dan kebenaran Injil. Pengusiran setan berjalan, kalau semua unsur pengaruh roh jahat, kedosaan takhayul unsur-unsur kedagingan semakin mundur dan lenyap dari tata hidup dan tata budaya masyarakat. Tuhan menginginkan kepulihan manusia dengan penginjilanNya: badan dan jiwa. Pertobatan tidak pernah berhenti, dan meningkat terus dari waktu ke waktu, menjadi ketergantungan sampai seluruhnya digulung dan diarahkan kepada Yesus.
Orang yang sudah bertobat, sudah mati terhadap dosa dan unsur-unsur dunia ini, seluruh hidup dan pandangannya diarahkan kepada Kristus bangkit, ke tempat, di mana Ia ada dan meraja. Orang bertobat harus bertahan dalam hidup baru, melawan godaan hidup lama yang membujuk lewat dunia dengan segala kenikmatan semu dan kebiasaan manusia sekitar. Orang yang masih terikat dengan bujukan dunia, yang masih menganut semacam “kebatinan” dengan kekuatan gaib dan penyembahan roh-roh halus, yang disamakan dengan malaikat, maka paham ini menyuramkan iman yang benar, mengurangi atau mengaburkan peranan Kristus; arti kemanusiaan Kristus, yang berperan dalam penderitaan dan penebusan dari dosa, tidak dimengerti: seakan-akan Kristus dengan mengambil tubuh manusia menjadi rendah, kurang mulia dari roh halus.  Arti  penderitaan dalam  tubuh untuk menebus dosa tidak    dimengerti. Kerap orang sudah mengenakan agama Kristen, tetapi pahamnya masih tercampur, dan arah hidup tidak ditentukan oleh ajaran Kristus yang benar, tanpa ilmu-ilmu gaib yang sia-sia belaka.
Ada pertobatan yang disertai dengan puasa atau matiraga dan ini mengacu pada apa yang dikatakan oleh Santo Paulus:  “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” (Kol 3:5-10).
Tujuan puasa dan tobat ialah “membunuh” manusia lama yang tunduk pada daging dan setan serta menghidupkan manusia baru yang cinta dan taat pada Tuhan. Perasaan hati yang timbul karena cinta dan taat kepada Tuhan merupakan tobat sempurna, dan ini sudah dapat mengampuni dosa dengan sendirinya.
Tobat tidak sempurna adalah tobat yang timbul dari rasa takut akan hukuman. Hukuman ini tidak hanya merupakan hukuman dengan api atau kegelisahan suara hati, tetapi juga karena kita dipisahkan dari Tuhan, puncak kebahagiaan kita. Jadi dalam tobat tidak sempurna termasuk juga cinta kepada Tuhan dan keinginan berkumpul dengan Tuhan, meskipun cinta ini lebih bersifat cari untung, sedangkan cinta dalam tobat sempurna lebih merupakan cinta yang tidak mencari untung. Di sini pertama-tama yang dicari adalah keluhuran Tuhan.
Tobat yang hanya timbul karena takut merasakan sakit, sehingga dosa tidak dihindari jika tidak akan dirasakan sakit, maka tobat itu tidak akan berguna bagi manusia, karena tobat itu tidak ada hubungannya lagi dengan Tuhan. 

(Stefan Surya)

Seputar Paroki 1


Koor St. Theresia (Wilayah St. Michael) Merayakan Imlek

oor St. Theresia (wilayah Siliwangi Dua) pada hari Selasa, 24 Januari 2012 merayakan Imlek, setelah selesai latihan koor. Mereka tampak ceria dengan baju merah yang dikenakan, sebagai ciri khas perayaan Imlek. Wah, malam itu koor St. Theresia santap bersama. Suasana sangat akrab.
Latihan koor secara rutin diadakan di rumah kediaman Bp./Ibu Umar Sodho (senior koor Sildu). Pelatihnya Pak Agus Triyono. Anggotanya kebanyakan sudah tua. Lebih banyak ibunya dari pada bapaknya. Adapun anggota koor St. Theresia : Bp./Ibu Umar Sodho, Bp. James Winerungan, Bp. Purwanto, Bp. Sutiawan, Bp. Rudi, Ibu Merry S., Ibu Metty, Ibu Melly, Ibu Iskandar, Ibu Lahallo, Ibu Kapoh, Ibu Dipo, Ibu Tati, Gema (anggota termuda), Ibu Merry Robert, Ibu Sianny M., Ibu Sumiati, ibu Lies, Ibu Nana, Ibu Nano, Ibu Merry Tanto, Ibu Evie, Ibu Tantri, Ibu Boyman, Ibu Lana, Ibu Magda, Ibu Theresia, Ibu Yenny, Ibu Ria, Ibu Henny Ibu Rita, Ibu Ita Marlina. Tuhan selalu hadir dalam suasana yang penuh persaudaraan, di setiap tugas-tugas mengiringi perayaan misa atau doa dengan nyanyian puji-pujian, di setiap latihan dan juga setiap acara makan bersama. Tuhan memberkati! (elis)

Seputar Paroki 2


Misa Syukur Pemberkatan Aula St.Michael, Gedung Pastoran, Toko Rohani dan Gedung PSE

"Ecclesia semper reformatio” itulah satu kalimat dalam bahasa Latin yang disampaikan Bapa Uskup Mgr. Cosmas Angkur OFM, dalam homilinya pada saat misa syukur pemberkatan Aula St.Michael, Gedung Pastoran, Toko Rohani dan Gedung Pelayanan sosial dan ekonomi. Gereja adalah persekutuan yang senantiasa memperbaharui diri. Misa pemberkatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Januari 2012, pukul 17.00 WIB, misa dipimpin oleh Bapa Uskup Mgr. Cosmas Angkur, didampingi oleh Pastor Paroki RD. Ignatius Heru Wihardono dan RD. Robertus Eeng Gunawan.
Pembangunan Aula St. Michael, Gedung Pastoran, Toko Rohani dan Gedung Pelayanan Sosial dan Ekonomi di paroki St. Fransiskus Asisi ini adalah merupakan bukti adanya keinginan umat untuk selalu mengadakan pembaharuan. Gedung yang baru milik Paroki St. Fransiskus Asisi ini terdiri dari 4 tingkatan :

1. Lantai paling bawah adalah basement ,yang sekarang berfungsi sebagai tempat parker atau garasi mobil dll
2. Lantai 1 adalah aula St. Michael, yang dipakai untuk pelayanan misa, pertemuan dll.
3. Lantai 2 adalah gedung pastoran tempat para Romo dan Frater istirahat.
4. Lantai paling atas adalah tempat meditasi.

Gedung Pastoran yang baru ini merupakan bentuk kepedulian umat akan pentingnya tempat yang layak untuk karya-karya pastoral. Pembangunan dimulai pada bulan Juni 2010. Biaya pembangunan didapat dari :

- Amplop para donatur
- Kegiatan konser
- Melalui transfer
- Mengadakan kupon berhadiah
- Kas paroki
- Bantuan dari berbagai paroki

Romo paroki mengucapkan banyak terima kasih kepada segenap umat, seluruh panitia pembangunan, dan paroki-paroki lain yang telah membantu. Semoga gedung baru ini bermanfaat sebagai tempat bagi karya-karya pastoral yang lebih memadai. 


(elis)

Sabtu, 25 Februari 2012

Seputar Paroki 3

Misa Malam Natal 2011 dan Tahun Baru 2012
di Kapel St. Maria Fatima Bondongan
(S. Surya Tjandra - Ketua Wilayah Bondongan)

Setiap tahunnya, Wilayah Bondongan (WilBond) secara defacto menjadi panitia Natal dan Tahun Baru di Kapel St. Maria Fatima Bondongan. WilBond telah membentuk panitia yang terdiri dari 4 dari 8 Lingkungan (Lingkungan Ganjil) yang duduk menjadi Panitia Natal 2011 dengan ketua Robertus Rulijadi (Layungsari) dan wakil ketua Bp. Nelson (Purimas) Berbagai persiapan dilakukan dengan baik dan matang agar perayaan Natal dapat berlangsung dengan hening, damai dan penuh sukacita.

Misa Natal dan ramah tamah
Tahun 2011 ini, malam Natal 24 Desember jatuh pada Sabtu, dan misa Malam Natal dimulai pukul 17:00. Persiapan menjelang misa telah dipersiapkan oleh panitia. Mulai dari pemasangan tenda, dekorasi, pemindahan Altar, hingga hiasan dan kandang Natal. Pada tanggal 24 Desember mulai pukul 14:00 mulai turun hujan lebat hingga menjelang 1 jam sebelum misa, sehingga panitia bekerja ekstra keras untuk mengeringkan tempat duduk yang ada. Menjelang pukul 16:00 umat mulai berdatangan dan diperkirakan umat mencapai jumlah 1200 orang pada saat misa berlangsung. Untuk misa Natal tahun ini anak-anak duduk bersama orangtua untuk mengikuti misa, dengan perhatian khusus oleh TTK (menggunakan rambu petunjuk harap tenang) agar suasana keheningan tetap terjaga (pada perayaan Natal sebelumnya diadakan kelas khusus bagi anak-anak). Misa dibawakan oleh RD Triharsono-Rektor Seminari Tinggi St. Petrus-Paulus Bandung, dengan homili bergaya tausiah yang mengingatkan agar umat tetap penuh semangat dalam merayakan Natal dalam artian yang sesungguhnya baik dalam penghayatan maupun ritual tradisi Natal yang syahdu. Bahwa iman Kristiani tak perlu kita ragukan lagi karena Yesus telah diutus oleh BapaNya untuk menyelamatkan umat manusia. Sebelum berkat penutup, Ketua Wilayah Bondongan (S. Surya Tjandra) diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat Natal bagi seluruh umat yang hadir, juga kepada para Imam, Frater dan suster. Ketua Wilayah juga mengucapkan banyak terima kasih kepada panitia Natal 2011 atas pelayanan yang telah dicurahkan agar umat dapat mengikuti misa Malam Natal dengan syahdu. Umat juga diundang untuk ikut ramah tamah sehabis misa, dan tak lupa ucapan terima kasih disampaikan kepada umat dan pengurus Lingkungan yang ada di Wilayah Bondongan atas sumbangsih dan dukungannya pada pelaksanaan acara ramah tamah, kepada Bapak Laurent/ Ibu Yani (atas bantuan bingkisan Natal buat anak-anak), Bp Ignatius Herry Santosa (dukungan persiapan Natal), Bp. Suwandhi/ Ibu Lily (es krimnya yang lezat) dan semua pihak yang telah membantu. 
Selepas misa, acara ramah dilangsungkan dengan ditemani Santa Claus pada saat pembagian bingkisan untuk anak-anak yang hadir. Sungguh suatu kesempatan bagi kita semua untuk meluapkan sukacita yang telah kita terima dengan sesama umat yang hadir, sehingga kabar sukacita yang kita alami sungguh-sungguh tinggal dan hidup dalam diri kita sepanjang masa, dapat menjadi terang dan peduli bagi sesama , sehingga semua orang merasakan kehadiran Allah dan kasihNya yang tak berkesudahan.
Selamat Natal 2011 bagi semua, semoga berkat Tuhan selalu berlimpah bagi kita semua!

Misa Malam Tahun Baru
Tahun ini di Kapel St. Maria Fatima juga diadakan misa akhir Tahun (tutup Tahun) yang dihadiri umat yang cukup banyak. Misa yang dibawakan oleh RD Garbito Pamboaji berlangsung dalam suasana penuh syukur sepanjang tahun yang kita lalui dan penuh harapan dalam meyongsong tahun yang baru. Selepas misa diselingi ibadat arwah di rumah Sdr Sambi, para pengurus WilBond mengadakan pesta syukur tutup tahun dan menyambut Tahun Baru dengan menggelar acara BBQ di aula SD Mardi Waluya yang berlangsung sederhana dan penuh keakraban antara pengurus, baik TTK, Koor, Mudika yang hadir dan dihadiri pula oleh Frater David (terima kasih ya Frater). Menjelang jam 00:00 pergantian tahun, ketua wilayah Bondongan mendapat kado istimewa dari teman-teman pengurus berupa lagu Happy Birthday, karena ybs berulang tahun pada tanggal 1 Januari lalu.

Selamat datang Tahun Baru 2012 semoga pelayanan kita semakin lebih baik lagi! Happy New Year and Happy Birthday. 

Natal 2011 dan Tahun Baru 2012 Wilayah St. Maria Fatima
Seperti biasanya, perayaan Natal dan Tahun Baru di Wilayah Bondongan dilaksanakan pada masing-masing Lingkungan dalam rangka pemberdayaan umat Lingkungan yang berkesinambungan. Untuk tahun ini, perayaan Natal dilaksanakan oleh 3 Lingkungan yang ada di Wilayah Bondongan, yakni Lingkungan 4 St. Laurentia, Lingkungan 7 St. Silvester dan Lingkungan 8 St. Florentinus. Adapun perayaan Natal dan Tahun Baru di setiap Lingkungan tersebut berlangsung unik sesuai dengan ciri khas masing-masing lingkungan yang ada. Padatnya jadwal perayaan Natal dan Tahun Baru di Wilayah Bondongan tersebut, menyulitkan bagi para pengurus Wilayah Bondongan untuk hadir mengikuti perayaan Natal dan Tahun Baru yang dilaksanakan oleh Wilayah yang ada di Paroki. (terima kasih atas undangannya). Mari kita simak perayaan Natal & Tahun Baru Lingkungan di Wilayah Bondongan tersebut!

Natal Lingkungan 4 St. Laurentia Wilayah St. Maria Fatima (WilBond) Bondongan
Lingkungan Laurentia merupakan Lingkungan yang baru berdiri pada bulan November 2010 yang lalu. Menginjak usianya yang masih belia, patut diacungi jempol buat para pengurus dan umatnya, mengapa? Bayangkan dalam waktu 1 tahun, mereka dengan penuh semangat telah merencanakan misa perdana Natal dan Tahun Baru Lingkungan dengan penuh persiapan. Kegigihan mereka untuk menampilkan citra diri sebagai bagian umat WilBond perlu diapresiasi. 
Pada tanggal 6 januari 2012 yang lalu, umat dan pengurus Lingkungan St. Laurentia berkumpul merayakan Natal dan pesta syukur Tahun baru dengan tema “Kelahiran Yesus membangun semangat kebersamaan” yang berlangsung di kediaman Bapak Petrus Taufik W. Misa syukur perayaan natal dibawakan oleh RD Robertus Eeng Gunawan yang berlangsung dalam keheningan dan khidmat dengan iringan oleh paduan suara wilbond. Sehabis misa diisi dengan sambutan oleh ketua panitia Bp. Handono, dilanjutkan oleh ketua Lingkungan Ibu Marcellina Yuniawati (bu Yuyun). Pada kesempatan yang sama Ketua WilBond S Surya Tjandra memberikan ucapan selamat Natal dan Tahun Baru bagi umat Lingkungan Laurentia, serta menghadiahkan bagi umat dewasa berupa buku Devosi dan buku Liturgi yang sangat bermanfaat bagi perkembangan iman Kristiani umat serta buku rohani Alkitab Kecil bagi anak-anak yang berisikan cerita tentang kelahiran Yesus. Tak lupa Romo Eeng men-sharing-kan pengalaman perjalanan ziarah Natal di Bethlehem kepada umat yang hadir. 
Pengurus juga membagi-bagikan hadiah Natal bagi anak-anak serta dilanjutkan dengan doa makan oleh Sr. Christine, SFS sebagai ungkapan syukur atas berkat yang telah diberikan Tuhan kepada kita semua.
Tak lupa pengurus Lingkungan Laurentia mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu pada persiapan dan pelaksanaan perayaan Natal dan Tahun Baru 2012, khususnya kepada keluarga bapak Petrus Taufik W. dan tak lupa menghimbau keluarga Muda Katolik yang ada di lingkungan Laurentia (mas Deni, ko Jefry dan keluarga muda lainnya) agar mau terlibat secara aktif di Lingkungannya (wilayah Bondongan pada umumnya), sehingga kita sebagai sebagai keluarga besar Lingkungan St. Laurentia Wilayah St, Maria Fatima Bondongan dapat menerangi dan memancarkan terang Kristus pada hati setiap umat, bahwa hidup kita menjadi pelita dan terang bagi sesama. 
Semoga perayaan Natal dan Tahun Baru umat Lingkungan St. Laurentia yang telah digagas oleh Pengurus Lingkungan Laurentia akan selalu membangkitkan semangat pelayanan, menginspirasi umat, dan menumbuhkan kebersamaan antar umat, agar semua umat dapat melihat dan menjadi terang Kristus, bahwa Allah hadir ditengah-tengah kita! IMANUEL telah datang bagi kita! Proficiat!

Natal Lingkungan St. Florentinus Wilayah St. Maria Fatima (WilBond) Bondongan
Lingkungan Florentinus yang juga sebagai Lingkungan muda di WilBond secara gegap gempita turut pula mempersiapkan perayaan Natal dan Tahun Baru bagi umatnya. Persiapan-persiapan melalui rapat-rapat pengurus secara marathon menjelang hari H dilakukan dengan sungguh-sungguh. 
Pada hari Sabtu, 7 Januari 2012 pukul 18:30 (telat sedikit) perayaan Natal dan Tahun Baru dibuka oleh petugas Liturgi Lingkungan Bp. Andreas Susilo dilanjutkan dengan Ibadat Natal oleh RD Robertus Eeng Gunawan dengan pujian-pujian oleh kelompok paduan suara Lingkungan Florentinus (Bu Vicky, Bu Ying, Bu Ira, pak Andre, pak Yos, pak Agus, pak Doni)
Selepas homili, Bapak-Ibu, Mudika, dan anak-anak mempersembahkan lilin (cahaya) yang menandakan kehadiran Kristus sebagai terang dunia, dilanjutkan dengan anak-anak Lingkungan Florentinus tampil menyanyikan lagu seribu cahaya lilin, sambil melakukan melodrama cahaya lilin Natal dengan pesan bagi kita yang cukup menyentuh, bahwa kita hendaknya menjadi terang bagi sesama seperti cahaya lilin yang selalu menerangi lingkungan sekitarnya. Kita diingatkan pula bahwa terang yang kita pancarkan adalah perbuatan baik bagi sesama yang merupakan tanda kehadiran Kristus ditengah-tengah kita, bahwa kita hendaknya selalu menjadi terang, yang berarti pula kita menjadi saksi Kristus dalam karya keselamatan manusia.
Sehabis Ibadat dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Wilayah WilBond (S Surya Tjandra) dengan pesan Natal bahwa kita hendaknya menjadi terang bagi sesama sepanjang hidup kita, dan mengapresiasi para pengurus dalam persiapan dan pelaksanaan perayaan Natal dan Tahun Baru bahwa partisipasi umat yang hadir semakin menegaskan bahwa kebersamaan dalam pelayanan sebagai tanda dan sarana karya keselamatan Tuhan bagi seluruh umatNya. Tak lupa ketua wilayah membagikan buku-buku rohani spt buku Devosi agar umat semakin lebih giat dalam berdoa dan berkarya (ora et labora) dan mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru bagi umat yang hadir.
Sambutan dilanjutkan oleh Ketua Lingkungan Florentinus (Bp. Florentinus Suryawan) dengan mengucap syukur dan tak lupa meperkenalkan para pengurus Lingkungan (Lingkungan yang masih belia) kepada umatnya dan mengingatkan agar umat bersama pengurus dapat saling mengisi dalam pelayanan sehingga sungguh terang dan kasih Kristus dapat menerangi hati kita semua.
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan makan bersama didahului oleh doa oleh Romo Eeng Gunawan, dan dilanjutkan dengan acara hiburan yang dipandu oleh 2 MC yang mengaku MC kondang di BNR (Bp. Yos dan Bp. Andri) memecahkan kesunyian malam dalam menghibur dan mengatur pembagian kado bagi umat Lingkungan dan anak-anak yang hadir. 
Semoga perayaan Natal dan Tahun Baru yang telah dikemas dengan baik sebagai suatu rangkaian yang harmoni yang terjalin indah, selalu menginspirasi dan mengingatkan kita semua bahwa kasih Allah selalu hadir ditengah-tengah kita melalui PutraNya yang datang bagi keselamatan kita umat manusia. Imanuel! Proficia bagi pengurus Lingkungan dan umat St. Florentinus Wilayah St. Maria Fatima Bondongan.

Natal Lingkungan St. Silvester Wilayah St. Maria Fatima (WilBond) Bondongan

Minggu 8 Jan 2012, pukul 10:00 (lewat dikit) pengurus Lingkungan St. Silvester WilBond merayakan Natal & Tahun Baru bagi umat Lingkungan dan juga dihadiri para ketua Lingkungan di wilayah Bondongan, yang berlangsung di kediaman Bp. Prioyulianto/ Ibu Justine yang khusus datang dari tanah Papua menemani umat yang hadir. Walaupun diiringi oleh hujan yang cukup bersahabat pada perayaan Natal& Tahun Baru, tampak bahwa kebersamaan umat selalu memberikan suasana kehangatan sukacita bagi semua, sesuai dengan tema perayaan Natal & Tahun Baru yang diusung oleh panitia “kelahiran Yesus membawa sukacita bagi semua”. Perayaan yang semula akan dihadiri oleh Frater David (ada perayaan natal di Lingkungan lain) , berhalangan untuk hadir, perayaan natal tetap berlangsung dengan penuh sukacita. Didahului oleh doa pembuka oleh Ibu Nini (seksi Liturgi Lingkungan) dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Lingkungan St. Silvester Ibu Maria Sipiyanti (Ibu Elias) , dengan ucapan selamat datang kepada umat dan ucapan terima kasih kepada keluarga di Lingkungan St. Silvester yang telah mendukung perayaan Natal dan Tahun Baru ini. Sambutan oleh Ketua Wilayah Bondongan (S. Surya Tjandra) dengan menyampaikan pesan Selamat Natal dan Tahun Baru bagi semua umat yang hadir, serta memberikan apresiasi secara khusus bagi pengurus Lingkungan yang tak kenal lelah dalam melayani bagi umatnya. 
Perayaan Natal dan Tahun Baru ini diekmas oleh pengurus (Ibu Ratih cs) bersama tim BIA WilBond (mbak Budi, mas Basuki) dan OMK WilBond (mas Djati) dengan acara yang mengajak umat untuk dapat bersukacita dengan permainan-permainan yang telah dipersiapkan baik untuk anak-anak maupun dewasa. Tampak dalam perayaan ini keterlibatan umat cukup intens dan antusias , dalam suasana kebersamaan yang penuh kehangatan. Selesai permainan tersebut dilanjutkan dengan doa makan, photo bersama oleh photographer kondang dan makan siang bersama yang telah dipersiapkan panitia melalui Pot-Luck makanan umat Lingkungan St. Silvester. Sembari menikmati santap siang panitia membagi-bagikan door prize dengan hadiah utama 1 bh Sepeda Cantik (sumbangan Bp. Freddy), 1 bh Rice Cooker (bu Ratih), 6 bingkisan Tupperware (terima kasih utk Bp. Dibyo-Purimas), 3 Payung cantik (Bu Ratih), Buku-buku rohani (Bu Ratih), Benda Rohani (Ibu Nini), Baju kaos Adidas (5 bh). Hadiah utama sepeda cantik akhirnya dimenangkan oleh keluarga Ibu Nita diwakilkan oleh anaknya Aurora. Sukacita Natal sungguh-sungguh menghiasi wajah Aurora dengan pulang sambil mengendarai sepeda cantik tersebut. Sebagian besar umat telah mendapat doorprize, namun bagi umat yang belum beruntung dapat mencoba lagi tahun depan. 
Terima kasih kepada umat Lingkungan St. Silvester, Bp. Ibu Priyulianto, Bp. Dibyo-Purimas, Bp. Freddy, mas Basuki, mbak Budi, mas Djati, para ketua Lingkungan (mas Pram, mas Suryawan, bu Siok, bu Yuyun), para pengurus Lingkungan yang otomatis menjadi panitia, serta semua pihak yang telah mendukung dan membantu kelancaran perayaan Natal dan Tahun Baru lingkungan St. Silvester Wilayah Bondongan. Prioficiat!

Jumat, 24 Februari 2012

Seputar Paroki 4

Merayakan Hari Natal Bersama Anak-Anak

Waktu menunjukkan pukul 08:00 WIB. Hari itu Minggu, 25 Desember 2011 di depan gereja St. Fransiskus Asisi, Sukasari sudah berkumpul anak-anak untuk merayakan natal bersama dalam perayaan Ekaristi.
Sebelum anak-anak masuk ke dalam gereja, di depan pintu, kanak-kanak pendamping Bina Iman Anak (BIA) yang berseragam kaos warna hijau, membagikan kalung warna warni untuk setiap anak yang hadir untuk ditukarkan dengan bingkisan setelah selesai misa dan juga memberikan amplop untuk diisi uang persembahan yang akan dipersembahkan kepada Tuhan Yesus.
Acara dimulai tepat pukul 08:30 WIB. Dimulai dengan perarakan dari pintu utama gereja. Urut-urutan perarakan dimulai dengan tarian pembuka yang dipersembahkan oleh anak-anak dari SD Kesatuan dengan pakaian tari merak berwarna merah dan kuning diiringi lagu Doro Wilis, diikuti oleh para Putera Altar pembawa dupa dan wirug, Putera Altar Pembawa Salib Prosesi, Putera Altar Pembawa Lilin Prosesi, Putera Altar lainnya, Pembaca Doa di depan kandang natal dari BIA Wilayah Bondongan, “Yosef” dari BIA Wilayah Sukasari – “Maria” dari BIA Wilayah Suryakencana, Lektor-Lektris dari BIA Wilayah Bondongan, Prodiakon, Frater Nana, Frater David dan terakhir RD Ignatius Heru Wihardono. Semua menuju kandang natal.
Seusai upacara di depan kandang natal, upacara diteruskan dengan perayaan Ekaristi. Imam bersama para petugas liturgi menuju ke depan altar dengan diiringi lagu pembuka “Lagu Malam Kudus” yang dinyanyikan dengan merdu dan syahdu oleh koor anak-anak SD Mardi Yuana, Sukasari.
Romo Heru membuka Perayaan Ekaristi dengan memberi salam selamat natal pada seluruh umat yang mengikuti Perayaan Ekaristi natal bagi anak-anak hari itu.
Saat homili, setelah pembacaan Injil, Romo Heru menyapa lagi dengan ucapan selamat natal dan ditambahkan beberapa pertanyaan seperti “Siapa yang antar anak-anak ke gereja?”, “Apakah anak-anak semua bergembira?” dan menghimbau anak-anak untuk berdoa bersama orang tua, opa-oma di kandang natal. Dilanjutkan oleh frater David dan Frater Nana, dua frater ini pun menyapa anak-anak dengan ramah. Bertanya kepada anak-anak seperti “Siapa yang mau jadi teman Yesus yang lahir di kandang domba?” karena Yesus teman-temannya adalah domba, gembala sapi, keledai dan orang tua Yesus.
Dengan merayakan kelahiran Yesus, tentu anak-anak dan kita pun diharapkan menjadi manusia yang lahir baru, menjadi anak-anak yang baik, menjadi berkat bagi sesama dan semakin bertumbuh dalam iman.
Selesai Perayaan Ekaristi, seperti tahun-tahun sebelumnya, kakak-kakak pendamping sudah siap membagikan bingkisan kasih kepada anak-anak. Harapan kami tentu sukacita ini tidak berhenti hanya pada mendapat bingkisan, tapi anak-anak diharapkan juga memiliki gaya hidup 2D2K = Doa – Derma – Kurban – Kesaksian, agar iman mereka semakin bertumbuh.
Peran orang tua tentu sangat besar dalam hal ini. Semoga. Tuhan memberkati.

Ruang Kitab Suci

Musa Melarikan Diri Ke Midian
Oleh : Peter Suriadi

Teks
Kel 2:11-25
11 Pada waktu itu, ketika Musa telah dewasa, ia keluar mendapatkan saudara-saudaranya untuk melihat kerja paksa mereka; lalu dilihatnyalah seorang Mesir memukul seorang Ibrani, seorang dari saudara-saudaranya itu. 
12 Ia menoleh ke sana sini dan ketika dilihatnya tidak ada orang, dibunuhnya orang Mesir itu, dan disembunyikannya mayatnya dalam pasir. 
13 Ketika keesokan harinya ia keluar lagi, didapatinya dua orang Ibrani tengah berkelahi. Ia bertanya kepada yang bersalah itu: "Mengapa engkau pukul temanmu?" 
14 Tetapi jawabnya: "Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir itu?" Musa menjadi takut, sebab pikirnya: "Tentulah perkara itu telah ketahuan." 
15 Ketika Firaun mendengar tentang perkara itu, dicarinya ikhtiar untuk membunuh Musa. Tetapi Musa melarikan diri dari hadapan Firaun dan tiba di tanah Midian, lalu ia duduk-duduk di tepi sebuah sumur. 
16 Adapun imam di Midian itu mempunyai tujuh anak perempuan. Mereka datang menimba air dan mengisi palungan-palungan untuk memberi minum kambing domba ayahnya. 
17 Maka datanglah gembala-gembala yang mengusir mereka, lalu Musa bangkit menolong mereka dan memberi minum kambing domba mereka. 
18 Ketika mereka sampai kepada Rehuel, ayah mereka, berkatalah ia: "Mengapa selekas itu kamu pulang hari ini?" 
19 Jawab mereka: "Seorang Mesir menolong kami terhadap gembala-gembala, bahkan ia menimba air banyak-banyak untuk kami dan memberi minum kambing domba." 
20 Ia berkata kepada anak-anaknya: "Di manakah ia? Mengapakah kamu tinggalkan orang itu? Panggillah dia makan." 
21 Musa bersedia tinggal di rumah itu, lalu diberikan Rehuellah Zipora, anaknya, kepada Musa. 
22 Perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, maka Musa menamainya Gersom, sebab katanya: "Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing." 
23 Lama sesudah itu matilah raja Mesir. Tetapi orang Israel masih mengeluh karena perbudakan, dan mereka berseru-seru, sehingga teriak mereka minta tolong karena perbudakan itu sampai kepada Allah. 
24 Allah mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub. 
25 Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan mereka. 

Konteks
Kegiatan Musa di masa muda dikisahkan sangat singkat. Musa mulai muncul sebagai tokoh dan putri Firaun “menyingkir” ke belakang karena tugasnya dalam mengangkat anak dan mendidik Musa telah selesai. Musa telah menjadi seorang pemuda yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ia fasih berbahasa Mesir serta trampil dalam kebiasaan dan kebudayaannya. Ia diterima dan dikenal, dan ia punya prospek untuk menjadi pejabat tinggi karena bakat dan kualitasnya. Sebagai anak (adopsi) putri Firaun, ia mendapatkan apa yang terbaik dari kebudayaan Mesir. Tanpa menunjuk pada umur berapa, tiba-tiba dikisahkan : “Suatu hari ketika Musa telah dewasa, ia pergi pada rakyatnya dan melihat beban mereka”. Ia memang telah diadopsi oleh putri Mesir, namun saudara-saudaranya bukanlah orang-orang Mesir. Saudara-saudaranya adalah orang-orang Ibrani, bangsa tertindas dan budak, sedangkan orang-orang Mesir adalah para penindasnya. Ia menunjukkan solidaritas dengan orang-orang Ibrani yang menderita, yang disadarinya sebagai saudara. 

Struktur Teks
Teks dapat dibagi menjadi 3 bagian, yakni :
ayat 11-12 : Musa membela bangsanya
ayat 13-22 : Musa melarikan diri
ayat 23-25 : Allah ingat akan perjanjian-Nya

Keterangan Teks
ayat 11-12
Kegiatan Musa di masa Muda hanya diceritakan dalam ayat 11 ini. Musa dididik dalam lingkungan istana Mesir sampai usia dewasa. Dalam Kis 7:22 dikatakan bahwa selama itu Musa ”dididik dalam segala hikmat orang Mesir”.
Tetapi suatu hari, Musa yang telah dewasa keluar dari lingkungan istana untuk melihat-lihat orang-orang Ibrani melaksanakan kerja paksa. Musa sadar bahwa meskipun ia telah hidup dan dan dididik dalam lingkungan istana Mesir, ia tetaplah seorang Ibrani. Oleh karena itu, para budak yang dipekerjakan oleh penguasa Mesir tetaplah saudara-saudara sebangsanya. Apalagi ketika ia melihat seorang Mesir memukul seorang Ibrani. Rasa persaudaraannya bangkit. Ia tidak dapat menerima tindakan seorang Mesir yang menyiksa seorang yang diakui sebagai saudaranta. Ia pun segera membela orang Ibrani itu. Melihat tidak ada seorang pun di sekitarnya, Musa segera mendekati dan membunuh orang Mesir itu. Lalu Musa berusaha menyembunyikan mayat orang Mesir itu dengan menguburnya di dalam pasir. Tindakan Musa itu untuk menghilangkan jejak dan menghindarkan orang Ibrani dari tuduhan membunuh orang Mesir.  
ayat 13-15
Musa merasa yakin bahwa tindakannya itu tidak diketahui siapapun sehingga keesokan harinya tanpa takut ia keluar lagi. Dan ia menjumpai dua orang Ibrani tengah berkelahi. Musa berusaha melerai mereka dan menanyai salah seorang yang menurutnya menjadi biang keladi perkelahian itu, ”Mengapa engkau pukul temanmu?” Tetapi, jawaban orang itu sungguh tidak terduga dan mengagetkan Musa : ”Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami?”. Rupanya orang itu menganggap Musa sebagai ”pengkhianat” saudara-saudara sebangsanya karena hidup di lingkungan istana Mesir. Dan yang lebih mengagetkan lagi, orang yang dilerainya itu menyaksikan pembunuhan yang dilakukannya. Musa malah dicurigai saudara-saudara sebangsanya dan besar kemungkinan mereka akan melaporkan dan menyerahkan Musa kepada penguasa Mesir. Musa segera sadar bahwa ia berada dalam bahaya. Dapat diduga berita pembunuhan itu sudah tersebar dan bahkan didengar oleh penguasa Mesir. Kalau benar seperti itu, hukuman berat menantinya. Firaun yang mendengar berita itupun berniat membunuhnya karena jelaslah Musa adalah seorang pengkhianat bagi Mesir.
Musa yang merasa takut segera melarikan diri ”dari hadapan firaun”. Menurut Kis 7:23, Musa berusia 40 tahun ketika melarikan diri dari Mesir. Musa memang melarikan diri tetapi kemudian ia akan kembali sebagai seorang pahlawan. Ia rela mengorbankan segala-galanya, bahkan hidupnya sendiri sekalipun ia akan menghadapi berbagai rintangan berat. Musa melarikan diri ke arah timur, sampai ke Tanah Midian, yang terletak di sebelah timur laut Teluk Aqaba. Di suatu tempat di tanah itu, ia berhenti dan duduk-duduk di tepi sebuah sumur.
ayat 16-22
Di tempat inilah Musa berjumlah dengan seorang seikh-imam padang gurun yang tradisi dan kepercayaannya berpengaruh besar dalam perkembangan agama Israel. Imam itu memiliki tujuh orang anak perempuan. Seperti Ribka dan Rahel, anak-anak perempuan imam itu juga biasa menggembalakan ternak ayah mereka.
Pada suatu ketika, anak-anak perempuan imam itu datang ke sumur, yang di dekatnya Musa beristirahat, untuk menimba air dan memberi minum kambing domba yang mereka gembalakan. Tiba-tiba gembala-gembala lain datang dan mengusir mereka. Tetapi Musa tidak tinggal diam menyaksikan perlakuan semena-mena tersebut. Karena itu, Musa bangkit dan menolong mereka dengan menghalau gembala-gembala lain itu. Setelah berhasil menghalau mereka, Musa membantu para perempuan itu memberi minum kambing domba mereka. Peristiwa Musa di sumur ini sangat serupa dengan dua kisah dalam Kitab Kejadian : 1. Kisah hamba Abraham yang diutus pergi ke Mesopotamia untuk mencarikan istri bagi Ishak (Kej 24). Abraham sampai di sebuah sumur dan di situ bertemu dengan Ribka, yang kemudian memberikan minum kepadanya dan kepada unta-untanya, 2. Kisah Yakub yang juga pergi ke sumur (Kej 29). Di sumur itu ia berjumpa Rahel, anak Laban, yang datang dengan domba-domba ayahnya. Yakub tinggal di rumah Laban, menggembalakan kambing dombanya (tentang Musa, bdk Kel 3:1), dan mengawini anak perempuannya.
Ketika pulang, ayah para perempuan itu yang bernama Rehuel (= ”sahabat Allah”, bdk Bil 10:29. Dalam Kel 3:1;4:8 bernama Yitro) heran. Tidak biasanya mereka pulang secepat ini sehingga sang ayah menanyai mereka. Mereka menjelaskan bahwa seorang Mesir telah menolong mereka dari para gembala dan bahkan menimba air untuk mereka dan memberi minum kambing domba mereka. Mereka biasanya harus pulang lebih belakangan karena harus mendahulukan para gembala laki-laki memberi minum ternaknya.
Sang ayah merasa senang karena ada orang yang mau membantu anak-anaknya. Maka ia segera menyuruh mereka memanggil orang itu untuk datang dan makan di rumahnya. Musa memenuhi undangan makan itu. Dalam pembicaraan dengan Rehuel kemungkinan besar Musa bercerita banyak tentang jati diri dan pelariannya hingga tanah Midian. Penuturan Musa itu mendorong Rehuel untuk menawarkannya untuk  tinggal bersama keluarga Rehuel. Musa menerima tawaran itu dan tinggal di rumah Rehuel. Di kemudian hari Rehuel memberikan Zipora, salah satu anaknya, untuk menjadi istri Musa. Dari perkawinannya dengan Zipora, Musa memperoleh seorang anak laki-laki dan menamainya Gersom karena, ”Aku telah menjadi seorang pendatang di negeri asing”. Nama Gersom dihubungkan dengan kata Ibrani ger yang berarti orang asing atau imigran.
ayat 23-25
Lama setelah Musa tinggal di Midian (menurut Kis 7:30 : 40 tahun), raja Mesir yang menindas orang Israel dan hendak membunuh Musa mangkat (Jika raja Mesir yang mangkat itu adalah Firaun Ramses II maka diperkirakan peristiwa ini terjadi pada tahun 1224 SM). Mangkatnya sang raja tidak berarti berakhirnya penindasan. Raja pengganti pun memiliki sikap sama dengan pendahulunya. Orang Israel tetap ditindas dan mereka berseru-seru. Seruan mereka adalah seruan orang yang sudah tidak tahan lagi menanggung penderitaan. Menurut Bil 20:16 mereka berseru-seru kepada Tuhan (bdk Mzm 22:5). Tuhan mendengar mereka mengerang sebagaimana Ia mendengar teriakan darah Habel (Kej 4:10) dan keluh kesah orang tentang Sodom dan Gomora (Kej 18:20). Tuhan pun ingat (bukan sebelumnya Ia lupa, tetapi menunjukkan bahwa Ia menunjukkan perhatian penuh) akan perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan nenek moyang Israel, yakni Abraham, Ishak dan Yakub. Janji Allah itu ”terancam batal” jika Israel masih terus diperbudak. Tuhan datang untuk menyelamatkan janji itu karena Ia tidak dapat membatalkan janji yang telah diucapkan-Nya sendiri. Tuhan memperhatikan keluhan mereka.

Amanat
Perikop menampilkan keterlibatan Musa dalam membela orang tertindas, yakni memukul orang Mesir, kemudian mempersatukan orang yang bertikai, dan kemudian tampil sebagai penyelamat, akhirnya pergi ke Midian, menikah dengan putri Yitro. Semuanya itu merupakan persiapan akan panggilan dan tugas Musa di kemudian hari. Musa memang dipersiapkan untuk tugas besar dan berwibawa. Ia diselamatkan dari bencana dan mengenal lingkungan hidupnya secara mendalam untuk bisa memberikan arti bagi bangsanya. Tugas besar itu kemudian adalah memukul Mesir dan mempersatukan bangsanya sendiri dalam keselamatan Allah. Masa muda Musa lalu merupakan cerminan panggilan dan tugas Musa yang akan datang.
Kita pun dipersiapkan Allah untuk suatu tugas besar dan berwibawa. Kita bisa memberikan arti bagi kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Allah sudah mempersiapkannya, tinggal kesediaan kita untuk bekerjasama dengan Allah dalam mewujudkan keselamatan sesuai dengan porsi kita masing-masing. Semoga.

Catatan Kecil

MENGHAPUS AIR MATA

“Jangan gelisah hatimu, percayalah kepada Allah, percayalah kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal, jika tidak demikian, tentu Aku menyatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku supaya di tempat dimana Aku berada, kamupun berada”. Baca injil Yohanes 14: 1-4, sangat menguatkan pada saat-saat ditinggalkan orang-orang yang dikasihi, bacaan diatas berkali-kali dibaca dan saya percaya bahwa mereka kembali ke rumah Bapa di surga.
Bagi semua yang saat ini sedang larut dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh yang kita kasihi, kita yang merasa bahwa kematian sudah memisahkan kita untuk selamannya, bangkitlah dari kesedihan Anda! Ingat apa yang dikatakan Tuhan bahwa mereka yang mati di dalam Yesus akan dikumpulkan bersama-sama dengan Dia dan kelak kitapun akan dikumpulkan bersama-sama dengan mereka. Rasul Paulus menasehatkan kepada jemaat di Tesalonika agar mereka saling menghiburkan dengan janji Tuhan yang sangat menghibur ini (1 Tesalonika 4: 18).
Setiap badai berlalu, so pasti pelangi tampak dengan warna-warninya, setelah penderitaan selalu hadir penghiburan. Terimakasih Tuhan, Engkau selalu hadir disetiap saat dimana kami mengalami penderitaan. Saudara, sahabat, dan handai taulan yang menghibur kami, dan ini menyadarkan bahwa kita akan dipertemukan lagi dalam suasana yang lebih indah daripada kebersamaan kita di bumi. Aku yakin orang-orang yang kita kasihi adalah orang-orang yang percaya kepada Kristus.
Bagi orang-orang yang percaya kepada Yesus, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Ada kehidupan lain yang lebih indah dan lebih sempurna yaitu di dalam surga. Surga bukan isapan jempol. Surga disediakan bagi mereka yang setia kepada Yesus. Di surgalah kita semua akan berkumpul kembali tanpa ada perpisahan dan air mata. Janji ini benar, Yesus sendiri yang mengatakannya sebelum Ia naik ke surga. Ia pergi ke sana untuk menyediakan tempat bagi kita semua dan Ia akan datang kembali untuk menjemput kita dan kita akan berkumpul selamanya di sana.
Ikhlaskan orang yang Anda kasihi untuk pergi, karena kelak akan ada reuni besar di surga. Tugas kita adalah hidup dalam kebenaran sehingga kelak kita bisa bertemu Tuhan dan orang-orang yang kita kasihi. Ambrosius  berkata, “Kematian adalah pelabuhan kedamaian bagi orang benar, tetapi sebagai kapal karam bagi orang jahat.” Janji Tuhan mampu menghapus air mata dukacita dan menggantikannya dengan sukacita pengharapan. (diar sanjaya – MS 509)

Percikan Pengalaman

HARI MINGGU KELABU DAN PENYELENGGARAAN ILAHI

Pendahuluan
Baru 14 tahun 5 bulan saya hidup menduda, sejak tanggal 24 Februari 1997 yang lalu pasangan saya dipanggil Bapa untuk kembali ke rumahNya. Saya masih ditemani anak kami yang bungsu sampai Agustus 1998, setelah itu anak kami yang bungsu pindah ke Bandung karena kuliah di Universitas Pajajaran, sedang yang sulung kuliah di Universitas Katolik Soegijopranoto, Semarang. Maka sejak itu saya hidup sendirian – kecuali bila anak-anak pulang ke Bogor – dan selama ini semuanya berjalan baik-baik saja. Saya tidak merasa kesepian karena saya hidup di tengah-tengah warga lingkungan yang guyup, dan yang paling penting saya yakin selalu ditemani oleh Kristus Yesus.

Hari Minggu kelabu
Hari Minggu tanggal 5 Juni 2011 merupakan hari yang kelabu bagiku. Betapa tidak. Hari Sabtu tanggal 4 Juni 2011 saya masih ke Panti Asuhan Santo Yusuf di Sindanglaya – mengendarai mobil sendiri – dengan seorang teman untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pater Gabriel OFM, Direktur Panti Asuhan. Sekitar jam 14.00 kami pulang, ternyata sesampai di Cisarua turun hujan dan jalan macet. Sesampainya di Bogor jam sudah mendekati jam 16.30 maka kami memutuskan untuk langsung ke Katedral Bogor untuk mengikuti Perayaan Ekaristi agar esok hari bisa istirahat. Setelah selesai mengikuti Perayaan Ekaristi saya mengantar teman saya ke rumahnya dan kemudian saya pulang ke rumah saya. Sesampai di rumah – sekitar jam 19.00 – saya mandi, makan dan sedikit membaca. Jam 21.00 saya pergi tidur di lantai dua, jam 03.00 dini hari saya terbangun untuk ke kamar kecil. Selesai buang air kecil saya kembali tidur. Sampai saat itu saya tidak merasakan kelainan apapun dari diri saya. Jam 05.30 saya bangun dan merasa badan saya tidak seperti biasanya. Ketika saya mau berdiri maka saya akan jatuh, namun saya memaksakan diri untuk berdiri dan berjalan. Saya merasa kaki kiri tidak bisa saya kendalikan, tapi saya tetap memaksa diri untuk menuruni tangga – yang cukup curam – sambil berpegangan pada pegangan tangga. Dengan agak susah payah – sambil berdoa 'Tuhan bantulah, bimbinglah dan kuatkanlah aku' – saya akhirnya berhasil turun. Sesampainya di bawah yang pertama kali terpikir adalah 'aku harus membuka pintu rumah dan gembok pagar'. Dengan susah payah saya berhasil membuka pintu rumah dan gembok pagar, selanjutnya saya masih mampu masak air dan membuat sarapan dalam bentuk havermout. Sambil menunggu havermout siap untuk dimakan maka saya mencoba ke lantai dua untuk melanjutkan kebiasaan saya bermeditasi dan menulis buah permenungan saya di buku catatan harian saya. Setelah selesai saya mencoba turun tapi kaki kiri makin lemah, maka akhirnya saya duduk sambil mencoba maju dan menuruni tangga (bahasa Jawa: ngesot) dan tentu sambil berdoa 'Tuhan bantulah, bimbinglah dan kuatkanlah aku', akhirnya saya sampai juga di bawah dan berusaha ke meja komputer untuk menulis buah permenungan saya di facebook untuk dibagikan kepada para sahabat, namun tidak berhasil, saya tidak mampu membuka dan menyalakan komputer. Akhirnya sambil ngesot saya menuju ke ruang tamu untuk duduk di kursi tamu. Saya teringat handphone saya yang kebetulan ada didekat meja tamu. Saya mencoba menghubungi beberapa teman, yang pertama saya hubungi ternyata sedang ke Gereja. Yang kedua saya hubungi bisa ketemu kemudian saya hanya memberitahu bahwa saya sakit dan tolong segera ke rumah saya. Setelah saya tunggu sekitar 30 menit tidak datang-datang maka saya menghubungi yang ketiga, kebetulan tersambung dan seperti yang kedua saya memberitahu saya sakit, tolong segera ke rumah. Tidak lama kemudian datang bersama isterinya, karena merasa tidak kuat mengangkat saya maka suaminya memanggil teman yang lain (yang masih tidur), selama menunggu bantuan, isterinya sempat menyuapi saya beberapa sendok havermout yang tadi sudah saya siapkan. Setelah itu saya langsung dibawa ke rumah sakit terdekat yaitu Bogor Medical Center (BMC). Setibanya di rumah sakit maka saya langsung di tempatkan di Unit Gawat Darurat, di UGD saya hanya diukur tekanan darah saya (160/110), setelah itu saya didiamkan saja sampai sekitar 2 jam (rupanya karena belum ada yang tandatangan dan memberikan uang muka, teman-teman saya sibuk menghubungi saudara-saudara saya dan teman-teman yang lain). Setelah ada teman yang tandatangan dan memberikan uang muka barulah saya ditangani dan dipindahkan ke Health Care Unit untuk diobservasi lebih lanjut, dan mendapat infus. Sore harinya kepala saya di CT – Scan, ternyata ada sumbatan di otak saya sebelah kanan, maka bagian kiri tubuh saya jadi lumpuh dan bicaranya menjadi cadel, dengan kata lain saya terkena stroke. Setelah saya mulai berbicara dengan cukup jelas saya tanya pada dokter yang merawat 'Apa yang menjadi pemicu sehingga saya bisa menjadi seperti ini?' Jawaban dokter cukup mengagetkan, yang utama adalah kadar gula darah saya yang tinggi, di samping tekanan darah yang cukup tinggi. Mengagetkan, karena pada akhir dasawarsa 90-an saya pernah didiagnosa oleh dokter menderita kadar gula rendah, karena pernah jatuh di kamar mandi tanpa sadar, sehingga sejak itu saya ramah dengan makanan dan minuman yang manis, karena pada dasarnya memang saya menyukainya. 

Penyelenggaraan Ilahi
Setelah beberapa hari berbaring di rumah sakit – di mana hanya terbaring lemah, yang dilakukan hanya berbaring sambil diinfus, makan, minum obat, disuntik, buang air lewat kateter, tidak ada yang lain yang dapat saya kerjakan – padahal biasanya saya tidak pernah seperti ini, banyak aktivitas seperti rapat, bepergian, membaca, menulis paper dan lain-lain. Hari-hari saya lewati dengan perasaan frustrasi.
Selain daripada itu saya belum bisa menerima bahwa saya menderita stroke – lebih-lebih para sahabat yang menjenguk selalu berkomentar 'Rupanya Nugroho bisa sakit juga dan sampai harus menginap di rumah sakit.' – karena hidup saya cukup teratur dan cukup disiplin, hidup saya cukup terkendali dan olah raga cukup teratur. Sampailah saat di mana bapak Uskup Bogor mengunjungi saya di rumah sakit. Pada saat kunjungan itu ada dua kalimat yang menyentuh saya. Beliau berkata ”Stanis usiamu sudah 64 tahun, coba bayangkan organ-organ tubuhmu sudah bekerja selama itu, apakah kaupelihara dengan baik, kalau toh kaupelihara dengan baikpun kondisinya tentu tidak seperti saat usiamu masih 17 tahun”. Kalimat yang kedua beliau ucapkan pada saat beliau mau pulang. Sambil memberi rosario yang beliau berkati maka beliau berucap ”Seringkali waktu seperti ini merupakan saat-saat yang sangat baik untuk merefleksikan perjalanan hidup kita”. 
Setelah beliau pulang begitu pula pula para sahabat, maka saya memutuskan untuk memulai 'permenungan panjang'. Saya mulai membaca-baca Kitab Suci dan saya menemukan 2 teks yang menyentuh saya. Yang satu saya temukan pada kitab Ayub, bunyinya sebagai berikut: 'Dengan penderitaannya ia ditegur di tempat tidurnya, ...” (33:19a), selain itu saya juga menemukan di kitab Amsal teks yang berbunyi ”Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, ....” (18:14a). Kedua teks tersebut semakin mendorong saya untuk melaksanakan permenungan panjang dengan sungguh-sungguh, berkaitan dengan itu maka saya memulai permenungan panjang tersebut dengan doa mohon rahmat, pendampingan dan kekuatan untuk menindak lanjuti temuan-temuan yang akan saya peroleh selama retret panjang tersebut. 
Langkah pertama saya mulai merefleksikan peristiwa hari minggu kelabu tersebut. Dalam kepanikan ternyata Tuhan masih menyertaiku – suatu Penyelenggaraan Ilahi – dan masih memberiku kesadaran untuk dapat berpikir dan melakukan apa yang perlu kulakukan, agar bantuan dapat masuk ke rumahku tanpa kesulitan. Penyelenggaraan Ilahi kualami lagi pada hari Senin tanggal 6 Juni dan hari Selasa tanggal 7 Juni, betapa tidak. Hari Senin aku mendapat kunjungan 2 orang suster Misionaris Claris yang di Duren Sawit Jakarta, yang seorang bernama suster Celina MC dan yang lain bernama suster Anna Maria MC. Setelah berbincang-bincang cukup lama, waktu mau pulang suster Celina bertanya kepada saya begini 'Pak Nugroho nanti kalau sudah boleh pulang apa rencananya?' Jawab saya 'Ya saya pulang ke rumah'. Pertanyaan selanjutnya 'Di rumah dengan siapa?' Jawab saya 'Dengan Tuhan Yesus'. Kemudian suster Celina berkomentar 'Dalam kondisi seperti sekarang selain Tuhan Yesus bapak memerlukan teman untuk membantu hal-hal yang belum bisa bapak lakukan'. Jawaban saya 'Belum terpikir suster'. Malamnya saya mulai berpikir tentang apa yang dipertanyakan oleh suster Celina, sampai tertidur saya belum menemukan jalan keluarnya, begitu pula keesokan harinya. Siang itu saya ditelpon oleh suster Vero MC – pimpinan regional MC Indonesia – suster Vero mengundang saya untuk memulihkan motorik saya di rumah sakit mereka di Madiun. Jawab saya kepada suster Vero 'Saya akan pikir-pikir dulu sambil berembug dengan anak sulung kami, famili dan teman-teman saya'. Kemudian suster Vero berpesan agar nanti saya memberi kabar. Mungkin anda bertanya di mana anak bungsu kami, koq tidak dilibatkan. Anak bungsu kami saat ini sedang berada di Meksiko, untuk mengikuti pendidikan menjadi seorang suster MC. Tanggal 13 Juni saya diantar oleh kemenakan berangkat ke Madiun, tanggal 14 oleh seorang fisioterapis saya mulai dilatih duduk kemudian berdiri. Keesokan harinya saya mulai dilatih berjalan dengan bantuan tongkat yang kakinya bercabang tiga dan demikian seterusnya sampai hari minggu tanggal 19 Juni saya sudah bisa berjalan tanpa tongkat. Puji dan terimakasih kepada Tuhan yang begitu menyelenggarakan hidup saya dan semua sahabat yang saya tahu semua mendoakan saya. 
Berikutnya lewat sakit ini saya menemukan bahwa Tuhan memberi saya peringatan bahkan teguran (lihat Ayub 33:19a) bahwa saya terlalu percaya diri atau menjadi sombong sehingga lalai untuk merawat diri saya lebih baik. Sejak pasangan saya meninggal dunia, saya tidak pernah kontrol tensi, gula darah dan lain-lain. Saya terlalu percaya untuk bisa mengendalikan diri, lupa usia saya makin lama makin menjadi tua, berarti organ-organ tubuh semakin menjadi aus. Mulai saat ini saya harus lebih bisa menerima diri apa adanya, melakukan kontrol seperlunya agar dengan demikian saya dapat memelihara diri sesuai dengan kondisi saya.
Selanjutnya saya dimotivasi dengan ayat yang meneguhkan saya yaitu ”orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah” (Ams.18:14). Berpenyakit merupakan salah satu penderitaan, lebih-lebih bagi saya – yang terbiasa aktif dengan macam-macam kegiatan – yang sekarang harus berbaring di tempat tidur rumah sakit dan mulai belajar berjalan seperti anak-anak balita. Awalnya saya hampir putus asa, tapi syukurlah menemukan ayat tersebut di atas. Dokter, perawat dan fisioterapis kagum dengan kemajuan saya. Puji dan syukur untukNya atas rahmat kesembuhan yang dicurahkan kepada saya.

Penutup
Hidup ini sungguh sebuah perjalanan bersama dengan sesama, dan di samping itu jangan pernah kita lupakan bahwa kita juga disertai, dibimbing dan kadang-kadang ditegur olehNya. Akhirnya saya ingin berterimakasih kepadaNya yang telah membuka matahati saya, memampukan saya untuk lebih peka dengan pengalaman yang awalnya tidak saya harapkan, dan membuat saya mampu menemukan persiapan-persiapan yang lebih utuh adar saya dapat melanjutkan perjalanan saya. Puji sukur dan terimakasih kepadaNya dan tidak lupa terimakah juga kepada para sahabat yang telah memperhatikan, peduli dan membantu pemulihan saya. Shalom!

Bogor, 17 Juli 2011
SN

Renungan


Tuhan Adalah Air Kehidupan

Sebagai manusia kita diajarkan dan mengetahui bahwa air adalah sumber kehidupan. Manusia tidak dapat hidup tanpa air. Sedangkan, sebagai orang katolik kita tahu dan mengakui bahwa Yesus adalah air kehidupan. Tentu saja kedua hal ini memiliki makna bahwa sesungguhnya manusia tidak dapat hidup tanpa Tuhan. Bukan karena Tuhan yang memegang takdir, atau memegang kehidupan dan kematian seorang manusia. Namun, Tuhan yang membuat manusia bertahan hidup dan tidak mengalami kematian. Karena kematian bukan hanya soal fisik saja. Hati nurani kita bisa mati, Jiwa kita pun bisa mati walaupun raga kita tetap hidup. 
Penyebab kematian hati nurani dan jiwa kita adalah kehidupan yang tidak menentu, kehidupan yang dirasakan tidak adil, kehidupan yang begitu banyak dan bermacam-macam masalah. Misalkan saja, setiap manusia akan mengalami kehilangan dan perpisahan dengan orang yang dicintainya. Ada yang kehilangan orangtua karena meninggal, ada yang harus berpisah dengan kekasih, bahkan ada juga yang kehilangan kekayaan dan sebagainya. Hal yang membedakan pengalaman kehilangan dan perpisahan tersebut adalah sikap mereka. Beberapa dari mereka tidak mau menerima hal tersebut dan mengganggapnya sebagai kehancuran hidup, sehingga mereka mengalami kesedihan yang tak kunjung usai dalam hidupnya. Saat itulah jiwa mereka mungkin telah mati. Namun beberapa yang lainnya akan bertahan dan melewati salah satu pengalaman paling menyakitkan itu (kehilangan dan perpisahan). 
Saya melihat alasan mereka mampu melewati kesulitan, tidak mengalami kehancuran, dan tetap hidup jiwanya adalah kekuatan iman mereka, yaitu kepercayaannya pada Tuhan Yesus serta adanya dukungan sosial. Itulah salah satu alasan mengapa Tuhan Yesus adalah sumber air hidup, dimana tanpa air kita dapat mati. Tuhan Yesus menguatkan kita dalam kesulitan, ketidakberdayaan, serta keterpurukkan. Mungkin kebanyakan dari kita akan berlari pada Tuhan ketika merasa tidak ada jalan keluar lagi akan keadaan dan masalah yang dialami. Tetapi justru saat ada kepercayaan dan kepasrahan pada Tuhan, disanalah letak kekuatan untuk menghadapi kesulitan. Oleh karena itu, ketika anda merasakan kesedihan yang mendalam, kehancuran, dan ketidakberdayaan sehingga merasa jiwa anda kering dan mati, berlarilah dan carilah Tuhan. Karena Ia mampu menyirami anda dengan air kehidupan.
“Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." (Yohanes 7:38)
(PSY)

Terminal Puisi

Air Hidup


Siapa saja yang haus akan Aku, Akulah air hidup itu
Aku akan memberikan kelegaan dahaga.
Air hidupMu oh, Tuhan menyegarkan jiwaku yang layu.
Air hidupMu membuat panas hati ini telah menjadi
Sejuk seperti embun pagiMu.
Air hidup itu kebenaranMu, membuat aku tak lagi
tersesat di jalan nista dan membuat aku tak haus lagi
karena telah memancar dari kasihMu di hati ini bagi
sesama.

Ipung

Evangelisasi

MENGKONKRITKAN IMAN DALAM PELAYANAN

Pengalaman kurnia-kurnia Roh, penggunaan bakat-kemampuan kita untuk kehidupan jemaat serta kesaksian Injil, tak boleh merupakan kegiatan, pekerjaan atau kesibukan melulu. Bukannya asal makin banyak aktivitas (dan aktivitas itu makin rapiterpadu), kita pasti makin maju sebagai Gereja. Memang masih perlu diserukan, agar segenap umat, semua anggotanya, sungguh-sungguh ikut dalam pengembangan jemaat serta melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan paroki, dan aktif turut serta dalam kerasulan. “Tanggapan-tanggapan” memang ada yang menyebut-nyebut usaha-usaha sosial-ekonomi atau aksi sosial juga, menyinggung adanya panitia atau seksi sosial dalam paroki, (kesannya terutama sosial-karitatif). Di bidang “rohani” (liturgi, pewartaan, pendalaman iman) makin banyak dari umat yang secara langsung ikut serta, meskipun sering mereka belum diterima sungguh sebagai partner imam dalam karya pastoral seperti mereka harapkan.
Tetapi dalam hal kemasyarakatan kegiatan lahiriah dengan bentuk kelembagaannya (organisasi, struktur) acap kali ditekankan, kesannya agak berlebihan. Sedangkan penjiwaannya batiniah oleh iman tidak tampil, jangan-jangan malahan terabaikan. Tidak jarang terasa ada “pemisahan” antara aktivitas warga Katolik khususnya di bidang kemasyarakatan (sosial, ekonomi, politik, budaya pada umumnya), dan di lain pihak penghayatan iman, yang seolah-olah tersisihkan menjadi bidang “rohani” yang tersendiri. Lalu iman terasa “tidak berarti, tidak memberi inspirasi” untuk bidang kegiatan yang bersifat “keduniaan” atau profan itu! Di situ orang merasa tidak sempat memperdalam imannya. Agaknya sering pula umat merasa kurang mendapat bimbingan dari para pastor. Padahal justru di situlah tokoh-tokoh kita diharapkan menyumbangkan ilmu-pengetahuan, keahlian atau ketrampilan masig-masing, dan dengan demikian berperanan kritis membangun demi pengembangan paripurna manusia dan masyarakat.
Iman kita wujudkan dan berkembang justru dalam usaha meningkatkan kesejahteraan sesama: kita mengehendaki perbaikan kondisi-kondisi hidup mereka, sehingga hidup yang layak manusiawi memungkinkan mereka dengan hati yang bebas mencari dan menemukan Tuhan; dan itu kita usahakan terdorong oleh motivasi tulus membantu mereka demi Tuhan, bersih dari segala pamrih; tidak perlu kita langsung menyaksikan hasil nyata usaha kita; cukuplah hendaknya bagi kita, bahwa dalam berusaha itu kita mengabdi Tuhan. Tenaga dan kemampuan sedapat mungkin kita tuangkan dalam usaha itu, sehingga sesama sungguh tertolong. Dan kerelaan untuk membaktikan diri itu bersumber pada persatuan kita dengan Kristus, yang hidup dalamdiri kita pun sekaligus ingin kita jumpai dalam diri sesama.
Tentu untuk memperdalam iman diperlukan pengetahuan agama secukupnya. Artinya: memadai mengingat mutu pendidikan, situasi dan kondisi, serta tempat kedudukan masing-masing. Yang dalam masalah kita meminta perhartian khusus ialah: ajaran tentang “Gereja dalam dunia modern”, menyangkut soal pewartaan Injil dalam dialog dengan masyarakat; pembangunan hidup membudaya, sosial, ekonomi dan politik, berdasarkan azas-azas kristiani tentang martabat pribadi dan hidup bermasyarakat.
Untuk mengembangkan imam pasti sangat membantu juga adanya “gerekan” (kelompok-kelompok) doa atau renungan (rekoleksi dan sebagainya), perndalaman Kitab Suci, pendalaman iman, dan lain-lain. Begitulah sabda Tuhan makin meresapi kita secara mendalam dan menyeluruh. Tetapi kiranya itu belum cukup. Iman itu sikap kita menjawab panggilan Tuhan. Sikap itu berkembang, bila kita menanggapi peristiwa dan situasi konkrit serta tantangannya “dalam iman”, artinya: situasi dan peristiwa kita nilai maknanya bagi keselamatan kita atau sesama. Keselamatan itu menyangkur manusia seutuhnya, berawal dari hidup layak manusiawi, sesuai dengan martabat pribadi kita, di dunia ini. Dari iman kita gali amanat, pedoman, untuk mengambilsikap, menempatkan diri terhadap sesama, menangani kenyataan. Kemudian kita menentukansikap serta menempuh langkah-langkah, untuk membawa diri dan sesama mendekati Tuhan, tujuan hidup kita.
Iman kita berkembang, bila sikap serta langkah-langkah itu kita ambil berdasarkan motivasi iman. Motivasi itu mendorong kita untuk tindakan nyata mencintai sesama demi Tuhan. Sesama kitapun kita pandang dalam iman, artinya dalam perspektif panggilan mereka untuk hidup kekal. Sejauh tergantung dari kita, mau kita usahakan, agar karya Tuhan dalam diri mereka disambut dengan hati terbuka. Sikap iman memang mengandung penyerahan diri kepada Tuhan. Tetapi tidak bererti “pasrah total”, seolah-olah Tuhan sendiri kita persilakan mengerjakan segala sesuatu. Tuhan tetap hadir dan berkarya dalam mayarakat untuk menyelamatkannya. Itulah yang kita imani. Usaha-usaha kita dalam pembangunan, darma-bakti dan jasa-sumbangan kita melalui profesi atau kegiatan lain untuk kesejahteraan sesama kita membuktikan dan
 mengungkapkan, bahwa di balik semua susah-payah itu Tuhan sendirilah, yang menghendaki damai sejahtera bagi rakyat dan tetap berkarya di tengahnya.
Iman yang sejati takkan membiarkan kita “berpandangan ke dalam”, seakan-akan satu-satunya yang penting: asal kita sendiri selamat. Kehadiran Roh tidak terkungkung dalam batas-batas Gereja yang kelihatan. Ia yang hadir dalam diri kita sebagai “Kelimpahan ilahi”, mendesak kita untuk membaktikan diri kepada sesama. Dengan mempertaruhkan diri dan menyumbangkan tenaga kemampuan kita demikian itulah kita berkembang dalam penghayatan iman kita.
Hidup rohani sebagai awam harus mendasar corak-cirinya menurut situasi serta kondisi kita, yang pada dasarnya ialah situasi “keduniaan”: hidup berkeluarga, lingkungan pekerjaan sehari-hari, profesi atau jabatan kita, kegiatan sosial. Suburnya kegiatan itu bersumber pada persatuan vital dengan Kristus. Persatuan itu digariskan dengan upaya-upaya rahmat, terutama dengan secara aktif ikut serta dalam liturgi (AA 4). Efisiensi kerja dan lengkapnya peralatan, kemahiran dan ketrampilan, organisasi, struktur dan mekanisme yang tepat guna, itu semua penting, tak boleh diabaikan. Tetapi kalau kita mau merasul dalam arti sesungguhnya, bukan itu saja yang harus kita andalkan. Maka dalam usaha kita meningkatkan kadar kerasulan kita, pembinaan spiritualitas awam (corak hidup rohaninya, yag bernada lain dari hidup rohani biarawan atau imam) tidak boleh dilalaikan.
Bukan saja sikap iman perorangan, tetapi penghayatan iman bersama (jemaat, paroki) pun sangat diwarnai oleh situasi maupun kondisi lingkungannya. Dengan tetap mengikuti perkembangan serta menanggapi situasi itu penghayatan iman dengan sendirinya lambat laun “membudaya”, mengalami proses inkulturasi. Baik hidup batin maupun ungkapan lahirnya bertumbuh secara otentik, tampil dalam keasliannya. (Stefan Surya)

Info Paroki


Baptis Dewasa :
22/12/2012:
1. Agustinus Michael Wijaya (Jl. Cibalagung Rt. 06 Rw. 03 Des. Batutapak, Bogor Barat)
2. Albertus Ricky Suhandy (Jl. Siliwangi)
3. Alexander Christian Warnaly (Warung Bandrek Rt. 02 Rw. 03 No. 3, Bogor)
4. Anastasia Monika Alexander (Sukamaju, Kel. Sukamantri, Kec. Taman Sari, Kab. Bogor)
5. Benediktus Christoffel Warnaly (Warung Bandrek Rt. 02 Rw. 03 No. 3, Bogor)
6. Clara Tjhin Ing Nge (BNR Tirta Nirwana No. 78)
7. Elisabeth Ni Luh Putu Indrawati (Kp. Bantar Peuteuy Rt. 002 Rw. 004 Tajur, Bogor Timur)
8. Emilia Merlin Christina (Gg. Singer No. 9 Rt. 003 Rw. 007, Bogor)
9. Eufrasia Faustina Amelia (Jl. Siliwangi Rt. 02 RW. 13 No. 42, Bogor)
10. Eusebius Yosev (Blok C3 No. 12)
11. Fransiskus Xaverius Nicholas (Perumahan Bogor Lakeside Aster 06 No. 5)
12. Gregorius Peter Wangsadinata (BNR Cluster Tirta Nirwana No. 78)
13. Laurentia Lussy (Jl. Cipaku Babakan Baru Rt. 02 Rw. 14 No. 150)
14. Maria Josephin Sri Ratna (Gardu Tinggi No. 1/9 Rt. 002 Rw. 007, Kel. Sukasari)
15. Michael Wilson (Perumahan Bogor Lakeside Aster 06 No. 5)
16. Stella Pricillya Tamareynee Ngantung (Jl. Carita BV No. 20 B. S. I, Bogor)
17. Stefanus Yandi Kurniawan (Jl. City No. 23 Rt. 02 Rw. 08 Kel. Gudang, Kec. Bogor Tengah)
18. Verena Stevanny Tamareynee Ngantung (Jl. Carita Blok BV No. 20 B. S. I, Bogor)
19. Vincentia Yelysia Halim (Jl. Suryakencana No. 29 Rt. 03 Rw. 06, Bogor 16141)
20. Vinsensius Surya Wijaya (Jl. Bondongan Gg. Apu No. 21)
21. Yohanes Danar Basuki (Griya Katulampa)
22. Yusuf Iskandar (Jl. Roda Gg. Padajaya II No. 42 Rt. 01 Rw. 05)

Penerimaan Ke Dalam Gereja Katolik :
22/12/2012:
1. Dominikus Teddi Purwanto (Jl. Cipaku Blok G/25)
2. Elisabeth Erika Marline Hutabarat (Jl. Riau No. 30)
3. Mikael Amin Iskandar (Gg. Balekambang No. 18 Rt. 03 Rw. 04, Bogor Selatan)
4. Mikhael Teddy Haryanto (Kp. Cincau Rt. 04 Rw. 09 No. 16)

Pemberkatan Perkawinan :
30/12/2011 : Nicola Mecha Panca Rika (St. Stefanus) dengan Ignatius Widiatma (Paroki Tomang, Maria Bunda Karmel Jakarta)
07/01/2012 : Grasia Valerie Sandra Dewi (St. Antonius) dengan Nugroho Halim Wijaya (Jakarta)

Pengukuhan Perkawinan :
24/01/2012 : Antonius Kus Hendratno (St. Antonius) dengan Elisabeth Ni Luh Putu Indrawati (St. Antonius)

Berita Duka :
25/12/2011 : M. M. Liauw Ing Hoa (55 thn) dari Jl. Pahlawan Gg. Mesjid 94B - St. Maria Fatima. Dikremasi pada tgl. 28/12/2011 di Cilincing.
02/01/2012 : Terry Utama Theresia (85 thn) dari Jl. Sukamulya 13, Bogor - St. Thomas Aquino. Dikremasi pada tgl. 05/01/2012 di Cilincing.
07/01/2012 : Maria Magdalena Erny (63 thn) dari Warung Bandrek Rt. 03 Rw. 05 No. 33 - St. Thomas Aquino. Dikremasi pada tgl. 09/01/2012 di Cilincing.
16/01/2012 : Maria Magdalena Deesiana Soewana (80 thn) dari Sukasari I/16 - St. Thomas Aquino. Dikremasi pada tgl. 18/01/2012 di Cilincing.
17/01/2012 : Maria Bernadette Boen Soei Djie (80 thn) dari Layung Sari - St. Maria Fatima. Dikremasi pada tgl. 19/01/2012 di Nirwana.

Kalender Liturgi Maret 2012


Ujud Umum : Semoga seluruh dunia dapat mengakui sumbangan perempuan bagi perkembangan masyarakat.
Ujud Misi : Semoga Roh Kudus menganugerahkan ketabahan kepada mereka yang menderita akibat diskriminasi, penindasan atau kematian demi nama Kristus, khususnya di Asia.
Ujud Gereja Indonesia : Semoga pemerintah Indonesia berani mengambil langkah tegas terhadap siapa pun yang mengancam kebhinnekaan bangsa.


Kamis, 1 Maret 2012 : Est. 4:10a,10c-12,17-19; Mat. 7:7-12; Kel. 12:1-20
Jumat, 2 Maret 2012 : Yeh. 18:21-28; Mat. 5:20-26; Kel. 12:21-36
Sabtu, 3 Maret 2012 : Ul. 26:16-19; Mat. 5:43-48; Kel. 12:37-49, 13:11-16
Minggu, 4 Maret 2012 : HARI MINGGU PRAPASKAH II Kej. 22:1-2,9a,10-13,15-18; Rm. 8:31b-34; Mrk. 9:2-10; Kel. 13:17-14:9
Senin, 5 Maret 2012 : Dan. 9:4b-10; Luk. 6:36-38; Kel. 14:10-31
Selasa, 6 Maret 2012 : Yes. 1:10,16-20; Mat. 23:1-12; Kel. 16:1-18,35
Rabu, 7 Maret 2012 : Yer. 18:18-20; Mat. 20:17-28; Kel. 17:1-16
Kamis, 8 Maret 2012 : Yer. 17:5-10; Luk. 16:19-31; Kel. 18:13-27
Jumat, 9 Maret 2012 : Kej. 37:3-4,12-13a,17b-28; Mat. 21:33-43,45-46; Kel. 19:1-19; 20:18-21
Sabtu, 10 Maret 2012 : Mi. 7:14-15,18-20; Luk. 15:1-3,11-32; Kel. 20:1-17
Minggu, 11 Maret 2012 : HARI MINGGU PRAPASKAH III Kel.20:1-17; 1Kor. 1:22-25; Yoh. 2:13-25; Kel. 22:20-23:9
Senin, 12 Maret 2012 : 2Raj. 5:1-15a; Luk. 4:24-30; Kel. 24:1-18
Selasa, 13 Maret 2012 : Dan. 3:25,34-43; Mat. 18:21-25; Kel. 32:7-11,18-23
Rabu, 14 Maret 2012 : Ul. 4:1,5-9; Mat. 5:17-19; Kel. 33:7-11,18-23;34:5-9,29-35
Kamis, 15 Maret 2012 : Yer. 7:23-28; Luk. 11:14-23; Kel. 34:10-28
Jumat, 16 Maret 2012 : Hos. 14:2-10; Mrk. 12:28b-34; Kel. 35:30-36:1;37:1-9
Sabtu, 17 Maret 2012 : Hos. 6:1-6; Luk. 18:9-14; Kel. 40:16-38
Minggu, 18 Maret 2012 : HARI MINGGU PRAPASKAH IV 2Taw. 36:14-16;19-23; Yoh. 3:14-21; Im. 8:1-17; 9:22-24
Senin, 19 Maret 2012 : HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA 2Sam. 7:4-5a,12-14a,16; Mat. 1:16,18-21,24a atau Luk. 2:41-51a
Selasa, 20 Maret 2012 : Yeh. 47:1-9,12; Yoh. 5:1-16; Im. 19:1-18,31-37
Rabu, 21 Maret 2012 : Yes. 49:8-15; Yoh. 5:17-30, Im. 26:3-17,38-45
Kamis, 22 Maret 2012 : Kel. 32:7-14; Yoh. 5:31-47; Bil. 3:1-13; 8:5-11
Jumat, 23 Maret 2012 :  Keb. 2:1a.12-22; Yoh. 7:1-2,10-23; Bil. 9:15-10:33-36
Sabtu, 24 Maret 2012 : Yer. 11:18-20; Yoh. 7:40-53; Bil. 11:4-6,10-33
Minggu, 25 Maret 2012 : HARI MINGGU PRAPASKAH V Yer. 31:31-34; Ibr. 5:7-9; Yoh. 12:20-33; Bil. 12:1-15
Senin, 26 Maret 2012 : HARI RAYA KABAR SUKACITA Yes. 7:10-14; 8:10; Ibr. 10:4-10; Luk. 1:26-38; 1Taw. 17:1-15
Selasa, 27 Maret 2012 : Bil. 21:4-9; Yoh. 8:21-30; Bil. 14:1-25
Rabu, 28 Maret 2012 : Dan. 3:14-20,24-25,28; Dan. 3:52,53,54,55,56; Yoh. 8:31-42; Bil. 16;1-11,16-24; Bil.16:1-35
Kamis, 29 Maret 2012 : Kej. 17:3-9; Yoh. 8:51-59; Bil. 20:1-13; 21:4-9
Jumat, 30 Maret 2012 : Yer. 20:10-13; Yoh. 10:31-42; Bil. 22:1-8a,20-35
Sabtu, 31 Maret 2012 : Yeh. 37:21-28; Yer. 31:10,11-12ab,13; Yoh. 11:45-56; Bil. 24:1-19

Refleksi Hidup Bung Francis


Cover Belakang Februari 2012


Rabu, 18 Januari 2012

Cover Depan Januari 2012


Redaksi Menulis


Tahun 2011 telah berlalu dan tahun 2012 telah tiba. Setiap kali kita merayakan Tahun Baru, ada beberapa makna yang dapat kita renungkan. Pertama, kita mesti bersyukur atas tahun yang telah kita lalui. Semua yang membuat kita bahagia ataupun bersedih adalah rahmat, yang dapat menjadi sarana bagi kita untuk mengembangkan iman.
Kedua, kita boleh bergembira dan bersemangat menerima rahmat berupa waktu dan kesempatan baru. Kita masuki Tahun Baru dengan semangat, kegiatan dan tantangan baru.
Ketiga, setiap kali kita merayakan Tahun Baru, ada harapan yang membentang di hadapan kita. Harapan untuk lebih berkembang dan maju, harapan untuk hidup lebih baik di waktu yang akan kita lewati, harapan akan keberhasilan dst.
          Marilah kita mulai memasuki Tahun Baru 2012 ini dengan penuh syukur dan semangat. Kita persembahkan hidup kita kepada Tuhan. Biarlah Tuhan yang merajut kehidupan kita, membimbing kita dalam melangkah, dan memompakan semangat dalam setiap pergumulan hidup kita.
Selamat Tahun Baru 2012, Tuhan memberkati!

Sajian Utama 1

Hidup Baru Dalam Kristus Untuk Menghadapi Tahun 2012


Berbagai perubahan yang harus kita hadapi dewasa ini telah benar-benar menyadarkan kita bahwa kita adalah makhluk yang membuat sejarah, dibentuk oleh masa lalu dan untuk membentuk masa depan yang lebih baik. Tantangan-tantangan yang kita hadapi menyadarkan kita akan kehidupan di luar diri kita dan keluarga kita. Masalah-masalah ekonomi, sosial, politik dan geopolitik modern menjelaskan bahwa segalanya saling berkaitan.
Sebagai umat Kristiani kita tidak bisa menghindar dari masalah atau tantangan yang ada di dalam hidup kita. Kita harus menghadapinya serta mengatasi segala masalah dan tantangan yang merintangi perjalanan hidup kita di dunia ini agar masa depan yang kita bentuk akan menjadi bertambah baik seiring bertambahnya usia kita, dan menjadi tahun yang penuh kebahagiaan, kedamaian, kesejahteraan yang berkenan dan sesuai dengan kehendak Tuhan. 
Untuk itu kita dapat mengambil hikmah dan mengikuti ajakan serta teladan yang diberikan Saulus yang menjadi Paulus. Banyak guru rohani mendesakkan pertobatan dan pembangunan hidup. Tetapi tidak seorangpun menunjukkan keharusan ini begitu mendesak seperti Rasul Paulus, karena ia sendiri mengalami sentuhan Roh Kristus yang dahsyat itu. Ia bicara, dan mengajak atas dasar pengalaman pribadinya.
Paulus pernah hidup menurut paham darah daging, agama fanatik atas dasar kebangsaan sebagai orang Yahudi. Tetapi kemudian ia bertobat (lihat Kis 9:1-19a), ketika ia disergap, dikuasai oleh Kristus, yang memasukkan unsur salib dan kebangkitan Putera Allah, Penebus bagi segala bangsa. Cinta Kristus ini memesona pribadi Paulus yang dasar bercita-cita tinggi dan bersemangat menyala. Ia menyerahkan diri, seluruhnya direnggut, dijiwai, digerakkan dalam kebersatuan dengan Kristus. Paulus tahu apa artinya hidup baru dalam Kristus (lihat Ef 4:17-32). Ajaran Kristus itu bukan ilmu pengetahuan, tetapi paham yang meresapi kesadaran, hingga mengubah keyakinan manusia, yang mengarahkan roh dan pikiran menjadi manusia baru dalam Kristus. Ciptaan baru ini dibentuk “menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya” (Ef 4:24). Ini pengalaman Paulus lagi setelah ia bertobat. Semua pikiran dan usaha sebelumnya yang tidak menuju Kristus dianggap kesia-siaan belaka, yang harus diganti dengan pikiran Kristus dan persatuan dengan hidup dan perbuatanNya.  
Segala sesuatu di dunia ini tidak berarti lagi, kalau tidak diarahkan kepada yang di atas, yang dari kekal, yang abadi, seperti dinyatakan dalam diri Kristus, setelah bangkit dan duduk di sisi Bapa. Dari ketinggian pandangan ini Paulus mau memurnikan hidup, sikap dan perbuatan umatnya yang baru saja bertobat, mereka harus meninggalkan: “percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala” (Kol 3:5). Sebagai orang Kristiani dalam hidup baru, kita telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan  telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui, untuk itu kita diingatkan harus membuang serta meninggalkan semua kepalsuan, serta segala hawa amarah, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor dan dusta. Sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kita diajak oleh Rasul Paulus melalui suratnya kepada jemaat di Kolose untuk: kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran serta saling mengampuni. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan (Kol 3:5-17). Pengalaman Rasul Paulus tersebut  telah menyadarkan kita bahwa, seluruh arah hidup manusia harus bergerak menuju Kristus agar dapat memberikan kebahagiaan dan keselamatan sepenuhnya di dalam Dia.


SELAMAT TAHUN  BARU  2012


Stefan Surya

Sajian Utama 2

Berjalan Bersama Yesus


Setiap akhir tahun, kita terpanggil untuk merefleksikan perjalanan hidup kita yang telah dilewati. Selain mensyukuri sukses, kita diharapkan melihat dunia saat ini dimana kehidupan begitu kian rawan dan terancam. Ketidakadilan dan kesenjangan sosial amat tampak jelas. Disatu sisi banyak kaum kaya bergelimang materi, rajin memamerkan segala atribut penampilan mereka, dengan berbagai cara sibuk mempopulerkan diri untuk menyenangkan pribadinya. Sementara disisi lain, kian banyak orang miskin yang harus berhadapan dengan ancaman kelaparan, bahkan kematian.

Demikian pula banyak umat Allah yang berduka cita melihat kondisi kehidupan menggereja saat ini. Kasih persaudaraan terasa kian menipis, ada umat yang saling berlomba mengangkat potensi diri namun bersikap sombong, merasa paling hebat/pandai, namun tidak mau bekerja sama, lebih mementingkan kelompoknya sendiri, arogan/memaksakan kehendaknya sendiri, tidak peka dan peduli pada kesusahan yang dialami rekannya. Bahkan iman kristianipun kian menipis karena umat kristianipun tergoda mengikuti budaya sekuler/modern. Sikap-sikap seperti itu tentu saja menjadi penghalang gereja memancarkan kemuliaan Tuhan. Dan sumber segala kekacauan tersebut adalah egoisme yang kuat yang bertahta dalam hati banyak orang.

Dalam diri Yesus, Allah telah merendahkan diri sehabis-habisnya dengan menjadi manusia yang menurut status sosial Dia termasuk anggota masyarakat kelas bawah. KelahiranNya dalam sebuah kandang domba melambangkan Yesus yang datang kedalam dunia ini dengan segala kesederhanaan dan kerendahan hati untuk melayani secara tulus ikhlas kepada semua manusia dan menawarkan keselamatan.

Demikian pula Yohanes Pembaptis yang sudah menerima kebaikan Tuhan juga datang memberikan pelayanan ikhlas kepada sesamanya. Hal tersebut bukan karena ia merasa berhutang budi, melainkan terdorong untuk mewartakan kepada sesama tentang kasih kebaikan Tuhan yang sudah dialaminya sendiri sejak dalam kandungan ibunya. Ia tumbuh menjadi pribadi yang meneladani pola hidup Yesus sendiri.
Dalam Lukas 7:18-35, Yesus menggambarkan pribadi Yohanes Pembaptis sebagai berikut :

1. Yohanes Pembaptis mampu menjadi “besar” dengan segala keterbatasannya sebagai manusia. Kitapun hendaknya seperti Yohanes pembaptis yang menjadi “besar” bukan karena segala kelebihan kita, tetapi karena segala keterbatasan kita. Kebesaran Yohanes bukan karena ia sekeras batu karang atau besi baja. Justru Yohanes digambarkan Yesus sebagai tokoh yang rapuh seperti buluh bambu (Luk 7:24). Dari segi fisik pun, Yohanes tidak sebesar dan setinggi goliat atau sekekar rambo. Yohanes seorang yang ulet, teguh dalam pendirian, walau kadang-kadang digoyang dan diombang ambingkan angin ke kanan dan ke kiri, tapi ia tidak goyah. Demikian pula dalam menghadapi arus globalisasi dan pengaruh budaya sekuler/modern, kita hendaknya mampu mengendalikan diri sendiri.
2. Yohanes Pembaptis adalah seorang yang sederhana. Ia bukan dari kalangan selebritis, bangsawan, milyuner , yang tampil modis dan bergelimang harta benda. Pertanyaan Yesus pada Luk 7 : 25; Apakah Yohanes seorang yang suka berpakaian indah? suka hidup mewah? dan tinggalnya di istana? Pasti harus kita jawab : tidak!!  Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit (Mat 3:4). Tinggalnya pun di padang gurun. Kebesaran Yohanes tidak terlihat pada penampilan lahiriahnya tetapi pada kualitas, integrasi dan karakter pribadinya. Bila Yohanes hidup pada jaman sekarang ini, saya jamin Yohanes tidak akan tertarik untuk mengkoleksi atau membeli berbagai gelar akademis seperti profesor, dr, dll didepan namanya. Ataupun membuktikan kesuksesannya dengan membangun istana-istana, semangat untuk memiliki mobil alphard, blackberry, dll. Yohanes Pembaptis seorang yang sederhana, tidak mudah termakan godaan. Ia merasa cukup dengan apa yang ada, segala sesuatunya diterima dan disyukurinya. Oleh sebab itu, ia tidak akan mempan tergoda, sekalipun diberi iming-iming harta benda dan mungkin saja “wanita”.
3. Yohanes Pembaptis yang berani (Luk 3:1-20). Banyak bawahan yang takut ditegur, digeser  jabatannya, tidak berani melawan pimpinannya yang salah. Tapi Yohanes sebagai tokoh yang pemberani untuk mengatakan suatu kebenaran, apapun resikonya. Malah ia harus masuk penjara (Luk 3:20) dan menjalan eksekusi mati, karena pemintaan Herodias yang tersinggung atas teguran Yohanes ( Mat 14:1-12). Yohanes tidak cuma berkata-kata saja tapi ia juga bertindak sesuai kata-katanya itu. Ia tidak hanya mengajar dengan kata-kata tetapi dengan praktek hidup. Banyak orang hanya berani menyuarakan kebenaran sebatas kata-kata/teori saja tetapi tidak disertai aksi/tindakan. Padahal tindakan dan keteladanan memiliki kekuatan tiga kali lipat untuk mengubah orang daripada cuma nasehat-nasehat / kata-kata saja.
4. Yohanes Pembaptis yang rendah hati (Luk 3:16). Yohanes tidak menganggap dirinya sebagai orang yang hebat, orang yang punya peranan penting, orang nomor satu, orang yang punya kuasa. Melainkan ia menilai dirinya sebagai orang nomor sekian. Luk 3 : 16 :” Aku membaptis kamu dengan air, tapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasutNya-pun aku tidak layak..” Dalam suatu komunitas/organisai, orang-orang seperti Yohanes ini sangat dibutuhkan. Artinya mempunyai jiwa besar untuk mempersilakan orang lain untuk tampil kedepan, rela dipimpin orang lain bila sudah tidak lagi di posisi depan, tidak malu/gengsi dan tanpa sungkan mempersiapkan regenerasi. Sikap-sikap seperti itu sesuai sosok dambaan Ki Hajar Dewantara : “ Ing ngarso sung tulodo (didepan memberi teladan), Ing madya mangun karsa (ditengah ikut bekerja bersama-sama), Tut wuri handayani “ (dibelakang selalu memberi dorongan/semangat).
Itulah semangat menyongsong tahun 2012! Tahun dimana kita semua sebagai umat Allah saling membangun untuk menyelamatkan bahtera “gereja” kita. Lakukan perubahan hidup lama kita, dengan menetapkan hati, membulatkan tekad untuk mengambil sikap, melaksanakan tindakan serta menunjukkan prilaku baru yang berbeda dengan yang sebelumnya. Mengubah  kelemahan-kelemahan kita menjadi kekuatan. Sesungguhnya kita bisa mengatasi kelemahan-kelemahan kita tersebut, tetapi seringkali kita tidak mau.

Tumpukan segala masalah dlam kehidupan di dunia ini, termasuk masalah-masalah dalam kehidupan menggereja, mustahil untuk dapat diatasi sendiri-sendiri, melainkan sangat dibutuhkan kerjasama dan kekompakan.

Sebagai umat Allah, kita bekerja bersama-sama untuk mengabdi dan melayani sesama dengan penuh cinta kasih dan tulus ikhlas. Kita mau melayani sesama atas dasar karena kita cinta akan sesama, bukan karena untuk mencari kesibukan sendiri. Karena mencari kesibukan sendiri berarti sebenarnya bukan bekerja untuk melayani Tuhan, tetapi untuk kepentingan diri sendiri, dengan harapan, hasilnya dapat segera dirasakan sendiri. Untuk kepuasan diri sendiri. Kesibukan tersebut berarti masing-masing berakitifitas tanpa dialog/komunikasi dan perhatian, bahkan bisa saling sikut/mematikan semangat. Akibatnya kita semua seperti berjalan menggunakan kacamata kuda, bukan kacamata iman.

Orang yang menjalani hidupnya dengan sadar dan serius, akan selalu merenung secara mendalam disertai doa yang khusyuk, Kita mohon rahmat Tuhan agar kita diberiNya kemauan keras dan ketegaran iman untuk mengatasi segala kelemahan kita. Berjalan bersama Yesus, mari kita songsong tahun mendatang dengan hidup baru. Selamat tahun baru 2012!!!

(P.V. Selviana Waty)