Senin, 11 April 2011

Cover Depan April 2011

Redaksi Menulis

Perjalanan retret agung selama 40 hari adalah perjalanan tobat yang penuh dengan sukacita, kita semua diajak oleh Yesus Sang Gembala yang menakjubkan, yang mau memberikan hidupNya untuk mengampuni kita dari keterpurukan dunia yang semu.
Dalam retret agung ini kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang membuat kita kembali kepangkuanNya, Berdoa, Ibadat Jalan Salib, Pendalaman Iman APP, Ibadat Tobat, Pengakuan Dosa, Ibadat Tuguran, dan Aksi Amal Kasih.
Begitu indahnya yang ditawarkan oleh Sang Gembala Agung kepada kita semua, karena kita tahu di balik salib yang kita pikul ada kemenangan, disana keselamatan menanti kita dan kita percaya kebangkitannya akan menyempurnakan kita dalam mengasihi. Selamat Paskah 2011!!

Sajian Utama 1

Puasa dan Salib Yesus

Yesus tidak membebaskan diriNya dari tuntutan tubuh manusia, Ia menjelma menjadi manusia dan kemudian berpuasa justru untuk merasakan itu. Saat puasa Ia tidak makan, tidak minum, selama Ia dipuaskan oleh suatu santapan: “MakananKu ialah melakukan kehendak Bapa” (Yoh 4:34). Dan ini inti pokok bagi puasa kristiani: berpuasa dalam segala hanya berdoa dan berusaha, agar kehendak Bapa terlaksana di dalam hidup. Puasa kristiani bukan prestasi, tetapi perendahan diri di hadapan Tuhan, puasa bukan rutin, bukan tujuan. Puasa mempunyai makna, dan patokannya ialah Yesus. Injil Matius 9:14-15 mengatakan: Kemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata: “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-muridMu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa”. Bila dalam kehidupan rohani orang lebih dikuasai oleh kebiasaan, oleh rutinitas, tidak lagi melihat pada tujuan dan makna, maka akan dapat menimbulkan akibat yang tidak sesuai dengan tujuan hidup rohani yang sebenarnya. Demikian dengan orang Farisi yang berpegang pada Taurat dan pada adat istiadat nenek moyang (Mat 15:2). Ketika Yesus yang mau berbuat baik, melayani, menyembuhkan orang sakit, menghidupkan manusia, justru ditentang oleh mereka yang terbelenggu oleh adat-istiadat, kebiasaan hidup yang turun-temurun dari nenek moyang mereka. Dalam perbuatan puasa, dalam rutin menjalani aturan sebaiknya dilihat maknanya dan menyesuaikan perbuatan dengan tujuannya yaitu terlaksananya kehendak Bapa.
Yesus jelas menempatkan diriNya di tengah segala keadaan, pada setiap saat kehadiran Yesus merupakan kebutuhan setiap orang yang percaya padaNya, sebagai norma bagi seluruh kehidupan manusia. Berada bersama Dia sebagai Sang Mempelai, perjumpaan dengan Dia dalam doa, kebersamaan dengan Dia dalam hidup dan karya, itu merupakan kebahagiaan yang melebihi segala yang harus diperjuangkan, dan untuk mencapai itu seluruh kehidupan harus dibina sesuai dengan kehendak Tuhan. 
Pada Lukas 5:35, Yesus berkata: “Akan datang waktunya, apabila mempelai itu diambil dari mereka, pada waktu itulah mereka akan berpuasa”. Puasa itu tepat untuk mengakui, bahwa kita dilahirkan di dunia ini tidak memiliki apa-apa, mengakui kemiskinan kita sebagai makhluk ciptaanNya, yang dalam segala hal tergantung dari Allah, yaitu: hidup kita, kesejahteraan, kesehatan kita dan lain sebagainya. Apalagi sebagai makhluk berdosa, yang memerlukan pendamaian; ini kita siapkan dengan tobat, doa, puasa, selama waktu Sang Mempelai diambil dari tengah-tengah kita.
Bila “mempelai diambil dari mereka”, para murid mengalami kegoncangan hidup, murid akan mendekat pada Sang Guru dengan rendah hati dan berpuasa, agar terang Tuhan mengusir kegelapan di dalam hidup. Setelah jatuh dalam dosa, yang mengakibatkan putusnya hubungan dengan Yesus, orang harus kembali dengan sesal dan tobat, mengaku dirinya sebagai manusia pendosa, tetapi juga tahu dan penuh percaya bahwa sebagai pendosa ia dicinta dan diampuni oleh Tuhan (Mat 9:13). “Mempelai diambil”, untuk menggenapi karya penyelamatan Allah, yaitu Yesus harus menuju dan memikul salib demi untuk menebus dosa-dosa manusia serta memberikan keselamatan kepada mereka yang berkenan padaNya.     
Dengan puasa, orang mengendalikan diri dari segala nafsu; menghindari: kenikmatan, kesenangan sesaat, godaan yang menggelitik, ambisi untuk dikagumi orang; menghindari untuk tidak makan, minum yang membuat ketagihan; dapat menguasai dan menang dari bujuk rayu, godaan kenikmatan dunia. Semua itu harus disertai dengan doa, bertobat, mohon belas kasih Yesus yang tersalib, di mana melalui salib, Putera menyatakan ketaatan-Nya kepada Bapa. Melalui salib, Yesus menyatakan kasihNya, kekuasaan, kebijaksanaan dan kemuliaan Allah, serta memberikan keselamatan kepada orang-orang yang dikasihiNya. (Stefan Surya)

Sabtu, 09 April 2011

Sajian Utama 2

Di Balik Salib Ada Kemenangan

Sore ini Etik merasakan langkahnya begitu berat,  sekujur badannya sakit dan terasa lunglai. Sudah satu minggu lebih, dia menghadapi saat-saat sulit. Anaknya dirawat di rumah sakit lagi. Satu anaknya lagi terpaksa ditinggal di rumah sendirian. Suaminya merantau dan bekerja di kota untuk sumber penghidupan mereka sekeluarga. Paling cepat dua bulan sekali suami Etik pulang untuk mengantarkan gajinya dan melepas kerinduan sebagai kepada keluarganya.
Anak sulung Etik menderita sakit yang sulit tersembuhkan. Sudah lima kali ini dia dirawat di rumah sakit. Kondisi phisiknya semakin lemah dan semangatnya pun semakin berkurang. Keadaan ini yang membuat Etik harus menungguinya selama dia dirawat di rumah sakit. Pagi-pagi buta, sekitar pukul setengah empat, dia sudah terjaga, membersihkan badan anak-nya dan mengganti bajunya. Setelah melakukan itu, ia pun bergegas pulang, membangunkan anaknya yang satu dan mempersiapkan sarapan bagi anaknya yang harus sekolah.Etik sendiri harus berangkat bekerja. Dia masih bersyukur karena jam kerjanya hanya sampai tengah hari. Pulang kerja, dia beres-beres rumah, mencuci, merapikan baju dan cepat-cepat bergegas ke rumah sakit untuk menunggui  Si Sulung.
Sore ini rupanya kondisi Etik mulai kurang sehat karena kelelahan. Entah kapan lagi dia bisa merasakan tidur dengan damai dan nyaman? Setiap saat diusapnya kepala anak sulungnya. Ingin sekali diberikan sisa kekuatannya untuk anaknya yang sedang ber-juang melawan penyakitnya. Selang-selang yang dialirkan ke tubuh anaknya, dirasakan oleh Etik, seakan-akan mengalirkan alunan doa yang setiap saat dibisikkannya.
Saat-saat seperti ini, Etik selalu ingat dan mendamba kehadiran Untoro, suaminya. Untoro, adalah sosok laki-laki yang menurut Etik sengaja dikirimkan oleh Tuhan untuknya. Etik tahu, Untoro selalu sediakan bahunya yang kekar itu bagi Etik, saat-saat Etik dalam kecemasan dan kelelahan. Akhirnya Etik akan men-dapatkan kedamaian dan ketenangan bila berada di dekat Untoro. Perempuan itu tersenyum, dia teringat dengan sabda Yesus, “Marilah datang kepadak , kalian yang letih dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan padamu”. Yesus, terimakasih, Engkau mengirimkan Untoro, yang boleh menjadi perantaraMu untuk meneguhkanku di saat-saat aku lemah. Etik membisikkan doa kecilnya. Sejenak, dia merenungkan perjalanan kehidupan berkeluarganya. Selama tiga tahun dia merasakan kebahagiaan dengan keluarga yang dibinanya. Semuanya terasa indah dan menyenangkan, sampai akhirnya Toto anaknya yang menginjak umur empat tahun ketahuan mengidap penyakit yang sulit tersembuhkan. Itulah awal dari perjuangan panjang kehidupan keluarga Etik.
Sore ini adalah hari ke Sembilan Toto dirawat di rumah sakit. Setelah makan dan minum obat, Toto tertidur pulas. Etik menuju teras belakang kamar tempat Toto dirawat. Dia meluangkan waktu  sejenak untuk berdoa dan merenung. Hari ini Etik berdoa Rosario dan merenungkan peristiwa duka yang dialami Yesus sebelum mendapatkan kemenangan dan berhasil menjalankan karya keselamatanNya untuk manusia. Yesus harus menjalani puasa, serangkaian penderitaan,disalibkan sampai wafat, barulah mendapatkan kemenangan. Hanya kesetiaan yang diperlukan oleh seseorang untuk tetap bisa bertahan kepada cita-cita luhurnya. Etik menyelesaikan doa rosarionya. Setelah butir-butir Rosario itu habis dia menambahkan doa kecilnya, Yesus, ampuni aku yang kadang mengeluh, yang kualami tidak seberat yang Kau alami. Bantulah aku, berikan aku kekuatan agar bisa menjalani hidupku dengan penuh kesetiaan iman kepadaMu.
Etik masuk kembali ke ruang anak sulungnya dirawat. Ternyata Toto terbangun. Tangannya melambai ke arah Etik. “Mama, aku jangan tinggalin Toto…” Etik mengengguk sambil tersenyum “Ya, mama akan selalu menunggumu Nak”. Senja semakin larut, Etik menyenandungkan lagu-lagu kesukaan anaknya perlahan-lahan, sampai Toto kembali tidur. “Selamat tidur sayang…” Ucapan itu ditujukan untuk Toto, dan juga dibisikkan untuk anak kecilnya di rumah, juga untuk Untoro. (E.Sri Hartati)

Sajian Utama 3

Keselamatan berasal dari Kasih Karunia Allah
( Efesus 2 : 1 – 10 )

Dunia modern dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bergerak kian canggih dan cepat, membuat banyak orang tidak lagi mampu memahami, mengendalikan dan menyesuaikan diri. Tawaran-tawaran biologis, psikologis, dan material yang disodorkan dunia modern terus menumpuk dan membujuk. Akibatnya, diseluruh muka bumi ini kian berkembang gaya hidup konsumtif dan hedonistik. Mereka menjadi sosok yang individualistis yang sibuk memenuhi kepentingan pribadi. Kekayaan, ketenaran dan kekuasaan menjadi satu-satunya tujuan hidup dan menjadi sarana memperoleh keselamatan. 
Di sisi lain, pada saat mereka berada dalam keadaan terpuruk, didera berbagai macam penyakit, terbelit hutang, keluarga diambang kehancuran, dll, mereka terpelosok kedalam kehidupan yang penuh kebinasaan, seperti mengkonsumsi obat penenang, narkoba, atau bahkan bunuh diri. Mereka berpikir tidak ada keselamatan lagi yang bisa diraih dalam hidupnya. Hal ini menunjukkan makna keselamatan seringkali dipahami banyak orang dalam ujud yang nyata. Kini kita hidup di abad pencerahan, namun sekaligus hidup di abad kegelapan.  Bagaimana kita sebagai anak-anak Allah menyikapinya ??
Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Rasul Paulus menjelaskan bahwa keselamatan berasal dari Allah sebagai ujud kasih karuniaNya. Allah ingin menyelamatkan semua orang, siapapun, bagaimanapun besar dosa-dosa dan kejahatan yang telah diperbuatnya. Allah ingin manusia menerima dan percaya kepadaNya. KematianNya di kayu salib adalah kematian dalam rangka menebus hukuman dosa bagi manusia yang mau percaya kepada rencana penyelamatan Allah. Keselamatan sebagai kasih karunia Allah diberikan secara cuma-cuma kepada manusia, menunjukkan tindakan Allah yang mau mengampuni orang berdosa tanpa ada jasa sedikitpun juga. Keselamatan hanya mungkin kita dapatkan, jika kita memberi jawaban atas tawaran penyelamatan Allah dengan cara menerima dan percaya kepada Yesus secara pribadi dan beriman kepada pengorbananNya di kayu salib.
(Ayat 1 – 3)  Rasul Paulus melukiskan situasi dan cara hidup jemaat yang berasal dari bangsa kafir pada masa lampau. Ia mengawali dengan :”kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu”. Dosa-dosa telah menguasai hidup mereka yang telah menyerahkan diri mereka pada dunia. Karena itu mereka ‘mati’ “Upah dosa adalah maut” (Rm 6:23a). Paulus menjelaskan tentang mengapa mereka hidup dalam dosa, yaitu karena mereka hidup mengikuti jalan dunia.  Hidupnya terarah kepada kesenangan duniawi, mengikuti roh manusia yang cenderung berbuat kejahatan seperti yang dikutip dari Kej.6:5 ; 8:21.
Selanjutnya Rasul Paulus mengatakan bukan hanya orang-orang Kristen kafir saja yang hidup dalam dosa, orang-orang Kristen Yahudi pun demikian. Paulus mengakui bangsanya tidak lebih baik daripada yang lainnya. Dalam dosa, mereka solider. Paulus mengambil pengalamannya sendiri dan pengalaman bangsanya dimana mereka hidup dalam hawa nafsu daging. Dalam Galatia 5 : 19-21, Paulus menyebutkan dosa-dosa yang diakibatkan oleh hawa nafsu daging tersebut. Ia menyadari bahwa jemaatnya juga berdosa sudah melanggar hukum-hukum Allah  dan mereka layak menerima murka Allah.
(Ayat 4-7) Berkat rahmat kasih karunia Allah, Dia menyelamatkan manusia dari kematian. Allah menghidupkan manusia bersama-sama dengan  Kristus. Kebesaran kasih Allah yang dilimpahkan kepada manusia ditunjukkan melalui penyerahan anakNya sendiri, Yesus Kristus. Allah telah menyerahkanNya ke dalam maut untuk keselamatan manusia (Yoh 3:16). Manusia telah menerima pengampunan yang cuma-cuma dari Allah untuk dapat memperoleh keselamatan. Karena kasih karuniaNya yang besar, Allah telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh karena kesalahan-kesalahan kita.
 Dalam dunia manusia, orang yang melakukan kesalahan, apalagi kesalahan besar, dianggap pantas mendapatkan hukuman. Berbeda dengan Yesus. Seperti yang dilakukanNya pada seorang perempuan yang diketahui berzina. Yesus diminta untuk melakukan praktek hukum taurat dengan melempar batu sampai mati. Tetapi apa yang dilakukanNya ? Yesus menulis ditanah, kataNya: “ barang siapa yang tidak pernah berbuat dosa, dipersilakan untuk melempat batu yang pertama kali”. Namun ternyata tidak ada seorangpun yang berani melakukannya. Tanggapan Yesus itu menyadarkan mereka akan dosa-dosa mereka sendiri. Dan akhirnya perempuan itu diangkat dan dipersilakan pulang. Perempuan itu telah dibebaskan dari dosanya dan memperoleh kelahiran kembali sebagai manusia baru.
Allah telah membangkitkan Kristus dari kematian dan mendudukkannNya di sisi kananNya di surga. Mereka yang telah dibangkitkan dari kematian akibat dosa, juga akan ditempatkan di surga bersama-sama dengan Kristus.  Dengan demikian, kebangkitan Kristus mendatangkan kebangkitan dan keselamatan bagi semua orang berdosa. Mengapa Allah mau melakukannya ??  Paulus menjawabnya (ayat 7) : ‘…supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karuniaNya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikanNya terhadap kita dalam Kristus Yesus”
(Ayat 8-10) Selanjutnya Paulus menyatakan bahwa anugerah keselamatan diberikan karena kasih karunia Allah dan diberikan kepada orang beriman. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibr.11:1). Dalam iman segala sesuatu yang diharapkan menjadi kenyataan. Segala sesuatu yang diharapkan menunjuk pada pengharapan akan keselamatan (2 Kor 1:10 ; 1 Tes 5:8).
 Seruan untuk percaya ini sering diwartakan Paulus dalam tugas perutusannya. Menurutnya, Keselamatan baru yang diwartakan itu, akan menjadi nyata jika diterima dalam iman.. Peranan iman untuk memperoleh keselamatan begitu penting bagi Paulus. Contohnya: penjahat yang disalibkan disebelah Yesus, dia belum sempat mengakui dosa-dosanya, namun ia diterima Yesus. ‘Hari ini engkau ada bersamaKu didalam Firdaus”, demikian janji Yesus kepadanya.Yesus menganugrahkan keselamatan untuknya karena ia mempercayai Yesus sebagai Raja yang akan datang nanti. Sesuai pemikiran Paulus, dasar keselamatan kita adalah iman (dari pihak manusia) dan anugerah (dari pihak Allah). Yohanes 3:16 menyatakan bahwa bukan semua manusia akan diselamatkan melainkan hanya mereka yang mau menerima dan percaya kepada Yesus yang akan diselamatkan.
Paulus juga mengingatkan bahwa kasih karunia Allah tidak kita peroleh melalui usaha kita dan bukan imbalan atas jasa kita. Manusia tidak dapat membebaskan diri dari kuasa dosa dan kebinasaan. Inisiatif Allah sendirilah yang melalui Yesus turun kedalam dunia ini untuk menyelamatkan manusia. Maka Paulus mengingatkan agar manusia jangan ada yang memegahkan diri.
Namun demikian, sekalipun kita sudah yakin akan keselamatan  kita, tidak berarti bahwa kita dapat berbuat dosa sekehendak hati kita. Kita harus ingat bahwa Yesus bukan ‘pelayan dosa’(Gal. 2:17). Tidaklah pantas kita menanggapi kasih karunia Allah yang telah menyelamatkan kita dengan terus menerus berbuat dosa dan menyakiti hatiNya. Kita sudah dibangkitkan dari kematian bersama Kristus, dan sudah menjadi ciptaan baru dalam Kristus Yesus. Oleh  karena itu Paulus menasehatkan kita untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Allah telah mempersiapkannya bagi kita, supaya kita beroleh hidup didalamnya. Memang  keselamatan bukan usaha manusia sendiri, dan bukan hasil pekerjaan baiknya, tetapi pekerjaan baik merupakan tanda orang percaya dan menerima karya penyelamatan Kristus.
Percaya bahwa keselamatan sebagai kasih karunia Allah, akan menguatkan iman dan pengharapan kita dalam menghadapi era globalisasi tidak manusiawi ini. Akan memampukan kita untuk tetap setia dan tetap hidup di jalan kebenaranNya. Tidak mudah terpengaruh oleh tawaran-tawaran duniawi yang dapat membinasakan. Yesus telah datang kedunia untuk menyelamatkan manusia yang telah dikuasai oleh dosa. 
Manusia sebagai citra Allah, yang dilimpahi dengan kemampuan dan kesempatan untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Kedosaan manusia dan kegagalannya disebabkan oleh keterbatasan dan kelemahan manusia. Tetapi hal ini tidak menjadi hambatan bagi Allah . DIA  yang penuh kasih pengampunan, akan tetap meneruskan karya keselamatanNya dalam kehidupan manusia.
Pengorbanan Yesus di kayu salib hendaknya menyadarkan kita untuk memakai waktu dan kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih baik di dunia ini. Jika kita sungguh-sungguh menerima dan percaya Yesus sebagai Juruselamat kita, ujudkan kepercayaan dan penerimaan itu dalam sikap dan tindakan nyata. Dengan demikian perbuatan baik yang dilandasi kasih Allah itu juga sebagai ujud iman yang telah berbuah. Sehingga kita semua tetap hidup dalam kekudusan dan akan membawa kita pada keselamatan kekal.  SELAMAT PASKAH…… (P.V. Selviana Waty)

Catatan Kecil 1

FOR ALL THE NEGATIVE THINGS WE HAVE TO SAY OURSELVES, GOD HAS A POSITIVE ANSWER FOR IT

You say : “It’s impossible”
God says : All things are possible Luke 18:27)
You say : “I’m too tired”
God says : I will give you rest (Matthew 11:28-30)
You say : “Nobody really loves me”
God says : I love you (John 3:16 & 13:34)
You say : “I can’t go on”
God says : My grace is sufficient (II Corinthians 12:9 & Psalm 91:15)
You say : “I can’t figure things out”
Go says : I will direct you steps (Proverbs 3:5-6)
You say : “I can’t do it”
God says : You can do all things (Philippines 4:13)
You say : “I’m not able”
God says : I am able (II Corinthians 9:8)
You say : “It’s not woth it”
God says : It will be worth it (Romans 8:28)
You say : “I can’t figure my self”
God says : I forgive you (I John 1:9 & Romans 8:1)
You say : “I can’t manage”
God says : I will supply all your needs (Philippines 4:19)
You say : “I’m afraid”
God says : I have not given you a spirit of fear (I Timothy 1:7)
You say : “I’m always worried and frustrated”
God says : Cast all your cares on Me (I Peter 5:7)
You say : “I don’t have enough faith”
God says : I’ve given everyone a measure of faith”   (Romans 12:3)
You say : “I’m not smart enuogh”
God says : I give your wisdom (I Corinthians 1:30)
You say : “I feel alone”
God says : I will never leave you or Forshake you (Hebrews 13:5)


(diar sanjaya-HEA)

Catatan Kecil 2

JADILAH BEJANA DARI KASIHKU

Bisakah engkau menuang kasih dari dirimu sendiri? Jika engkau mencoba, selang beberapa saat engkau akan mendapati bahwa kasihmu bercela. Kasih yang sejati, tak bercela dan penuh pengorbanan bukan berasal dari dirimu sendiri, bukan karena kekuatanmu atau usahamu sendiri, bukan pula karena pengetahuanmu akan kasih. Tetapi karena dipenuhi oleh diriKu dan kasihKu, maka engkau akan memperoleh kasih yang seperti ini dalam jumlah yang berkecukupan. Kasih ini akan melimpah ke haribaan mereka yang engkau jumpai. 

Pertama-tama, engkau harus membiarkan Aku memenuhi dirimu. Bejana yang tak bisa diam atau sudah penuh, tidak bisa diisi. Engkau harus menjadi bejana kosong dengan mulut yang menganga, dan menunggu dengan tidak bergeming hingga Aku memenuhi dirimu.
Luangkanlah waktu untuk berada bersamaKu, dan Aku akan mengajarkan engkau untuk mengasihi. Kemudian wajahKu akan bersinar diwajahmu, dan orang akan tahu bahwa kasih itu bukan berasal dari  dirimu, melainkan dari diriKu. (diar sanjaya)

Catatan Kecil 3

Sempurnakan Aku Dalam Mengasihi

Sebagai umat ciptaan Allah yang pengasih, kita pasti mengasihi satu sama lain. Orang kristiani seharusnya lebih mengerti hal tersebut karena kasih merupakan ajaran Yesus yang sangat mendasar. Tetapi untuk benar-benar mengasihi seseorang tidaklah semudah apa yang kita pikirkan atau kita katakan. Juga tidak semudah apa yang kita ajarkan kepada orang lain untuk saling mengasihi. Kita bisa berkata, “Kita harus saling mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi kita”. Tetapi benarkah kita bisa mengasihi seperti yang Yesus inginkan?
Matius 5:46, “Apabila kamu mengasihi orang lain yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian?” Ayat ini menjelaskan jika kita mengasihi orang yang mengasihi  kita itu biasa. Orang yang tidak mengenal Tuhan pun bisa melakukannya. Tetapi kita mengasihi orang yang tidak mengasihi kita baru istimewa dan luar biasa. Inilah yang Tuhan inginkan agar kita tidak hanya mengasihi orang yang mengasihi atau orang yang berbuat baik pada kita. Tuhan ingin kita mengasihi semua orang termasuk orang yang berbuat jahat kepada kita. Ini tidak mudah, coba renungkan sejenak, bagaimana kita bersikap terhadap orang yang merendahkan, menjelekkan, menentang, atau mendiamkan kita. Bukankah lebih sering kita memperlihatkan sikap yang sama, yaitu membalas perlakuannya? Ini merupakan ujian yang cukup sulit bagi ketulusan kasih kita kepada seseorang. Jika kita berhasil melalui situasi itu dengan tetap berbuat baik dan mengasihi pembenci kita, bersyukurlah karena kita sudah menjadi pelaku firman. Begitu banyak orang yang telah gagal dalam ujian ini.
Api yang lembut, kecil tapi menghangatkan, ibarat Roh Kudus yang selalu menghangatkan kasih yang ada dalam hati kita yang paling dalam, kasih yang tidak memohon syarat dalam mengasihi, kasih tanpa syarat membuat hidup kita sukacita karena kita tidak terbebani oleh kepalsuan dunia. Mungkin saja kita akan mendapat kerugian besar tetapi dibaliknya berkat rohani yang berlimpah akan kita terima. Biarlah kita terus belajar untuk berbuat baik dan mengasihi tanpa syarat bagaimanapun perlakuan orang terhadap kita dan mari kita jadi api yang lembut terus menghangati hidup kita agar sempurna kasih kita. (diar sanjaya-MS 910)

Orang Kudus 1

Santo Stanislaus dari Krakow, Uskup dan Martir

Stanislaus lahir di Szczepanow, Polandia Selatan pada tanggal 26 Juli 10:30. Ketika itu ibu-bapanya sudah memasuki usia senja. Boleh dikatakan, Stanislaus adalah hadiah Allah kepada kedua orangtuanya yang tidak kunjung putus berdoa untuk mendapat seorang anak. Ibu­bapanya mempersembahkan kembali dia kepada Allah yang telah mengabulkan permohonan mereka.
Ketika meningkat remaja, Stanislaus ternyata menunjukkan kepintaran yang luar biasa. Cita-cita hidupnya hanya satu, yakni menjadi abdi Allah sebagai seorang rahib. Cita-cita luhur ini baru terwujud setelah kedua orangtuanya meninggal dunia. Sebagai anak tung-gal, ia tidak mempanyai suatu keterikatan kepada siapapun. la melepaskan segala­ galanya, termasuk harta warisan orangtuanya lalu memasuki pendidikan imamat.
la ditahbiskan menjadi imam setelah menyelesaikan studinya di Gniezno, Polandia Barat. Dalam karyanya ia terkenal sebagai pengkhotbah ulung di Katedral Krakow. Kerajinan, kesalehan dan kepandaiannya membuat dia sangat berpengaruh di seluruh Keuskupan Krakow dan Kerajaan Polandia. Akhirnya pada tahun 1072 ia ditahbiskan menjadi uskup di kota Krakow atas restu Paus Aleksander II (1061-1073).
Pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Polandia dikuasai oleh Raja Boleslaus II (1058-1079), seorang raja yang cakap tetapi sombong dan cabul. Nafsu kuasanya yang besar mendorongnya melakukan perbuatan­perbuatan yang tidak terpuji di hadapan mata rakyatnya. la menikahi dengan paksa isteri seorang prajuritnya. Perbuatan ini merupakan contoh yang sangat buruk bagi seluruh rakyat. Mendengar berita ini, Uskup Stanislaus segera berangkat ke istana untuk menegur raja. Karena Boleslaus tidak peduli akan tegurannya, ia mengekskomunikasikan Boleslaus dari Gereja.
Tindakan ekskomunikasi inipun tidak dihiraukan. Boleslaus tetap masuk Gereja untuk mengikuti Kurban Misa seperti sedia kala. Pada suatu ketika, ia mengikuti perayaan Misa Kudus di gereja Katedral.  Ketika imam, pemimpin misa itu melihat Boleslaus ikut serta dalam perayaan itu, ia segera menghentikan perayaan dan meninggalkan altar. Boleslaus marah dan dengan pengawal-pengawalnya segera mencari Uskup Stanislaus yang mengekskomunikasikannya. Mereka menemukan dia di kapelanya. Stanislaus yang sedang merayakan misa itu ditangkap dan dibunuh dengan kejam. Peristiwa naas ini terjadi pada tahun 1097. Stanislaus dikuburkan di sebuah kapela dan pada tahun 1088 jenazahnya dipindahkan ke gereja Katedral Krakow. Ia digelari ‘kudus’ oleh Sri Paus Innocentius IV (1243-1254) pada tahun 1253.

Orang Kudus 2

Santo Yulius I, Paus

Hari kelahiran Yulius tidak diketahui dengan pasti. Ia memimpin Gereja sebagai paus dari tahun 337 sampai wafatnya tahun 352 di Roma. Dalam masa kepemimpinannya, ia dikenal sebagai seorang paus yang dengan keras menentang para pemimpin Gereja Timur yang memberhentikan uskup-uskup yang ditahbiskan secara sah. Kecuali itu, ia pun menentang bidaah Arianisme dan pengikut-pengikutnya, terutama uskup-uskup yang terpengaruh oleh ajaran itu.
Athanasius, Uskup Aleksandria, Mesir adalah salah seorang korban perlakuan para pemimpin Gereja Timur yang Arianis itu, karena ia me­nentang ajaran sesat Arianisme. Ketika Athanasius berada di Konstan­tinopel untuk membela kebenaran iman di hadapan kaisar, takhta ke­uskuparmya diambil alih oleh Gregorius dari Kapadokia, Turki, seorang penganut Arianisme.  Setelah dengan gigih mempertahankan- ajaran iman yang benar di hadapan kaisar, Athanasius berangkat ke Roma untuk melaporkan peristiwa itu kepada Sri Paus Yulius.
Yulius, yang bertanggungjawab atas masalah itu, segera mengadakan suatu konsili di Roma pada tahun 340. Ia mengundang semua Uskup Timur untuk menghadiri konsili itu. Tetapi undangan Yulius ditolak.   Semua Uskup Timur tetap bersikap keras terhadap Athanasius. Tanpa kehadiran Uskup-uskup Timur, Yulius bersama uskup lainnya mene­guhkan hati Athanasius dan menyuruhnya kembali ke keuskupannya bersama Marcellus dari Ancyra, seorang Uskup lain yang juga dipecat oleh penganut-penganut Arianisme. Untuk itu, Yulius mengirimkan sepucuk surat yang berisi penegasan konsili tentang sahnya kedudukan Athanasius sebagai Uskup Aleksandria, kepada uskup-uskup pengikut Eusebius, Patriarkh Konstantinopel yang Arianis.
Untuk mendamaikan Uskup-uskup Barat dengan Uskup-uskup Timur, Konstans (dari Barat) dan Konstansius (dari Timur) yang bersama-­sama memangku suait jabatan penting dalam Kekaisaran Romawi men­desak para uskup itu agar berkumpul di Sardica, Bulgaria, guna membicarakan masalah pemecatan uskup-uskup yang sah itu. Yulius me­nyamlbut baik ajakan itu dengan mengirimkan utusan-utusannya pada tahun 343. Tetapi Uskup-uskup Arianis menolak menghadiri konsili Sardica. Mereka sebaliknya berkumpul di Philippolis, Thrasia (Yunani Utara). Di sana merka mengeluarkan suatu keputusan yang menghu­kum baik Athanasius maupun Yulius dari Roma yang dianggap sebagai biang keladi semua kejahatan yang ada. Sementara itu para Uskup Barat tetap bersidang di Sardica untuk menegakkan kembali keabsahan jabat­an uskup-uskup yang dipecat oleh kaum Arian. Mereka pun meneguh­kan kembali isi Syahadat Nicea tanpa merubahnya, dan mengancam tipu muslihat dari Uskup-uskup Arian di pengadilan kekaisaran.
Sementara masalah ini belum tuntas, Gregorius dari Kapadokia meninggal dunia.  Peristiwa ini menjadi peluang emas bagi Athanasius untuk kembali menduduki takhta keuskupannya di Aleksandria pada tahun 346. Yulius mengirim surat kepada seluruh umat di Alek-sandria agar dengan sepenuh hati menerima kembali Athanasius sebagai Uskup Aleksandria yang sah.

Jumat, 08 April 2011

Ruang Kitab Suci

Kebangkitan Tuhan Yesus
Yoh  20:1-9
Teks 
1.   Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.
2. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”
3. Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur.
4. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur.
5. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam.
6. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah,
7. sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung.
8. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.
9. Sebab selama itu mereka belum mengerti isi Kitab Suci yang mengatakan, bahwa Ia harus bangkit dari antara orang mati. 

Susunan
Ada dua kunjungan ke tempat makam Yesus diceritakan di sini: kunjungan sepintas Maria Magdalena dan pemeriksaan yang lebih teliti oleh dua orang murid. 
Kunjungan Maria Magdalena (ay. 1-2): Dengan catatan waktu yang agak rinci dilanjutkan dengan berita singkat tentang kepergian Maria Magdalena ke tempat pemakaman. Ia melihatnya dari luar saja; ia melihat batu diambil dari kubur, dan segera berkesimpulan bahwa jenazah Tuhan diambil orang dari kuburNya. Dengan keadaan yang membingungkan itu ia lari kepada Petrus dan murid yang lain. 
Kunjungan Petrus dan murid yang lain (ay. 3-9):  Mereka pun lari ke kubur, bersama-sama. Murid yang lain lebih dulu sampai di kubur, namun tidak masuk sebelum Petrus. Bila Maria Magdalena tadi hanya melihat batu – murid ini menjenguk ke dalam dan melihat kain kapan (ay. 4-5). Petrus tiba paling akhir, masuk dan melihat kain kafan dan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus, dalam posisi terpisah (ay. 6-7). Ada klimaks, tetapi belum sampai ke puncaknya. Akhirnya murid yang lain itu masuk, melihat hal yang sama, dan percaya (ay. 8). Petrus yang hatinya sedih dan merasa bersalah, karena ia telah menyangkal Yesus, merasa bingung. Murid yang lain, yang dikasihi Yesus (ay. 2), Yohanes, tampaknya tidak begitu bingung. Ia telah mengikuti Yesus sampai ke salib, maka ia lebih sigap. Namun ia punya rasa hormat, maka ia membiarkan Petrus masuk ke kubur lebih dahulu. Reaksi murid yang lain ini merupakan puncak cerita, sementara kita tidak mendengar apa-apa tentang reaksi Petrus. Hanya dikatakan bahwa mereka belum tahu dari Kitab Suci bahwa Yesus harus bangkit (ay. 9). Catatan ini menjadikan kepercayaan murid yang lain semakin istimewa sementara ketidaktahuan Petrus berlangsung terus ketika mereka pulang ke rumah.

Konteks
Cerita ini merupakan adegan pendahuluan yang mengantar kepada tiga cerita penampakan Yesus dalam Yohanes 20. Dalam ketiga cerita itu secara berturut-turut Maria Magdalena, para murid dan Tomas melihat penampakan Yesus dan menjadi percaya. Semakin mencolok bahwa dalam cerita pendahuluan ini murid yang dikasihi – dan hanya dia – telah menjadi percaya tanpa melihat penampakan Yesus, hanya dengan melihat keadaan kubur saja. Dalam cerita  penampakan Yesus di tepi danau Tiberias (Yoh 21), murid yang dikasihi Yesus ini juga lebih cepat mengenal Tuhan daripada murid-murid lainnya (Yoh 21:7).

Keterangan 
Ketika masih gelap (ay. 1):  Sama seperti Injil-Injil lain, Yohanes menempatkan kunjungan ke kubur pada hari Ahad, pagi-pagi. Akan tetapi berbeda dengan Mrk 16:2 (“Setelah matahari terbit”), Yohanes mengatakan bahwa hari masih gelap. Maksudnya simbolis. Belum timbul kepercayaan akan kebangkitan Yesus. kuburnya masih angker dan membingungkan bagi Maria Magdalena.
 Maria Magdalena (ay. 1):  Dalam Injil-Injil sinoptik, Maria Magdalena pada Minggu pagi ditemani beberapa perempuan lain. jejak mereka masih tampak dalam Yoh 20:2, “kami tidak tahu...” (bdk. 19:25). Yohanes 20 tidak menyebut nama-nama perempuan lain itu karena berkonsentrasi penuh atas efek dramatis perjumpaan antara Yesus dan Maria Magdalena. Dia yang mula-mula begitu cemas dan bingung, akhirnya menjadi percaya berkat penampakan ‘Rabuni’ (ay. 11-18).
Simon Petrus (ay. 2):  Diandaikan bahwa murid-murid tetap di Yerusalem,. Dan bahwa Simon Petrus memainkan peran khusus di antara mereka. Kunjungan Petrus dan beberapa murid ke kubur Yesus juga dicatat dalam Luk 24:12, 24.
Murid yang lain yang dikasihi Tuhan (ay. 2): Murid ini – yang selanjutnya disebut “murid yang lain itu” – sudah disebut juga dalam Yoh 13:23 dan 19:26. Gelar yang misterius ini menunjuk kepada seorang murid (Yohanes anak Zebedeus?) yang kesaksiannya menjadi sumber utama untuk Injil keempat (yang sejak abad kedua disebut Injil Yohanes). Murid ini ditampilkan dalam cerita ini dengan tujuan teologis, yaitu keteladanan imannya (ay. 8).
Diambil orang dari kubur-Nya (ay. 2): Orang-orang yang menentang kebangkitan menyebarkan ide bahwa jenazah Yesus dicuri oleh para rasul (Mat 28:13-15) atau orang lain. di sini penginjil mau menyatakan bahwa jemaat perdana sudah menyadari dan memeriksa kemungkinan itu.
Lebih dahulu sampai … tetapi tidak masuk (ay. 4-5):  Hubungan akrab dengan Yesus membuat kedua murid itu berlari. Murid yang paling erat hubungannya dengan Yesus, juga lebih cepat mendapatkan Dia. Ia melampaui Petrus dalam hubungan kasih, namun ia tidak lebih dahulu masuk ke kubur. Ia menunggu Petrus. Urutan ini tidak dapat dipakai sebagai bukti bahwa murid lain bermaksud mengakui posisi unggul Petrus dan pengganti-penggantinya. Bukannya keunggulan jabatan paus melainkan nilai kesaksian Petrus menjadi fokus di sini. Petruslah yang melihat secara rinci keadaan kubur kosong pada hari Ahad itu, dan hal itu sangat penting untuk masalah kebangkitan. 
Melihat kain kapan…sedangkan kain peluh…(ay. 6-7):  Ada pakar yang menerjemahkan dan mengartikan posisi kain-kain dalam ay. 6-7 sedemikian, seolah-olah kain-kain itu masih dalam posisi asli, hanyalah tubuh Yesus keluar daripadanya dengan cara menembusinya. Seandainya keajaiban itu dimaksudkan di sini, Petrus pasti akan segera percaya. Akan tetapi perhatian khusus untuk letaknya kedua kain itu secara terpisah, yang satu bahkan tergulung, menunjukkan suatu minat lain, yakni tujuan apologetik terhadap tuduhan bahwa mayat Yesus dicuri. Pencuri-pencuri mayat pasti tidak akan membuka kain-kainnya dulu, apalagi mengambil waktu untuk menggulung kain yang satu, lalu mengangkat sebuah mayat yang bugil.
Melihat dan percaya (ay. 8):  Pandangan kasih melihat secara lebih mendalam. Murid yang dikasihi Tuhan melihat dari kain-kain yang ditinggalkan bahwa Yesus hidup. Dalam sekejap mata ia menjadi percaya, tanpa memerlukan penampakan Yesus. Tidak boleh disimpulkan bahwa dialah orang yang percaya tanpa melihat, orang yang dikatakan bahagia dalam ay. 29. Kepercayaannya didasarkan pada keadaan yang ia lihat di dalam kubur Yesus.
Seperti ay. 5-7 tidak bermaksud berbicara tentang keunggulan jabatan Petrus, demikian juga kepercayaan murid yang lain dalam ay.8 tidak dimaksudkan untuk memojokkan Petrus. Cerita ini tidak bertujuan untuk mempertentangkan kedua rasul ini. Mereka datang bersama dan pulang bersama, saling berdampingan seperti dalam seluruh Injil, masing-masing dengan kekuatannya tersendiri, Petrus dengan kesaksiannya tentang keadaan kubur Yesus, murid yang lain dengan kasih dan imannya kepada Yesus.
Mereka belum mengerti Kitab Suci bahwa Ia harus bangkit (ay. 9):  Kata “mereka” dalam ay. 9 tampak kurang serasi dengan isi ay. 8. Ini mengisyaratkan bahwa dalam cerita yang oleh penginjil ditemukan dalam sumbernya, iman murid yang lain itu (ay. 8) mungkin belum disoroti. Cerita kunjungan ke kubur aslinya berakhir dengan kebingungan murid-murid, seperti dalam Luk 24:24. Dalam bentuknya yang sekarang, ay. 9 tidak perlu mengurangi kebesaran iman murid yang lain itu, tetapi sebaliknya semakin mengangkatnya: kendatipun sampai saat itu belum ada paham akan kebangkitan Yesus atas dasar Kitab Suci (bdk. 1Kor 15:4 ; Luk 24:25-27, 46), namun murid itu sudah percaya berdasarkan apa yang dilihatnya di dalam kubur saja.

Amanat           
Kita yang tidak melihat kubur ataupun penampakan Yesus, dapat menumbuhkan kepercayaan akan kebangkitan-Nya dengan mengamati pengalaman para saksi mata dalam Yohanes 20. Kita dapat mengikuti jalan para saksi itu dari kegelapan total sekitar kematian Yesus sampai kepada terang iman akan kebangkitan-Nya.
Melihat kubur Yesus terbuka belum tentu banyak membantu untuk percaya akan kebangkitan-Nya; sebaliknya, lebih banyak menimbulkan ketakutan, kesedihan, bahkan salah sangka bahwa jenazah Yesus dicuri. Tetapi salah sangka itu perlu dibuang jauh berdasarkan kesaksian Petrus yang melihat dari kain-kain dalam kubur bahwa jenazah Yesus tak mungkin dicuri orang. Namun itu pun belum cukup untuk segera percaya bahwa Yesus hidup, selama orang belum disadarkan oleh Kitab Suci bahwa Ia harus bangkit dari kematian.   
Apakah mutlak diperlukan penampakan  Yesus seperti yang kemudian dilihat oleh Maria Magdalena, para rasul dan khususnya Tomas? Ternyata bagi murid yang dikasihi Tuhan cukuplah melihat keadaan di dalam kubur dan letaknya kain-kain di situ. Karena hubungan kasih dengan Yesus, murid itu segera melihat maknanya dan percaya bahwa Yesus telah bangkit.
Yesus sesudah bangkit tidak bisa dilihat oleh sembarang orang, oleh binatang seperti lembu atau keledai di palungan. Penjelmaan tidak sekedar agar manusia melihat dengan mata indrawi belaka, tetapi melalui penerangan tentang arti Kitab Suci, ia ditingkatkan pengetahuannya oleh iman: manusia beriman menerima “indra baru” yang membuat manusia melihat dan percaya. Kita ini tiga kali bahagia:  karena atas sabda Kitab Suci, ajaran Gereja dan bimbingan Roh kita percaya akan kebangkitan Yesus seutuhnya.
SELAMAT  PASKAH
(Stefan Surya)

Cerita Mini OMK

“PERSAHABATAN SEJATI TERJADI DIANTARA ORANG-ORANG YANG TULUS”
VI
(VERA AMICITIA EST INTER BONO)

Persahabatan yang tulus adalah sebuah persahabatan yang dilandasi sikap terbuka dan saling memahami tanpa berharap untuk mendapatkan sesuatu dari sahabat. Artinya bukan untuk dipuji, disanjung, atau motif-motif terselubung lainnya tetapi demi kebahagiaan sahabat.
Ketulusan persahabatan terwujud dengan adanya usaha bersama untuk merawat tujuan mulia persahabatan yaitu demi kesejahteraan bersama. Dalam persahabatan yang tulus sering kita temui bentuk-bentuk pengkhianatan terhadap apa yang menjadi kesepakatan bersama. Betapa sakit rasanya jika sahabat dengan gampang menyebarkan apa-apa yang menjadi “rahasia persahabatan”. Betapa pedih rasanya jika dalam persahabatan dengan begitu mudahnya mengubah haluan, bahkan tanpa sungkansungkan menjelek-jelekkan persahabatan yang telah melambungkan namanya. Dilandasi oleh ketulusan, masing-masing pribadi yang menjalin relasi persahabatan berusaha menciptakan suasana persaudaraan, saling membantu, saling mendukung, dan saling memaafkan. Cicero melihat bahwa yang menjadi musuh utama ketulusan adalah kepalsuan atau kepura-puraan.
Persahabatan antar keluarga, komunitas, tetangga perlu didasari oleh ketulusan. Anda merupakan satu dari sekian banyak orang yang tulus, karena itu semoga ketulusan hati Anda menjadi pilar utama dalam menjalin persahabatan. Dalam semangat ketulusan kita diharapkan membantu sesama agar bertumbuh dalam keutamaan-keutamaan seperti jujur, setia, berani, penuh kasih, dan sebagainya. Untuk bertumbuh dalam keutamaan-keutamaan perlu bantuan orang lain. Hal ini terungkap jelas “seseorang membutuhkan bantuan orang lain” bantuan itu perlu diberikan dengan tulus tanpa mengharapakan kembali artinya seorang sahabat sejati adalah orang yang tulus hati saat sahabatnya sedang membutuhkan pertolongan.
Bantuan yang diberikan dengan tulus harus melampaui prinsip “saya beri agar engkau memberi”, tetapi berdasarkan sebuah pemberian diri yang dijiwai oleh cinta. Pemberian diri atau pengabdian total semacam ini tidak dapat dibeli dengan uang atau ditukar dengan kekuasaan. (diar sanjaya-Ex Latina Claritas)

Carita Mini

PENGORBANAN SANG AYAH
“ Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia dan mereka akan membunuh Dia dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.” ( Matius 1:7)

Namaku Ani. Setahun yang lalu ibuku sudah meninggal, jadi aku hanya tinggal bertiga dengan ayah dan adikku, Agus. Saat ini, aku bersekolah di salah satu SMA di Bogor. Adikku juga, dia baru saja masuk SD. Ayahku seorang pekerja keras dan aku sangat bangga padanya. Walau pekerjaannya tidak menetap, tetapi ia sudah banyak menelan asam garam dunia pekerjaan. Mulai dari pedagang kaki lima, membantu petugas kebersihan, mengayuh becak, semua telah diicipnya. Hingga saat ini, mengumpulkan barang-barang bekaslah yang masih ditekuninya. Kami tinggal berpindah-pindah, mulai dari rumah yang dekat dengan rel kereta api hingga lorong-lorong pertokoan. 
Ya, begitulah hidupku saat ini, tapi aku sangat bersyukur karena Bapa selalu mengiring langkahku. Buktinya, dengan mudah aku ditawarkan bekerja part time untuk menjaga warnet dekat sekolahku, aku bekerja di sana seusai jam pelajaran. Walau penghasilanku minim, tapi aku bisa membantu ayah meringankan biaya sekolahku. Sungguh, aku sangat bersyukur untuk itu.
Hanya tinggal menghitung bulan, aku meninggalkan SMA. Inginku bisa melanjutkan kuliah. Ya, itu hanya inginku. Tapi, aku tidak tega dengan ayah yang bekerja membanting tulang. Jam 5 pagi sudah meninggalkan rumah, jam 10 malam pun, kerap kali belum sampai rumah. Pengorbanannya luar biasa untuk menghidupiku dan Agus. Tak sampai hati aku melihatnya bergumul dengan barang bekas setiap harinya.
Seperti hari ini, jam mengarah pada angka 12 malam, tetapi aku belum juga melihat ayah.
“Ani..Ani...Buka pintunya..” ucap seseorang berteriak di depan rumahku, yang baru dua bulan dibuat ayah dengan mengumpulkan barang bekas.
“Ya, bu..Ada apa??”
“Kamu yang sabar ya, nak. Ayahmu.. Ayahmu..Operasi itu merenggut nyawanya.” ucapnya lemah.
Sejenak pikiranku melayang, tak tahu kejadian apa yang sebenarnya sedang melintas dalam hidupku. Aku memang benar-benar tak mengerti apa yang dimaksud ibu di hadapanku ini.
“Operasi??Operasi apa, bu??” 
“Ini uang yang dititipkan orang kaya itu. Ayahmu menjual ginjalnya, tapi setelah operasi, ayahmu tak bisa bertahan. Ibu juga tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Kata orang kaya itu, ayahmu mau melakukan semua itu untuk membiayai hidup keluarganya.” paparnya.
Setelah mendengar kata-kata ibu itu, aku tak tahu apa yang terjadi, semuanya menjadi gelap dan aku merasa badanku sangat lemas.
Sudahlah, aku tak ingin mengingat lagi hari itu. Tujuh tahun telah berlalu, kini tinggal aku dan Agus. Sekarang, perjuangan itu yang akan aku lanjutkan. Aku akan berjuang sebisa yang aku mampu, seperti ayah yang tak pernah lelah mencari nafkah. Dan aku akan berusaha untuk lebih menjiwai Bapa dalam hidupku. Seperti ayat ini, setiap kali membacanya, hatiku tergetar, semangatku kembali membara dan aku semakin menyadari, betapa kecil dan tak berartinya perjuangan yang aku lakukan dibanding perjuangan yang dilakukan Bapa untuk menyelamatkan umatNya. 
“27 Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. 28 Mereka menanggalkan pakaianNya dan mengenakan jubah ungu kepadaNya. 29 Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepalaNya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kananNya. Kemudian mereka berlutut di hadapanNya dan mengolok-olok Dia katanya:’ Salam, hai Raja orang Yahudi!’ 30 Mereka meludahiNya dan mengabil buluh itu dan memukulkannya ke kepalaNya. 31 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari padaNya dan mengenakan pula pakaianNya kepadaNya. Kemudian mereka membawa Dia keluar untuk disalibkan. ( Mat 27: 27-31 )
“33 Maka sampailah mereka di suatu tempat bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak. 34 Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. 35 Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaianNya dengan membuang undi. 36 Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. 37 Dan diatas kepalaNya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: ’Inilah Yesus Raja orang Yahudi.’ 38 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiriNya. 39 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala, 40 mereka berkata:’Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diriMu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!’ 41 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata: 42 ’Orang lain Ia selamatkan, tetapi diriNya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepadaNya. 43 Ia menaruh harapanNya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan padaNya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.’ 44 Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencelaNya demikian juga.” ( Mat 27: 33-44 )
Dulu, ayah selalu berpesan padaku untuk selalu berusaha menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, mencari rejeki dengan cara yang benar sesuai jalan Allah. Tetapi, lebih dari itu, aku menemukan sosok ayah yang luar biasa, yang rela berkorban demi aku dan Agus, selalu menjaga anak-anaknya, berjuang demi keluarga kami hingga akhir usianya dan terlebih lagi, aku tahu ayahku selalu mengilhami Bapa dalam tiap langkah hidupnya.
Itulah yang akan kembali aku tanamkan pada Agus yang kini beranjak remaja dan pada keluarga kecilku, suami, dan anakku kelak yang sekarang baru berusia 3 bulan. (LKH)

Sebaiknya Anda Tahu 1

MEMPERKENALKAN GERAKAN IMAM MARIA

ASAL-USUL
   Pada 8 Mei 1972, Don Stefano Gobbi pergi ziarah ke Fatima. Di dalam Kapel Penampakan yang kecil itu, ia berdoa untuk sejumlah Imam yang, mengkhianati panggilannya, dan tergoda untuk membentuk persekutuan yang memberontak melawan otoritas Gereja.
   Suatu kekuatan batin mendorongnya untuk mempercayakan kerisauannya itu pada kasih Maria, Bunda kita,. Lewat dia, ternyata Maria menghimpun semua imam yang menerima undangan untuk menyerahkan diri kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda.
   Maka, dengan cara ini, terbentuklah suatu pasukan yang kuat, yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Pasukan ini terhimpun, bukan lewat sarana propaganda manusiawi, melainkan berkat kekuatan adikodrati yang muncul dari keheningan, doa, pengurbanan dan kesetiaan lestari pada tugas masing2 anggota.
   Dalam hati, Don Stefano minta kepada Bunda Maria suatu tanda kecil untuk meneguhkan hal ini. Dan secara jelas Maria memberikan tanda itu kepadanya di Nazareth, di tempat ibadat Kabar Sukacita, persis menjelang akhir bulan itu.
   Jadi Gerakan Imam Maria, disingkat dengan GIM, berasal dari inspirasi batin yang sederhana, yang diterima Don Stefano sewaktu berdoa di Fatima.

PENYEBARAN
   Dalam bulan Oktober tahun yang sama, dimulailah usaha awal Pertemuan Doa dan persahabatan oleh tiga orang Imam di Paroki Gera Lario ( Como, Italia). Berita tentang Gerakan ini dimuat dalam beberapa surat kabar dan majalah Katolik.
   Pada bulan Maret 1973, jumlah Imam yang menjadi anggota ada sekitar 40 orang. Pada bulan September tahun yang sama, di San Vittorino dekat Roma, dilangsungkan pertemuan pertama, yang dihadiri oleh dua puluh lima dari delapan puluh Imam yang sudah tercatat sebagai anggota.
   Sejak tahun 1974, dimulailah Doa Senakel yang pertama, yang dihadiri oleh imam-imam dan kaum awam; dengan cepat GIM menyebar ke seluruh Eropa dan ke segala penjuru dunia.
   Sampai akhir tahun 1985, Don Stefano Gobbi telah beberapa kali mengunjungi kelima benua, untuk memimpin Doa Senakel Regional; perjalanan ini mencakup sekurang2nya 350 penerbangan dan banyak perjalanan darat dengan mobil atau kereta api. Don Stefano sudah melaksanakan 890 Senakel, 482 di antaranya di Eropa, 180 di Amerika, 97 di Afrika, 51 di Asia dan 80 di Oceania. Dan tanggal 19-22 Oktober 1993 Don Stefano Gobbi memberikan Retret di Indonesia.
   Semuanya telah membuktikan bagaimana, dalam tahun-tahun ini, GIM telah menyebar ke segala penjuru secara mengagumkan.

SPIRITUALITAS
Apakah Gerakan Imam Maria ini?
Gerakan Imam Maria adalah biji kecil yang ditanam oleh Bunda kita di kebun Gereja.Dengan cepat biji ini menjadi sebuah pohon besar, yang sudah merentangkan dahan-dahannya ke segala penjuru dunia.
   Gerakan Imam Maria adalah karya kasih, yang ditumbuhkan oleh Hati Maria Yang Tak Bernoda, dalam Gereja dewasa ini; tujuannya adalah membantu semua putra Maria untuk hidup dan meniti masa pemurnian yang terasa menyakitkan ini dengan kepercayaan dan harapan sebagai putra Maria.
   Masa ini dirongrong oleh bahaya-bahaya yang besar. Dalam masa ini, Bunda Allah dan Bunda Gereja ini sedang bergerak, tanpa kenal istirahat dan tanpa bimbang, untuk menolong, terutama para imam, putra-putra kesayangannya. Dalam karya ini, wajar, sejumlah alat digunakan; secara khusus telah dipilih Don Stefano Gobbi.
   Mengapa? Dalam salah satu halaman buku ini diberikan penjelasan sebagai berikut,” Aku telah memilih kamu, sebab kamu adalah alat yang paling kurang memadai; dengan demikian tidak seorang pun akan berkata bahwa karya ini adalah karyamu. Gerakan Imam Maria harus menjadi karyaku. Lewat kelemahanmu, aku akan menyatakan kuasaku”. ( 16 Juli 1973)
   Oleh karena itu, GIM bukanlah perkumpulan, betapa pun baiknya, dengan sederetan statuta dan direktur, yang dikembangkan oleh sejumlah Imam atau orang2 yang bersemangat tinggi. Sebaliknya, GIM adalah ‘suatu semangat’ seperti yang secara tepat dan rasa syukur dipahami oleh Bp Suci Yohanes Paulus II. GIM adalah sesuatu yang tak dapat diraba, tetapi sungguh kuat dan hidup, seperti karunia-karunia Allah. Tujuan utamanya adalah menghayati penyerahan diri kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda.
   Bagi para Imam, menyerahkan diri kepada Maria berarti lebih menyadari penyerahan diri kepada Allah yang telah mereka buat pada hari mereka menerima Pembaptisan dan tahbisan Imamatnya.
   GIM menjadi suatu realita, bukan karena jumlah anggota atau karena nama2 mashur, juga bukan karena efisiensi dalam organisasinya, tetapi karena kemampuan para anggota untukmendengarkan Bunda Surgawi dan karena Gerakan ini sungguh merupakan karya Roh Kudus, untuk memuji Tritunggal Yang Mahakudus.
   Yang termasuk dalam GIM adalah mereka yang, entah mendaftar ataupun tidak, menyerahkan diri kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda, dan membantu kaum beriman untuk hidup dalam penyerahan dirinya kepada Bunda Maria.Semuanya ini mereka kerjakan sambil mengupayakan ketaatan kepada Gereja dan demi kesejahteraan umat.

GIM menyambut semua Imam, Diosesan, Biarawan, Biarawati, Bruder, Frater dan umat, tanpa membedakan usia atau status. Yang bisa mendaftar adalah para Imam, baik yang tulus dan memiliki semangat yang berkobar, maupun mereka yang merasakan kepahitan hidup karena pengalaman2 yang negatif, entah dalam kehidupan pribadi, entah dalam karya kerasulan mereka. Pilihan dibuat oleh mereka yang menerima undangan bundawi Maria dengan kemauan yang baik. “ Hai anakku, apa saja yang saya sampaikan kepadamu bukanlah untuk dirimu sendiri, tetapi untuk semua putra imamku, yang kukasihi sebagai putra kesayangan” ( 28 Agustus 1973)
   Mereka yang ingin menjadi anggota GIM dan ingin selalu terlibat dalam kegiatannya, hendaknya mengirimkan pernyataan menjadi anggota kepada Pengurus Nasional atau Regional atau mereka dapat mengirim permintaannya ke Italia:

MOVIMENTO SACERDOTALE MARIANO
Via Mercalli 23 —20122 MILANO
ITALY

Tetapi, surat pendaftaran ini sama sekali tak ada manfaatnya, jika dalam hati orang tsb tidak mempunyai kemauan untuk menghayati penyerahannya kepada Bunda Maria dan untuk membawa orang2 lain mendalami penyerahan yang sama.
   Mengamalkan penyerahan total kepada Hati Maria Yang Tak Bernoda, memberi kepada para Imam ketulusan dan rasa percaya yang mendalam. Dalam situasi konkrit, mereka percaya bahwa Bunda Maria selalu mendampingi, siap menolong dan lebih dari ibu manapun, memberikan rasa aman, juga di tengah penderitaan pribadi dan ketidak pastian zaman di mana kita sekarang hidup.
   Dengan demikian kita sampai pada jantung amanat Injil, yakni, iman kepada Penyelenggaraan Allah, yang membantu kita menghadapi setiap situasi hidup ini dengan keyakinan putrawi orang2 sederhana, yang menyerahkan diri dengan segenap hati kepada Allah, Bapa Yang Penuh Kasih.
   Dengan cara ini, masa lalu muncul untuk kita serahkan kepada Kerahiman Hati Yesus; masa depan kita nantikan sebagai karunia Penyelenggaraan Ilahi, yang akan diberikan kepada kita lewat tangan Maria, Pengantara segala rahmat; dan masa kini, harus kita jalani dengan sukacita, bagaikan anak2 kecil yang bermain atau bekerja di dekat ibu mereka.

Bersambung di edisi yang akan datang.

Sebaiknya Anda Tahu 2

Puasa Dan Salib
Oleh: J.D. Lehera
Dalam masa prapaskah kita diingatkan oleh Bapak Uskup melalui Surat Gembala mengenai puasa. Cara dan aturan pun dijelaskan secara terang benderang maksudnya agar kita menjalankan secara baik dan benar.
Umat Paroki Sukasari adalah majemuk. Umat dari Jawa Tengah mengenal puasa Senin dan Kamis. Umat Flores dan Batak pasti tidak mengenal puasa tradisi. Puasa tradisi mengedepankan ketaatan dan keluhuran budi serta kejujuran. Dalam lingkungan paranormalpun mengedepankan puasa maknanya sama seperti puasa tradisi.
Puasa saat kita masuk dalam era globalisasi sekarang ini maka makna dan arti akan hilang apabila kita tetap berpacu pada puasa makan dan minum tidak memikirkan nilai iman katolik. Contoh ada umat cara berpuasa seperti yang dijalankan teman-teman di ruang publik.
Puasa berdasar kitab nabi Yesaya 58:1-12 penekanannya pada perbuatan baik dan kasih. Contoh, Mencari atau memberikan pekerjaan kepada teman yang PHK sepihak bukan karena kesalahan teman tersebut. Mengunjungi tetangga sebelah rumah yang sakit permanen secara berkala. Jangan ada dusta diantara kita misal sering terlambat Doa Rosario atau absen terus menerus alasan klasik. Hidup yang baik dan benar itulah juga puasa.
Puasa berdasar Injil Mateus 6:16-18 mengingatkan kita agar menghindari dari sikap kepura-puraan dan kemunafikan. Contoh, Dalam berorganisasi sering absen rapat alasan repot dan sebagainya maka menurut teori kepemimpinan umat mengatakan orang itu telah berbohong dan tidak jujur. Atau merekayasa satu perbuatan salah atau keliru menjadi benar dan akhirnya orang mengatakan benar.
Melalui Puasa agar salib Yesus bermakna dalam hidup kita antara lain:
1. Puasa tidak ngerumpi saat misa kudus hari minggu atau misa harian
2. Puasa berbicara jujur dan benar berdasar bukti nyata bukan kata orang
3. Puasa tidak pulang setelah komuni dan tidak telat masuk gereja
4. Puasa mulut tidak bicara HP dan puasa tangan tidak SMS saat misa
5. Aktif dalam kegiatan di RT/RW agar salib Yesus bermakna terus-menerus
6. Bagi para pengurus puasa tidak selalu main tunjuk tapi memberi contoh jelas agar umat tertarik menjadi anggota TTK dan tertarik menjadi anggota Koor. Bagi para Ketua Rukun puasa tidak absen dalam Doa Rosario agar umat tidak menjadi orang asing dalam Rukun sendiri tetapi bersorak-sorai dalam kandang lain.
Melalui puasa hidup kita bermakna sehingga salib kehidupan yang dirasakan berat menjadi ringan karena dari salib Yesus menurunkan berkat melimpah asal kita telah melaksanakan puasa seperti diatas.

Evangelisasi 1

MENGKONKRITKAN IMAN DALAM PELAYANAN

Pengalaman kurnia-kurnia Roh, penggunaan bakat - kemampuan kita untuk kehidupan jemaat serta kesaksian Injil, tak boleh merupakan kegiatan, pekerjaan atau kesibukan melulu. Bukannya asal makin banyak aktivitas (dan aktivitas itu makin rapi terpadu), kita pasti makin maju sebagai Gereja. Memang masih perlu diserukan, agar segenap umat, semua anggotanya, sungguh-sungguh ikut dalam pengembangan jemaat serta  melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan paroki, dan aktif turut serta dalam kerasulan. “Tanggapan-tanggapan” memang ada yang menyebut-nyebut usaha-usaha sosial-ekonomi atau aksi sosial juga, menyinggung adanya panitia atau seksi sosial dalam paroki, (kesannya terutama sosial-karitatif). Di bidang “rohani” (liturgi, pewartaan, pendalaman iman) makin banyak dari umat yang secara langsung ikut serta, meskipun sering mereka belum diterima sungguh sebagai partner imam dalam karya pastoral seperti mereka harapkan.
Tetapi dalam hal kemasyarakatan kegiatan lahiriah dengan bentuk-bentuk kelembagaannya (organisasi, struktur) acap kali ditekankan, kesannya agak berlebihan. Sedangkan penjiwaannya batiniah oleh iman tidak tampil, jangan-jangan malahan terabaikan. Tidak jarang terasa ada “pemisahan” antara aktivitas warga Katolik khususnya di bidang kemasyarakatan (sosial, ekonomi, politik,  budaya pada umumnya), dan di lain pihak penghayatan iman, yang seolah-olah tersisihkan menjadi bidang “rohani” yang tersendiri. Lalu iman terasa “tidak berarti, tidak memberi inspirasi” untuk bidang kegiatan yang bersifat “keduniaan” atau profan itu! Di situ orang merasa tidak sempat memperdalam imannya. Agaknya sering pula umat merasa kurang mendapat bimbingan dari para pastor. Padahal justru di situlah tokoh-tokoh kita diharapkan menyumbangkan ilmu-pengetahuan, keahlian atau ketrampilan mereka. Bukan itu saja! Mereka justru diharapkan meresapkan “orientasi iman” di bidang keterlibatan masing-masing, dan dengan demikian berperanan kritis membangun demi pengembangan paripurna manusia dan masyarakat. 
Iman kita wujudkan dan berkembang justru dalam usaha meningkatkan kesejahteraan sesama: kita menghendaki perbaikan kondisi-kondisi hidup mereka, sehingga hidup yang layak manusiawi memungkinkan mereka dengan hati yang bebas mencari dan menemukan Tuhan; dan itu kita usahakan terdorong oleh motivasi tulus membantu mereka demi Tuhan, bersih dari segala pamrih; tidak perlu kita langsung menyaksikan hasil nyata usaha kita; cukuplah hendaknya bagi kita, bahwa dalam berusaha itu kita mengabdi Tuhan. Tenaga dan kemampuan sedapat mungkin kita tuangkan dalam usaha itu, sehingga sesama sungguh tertolong. Dan kerelaan untuk membaktikan diri itu bersumber pada persatuan kita dengan Kristus, yang hidup dalam diri kita pun sekaligus ingin kita jumpai dalam diri sesama. 
Tentu untuk memperdalam iman diperlukan pengetahuan agama secukupnya. Artinya: memadai mengingat mutu pendidikan, situasi dan kondisi, serta tempat kedudukan masing-masing. Yang dalam masalah kita meminta perhatian khusus ialah: ajaran tentang “Gereja dalam dunia modern”, menyangkut soal pewartaan Injil dalam dialog dengan masyarakat; pembangunan hidup membudaya, sosial, ekonomi dan politik, berdasarkan azas-azas kristiani tentang martabat pribadi dan hidup memasyarakat.   
Untuk mengembangkan iman pasti sangat membantu juga adanya “gerakan” (kelompok-kelompok) doa atau renungan (rekoleksi dan sebagainya), pendalaman Kitab Suci, pendalaman iman, dan lain-lain. Begitulah sabda Tuhan makin meresapi kita secara mendalam dan menyeluruh. Tetapi kiranya itu belum cukup. Iman itu sikap kita menjawab panggilan Tuhan. Sikap itu berkembang, bila kita menanggapi peristiwa dan situasi konkrit serta tantangannya “dalam iman”, artinya: situasi dan peristiwa kita nilai maknanya bagi keselamatan kita atau sesama. Keselamatan itu menyangkut manusia seutuhnya, berawal dari hidup layak manusiawi, sesuai dengan martabat pribadi kita, di dunia ini. Dari iman kita gali amanat, pedoman, untuk mengambil sikap, menempatkan diri terhadap sesama, menangani kenyataan. Kemudian kita menentukan sikap serta menempuh langkah-langkah, untuk membawa diri dan sesama mendekati Tuhan, tujuan hidup kita.
Iman kita berkembang, bila sikap serta langkah-langkah itu kita ambil berdasarkan motivasi iman. Motivasi itu mendorong kita untuk dengan tindakan nyata mencintai sesama demi Tuhan. Sesama kitapun kita pandang dalam iman, artinya dalam perspektif panggilan mereka untuk hidup kekal. Sejauh tergantung dari kita, mau kita usahakan, agar karya Tuhan dalam diri mereka disambut dengan hati terbuka. Sikap iman memang mengandung penyerahan diri kepada Tuhan. Tetapi tidak berarti “pasrah total”, seolah-olah Tuhan sendiri kita persilakan mengerjakan segala sesuatu. Tuhan tetap hadir dan berkarya dalam masyarakat untuk menyelamatkannya. Itulah yang kita imani. Usaha-usaha kita dalam pembangunan, darma-bakti dan jasa-sumbangan kita melalui profesi atau kegiatan lain untuk kesejahteraan sesama, itulah penghayatan iman kita. Dengan bekerja membela nasib dan memperbaiki mutu hidup sesama kita membuktikan dan mengungkapkan, bahwa di balik semua susah-payah itu Tuhan sendirilah, yang menghendaki damai sejahtera bagi rakyat dan tetap berkarya di tengahnya. 
Iman  yang sejati takkan membiarkan kita “berpandangan ke dalam”, seakan-akan satu-satunya yang penting: asal kita sendiri selamat. Kehadiran Roh tidak terkungkung dalam batas-batas Gereja yang kelihatan. Ia yang hadir dalam diri kita sebagai “Kelimpahan ilahi”, mendesak kita untuk membaktikan diri kepada sesama. Dengan mempertaruhkan diri dan menyumbangkan tenaga kemampuan kita demikian itulah kita berkembang dalam penghayatan iman kita.
Hidup rohani sebagai awam harus mendasar corak-cirinya menurut situasi serta kondisi kita, yang pada dasarnya ialah situasi “keduniaan”: hidup berkeluarga, lingkungan pekerjaan sehari-hari, profesi atau jabatan kita, kegiatan sosial. Suburnya kegiatan itu bersumber pada persatuan vital dengan Kristus. Persatuan itu digariskan dengan upaya-upaya rahmat, terutama dengan secara aktif ikut serta dalam liturgi (AA 4). Efisiensi kerja dan lengkapnya peralatan, kemahiran dan ketrampilan, organisasi, struktur dan mekanisme yang tepat guna, itu semua penting, tak boleh diabaikan. Tetapi kalau kita mau merasul dalam arti sesungguhnya, bukan itu saja yang harus kita andalkan. Maka dalam usaha kita meningkatkan kadar kerasulan kita, pembinaan spiritualitas awam (corak hidup rohaninya, yang bernada lain dari hidup rohani biarawan atau imam) tidak boleh dilalaikan. 
Bukan saja sikap iman perorangan, tetapi penghayatan iman bersama (jemaat, paroki) pun sangat diwarnai oleh situasi maupun kondisi lingkungannya. Dengan tetap mengikuti perkembangan serta menanggapi situasi itu penghayatan iman dengan sendirinya lambat laun “membudaya”, mengalami proses inkulturasi. Baik hidup batin maupun ungkapan lahirnya bertumbuh secara otentik, tampil dalam keasliannya. (Stefan Surya)

Evangelisasi 2

Para murid Kristus Adalah Anggota Suatu Komunitas

Seorang murid Kristus adalah seorang anggota yang produktif dari suatu komunitas. Dia mencapai keseimbangan antara kehidupan doa dan kontemplasinya disatu pihak, dan kehidupan pelayanan serta pekerjaan-pekerjaan baiknya dilain pihak. Kisah para rasul telah menggambarkan dengan indahnya komunitas Kristiani dalam bab 2 dan bab 4: Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa  Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. (Kis 2:42 dst , Kis 4:32 dst).
Ada alasan kuat mengapa kita perlu bergabung menjadi anggota dari suatu komunitas. Seorang murid akan menyadari bahwa tidaklah mungkin untuk memenangkan pertempuran moral melawan musuh-musuh rohani tanpa adanya dukungan dan topangan. Seorang diri saja tak seorangpun dapat menghadapi dunia dan tetap hidup. Harusnya ini: “Kamu dan saya (komunitas) melawan dunia”.  Yang dimaksud dengan istilah ‘dunia’ di sini ialah segala sesuatu yang bersifat duniawi yang menghalanghalangi pertumbuhan kehidupan rohani kita. Di samping keduniawian ini masih ada lagi dua musuh kita yang menghambat pertumbuhan rohani kita yaitu setan dan nafsu-nafsu kita yang besar. Dalam surat kepada orang Ibrani dan Paulus dalam suratnya kepada orang di Tesalonika, memberi nasihat yang bagus kepada para murid: Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat (Ibr 10:24-25). Dan pada 1 Tes 5:14 dikatakan : Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.
Tak seorangpun merupakan sebuah pulau. Tak seorangpun dilahirkan untuk dirinya sendiri. Orang membutuhkan orang lain. Komunitas selalu merupakan karunia Allah bagi orang perseorangan. Orang perseorangan merupakan karunia bagi komunitas. Karena itu seorang murid Kristiani tidak boleh menjauhkan diri dari perkumpulan umat, sebab Allah menggunakan komunitas sebagai saluran melalui mana kekuatan Allah mengalir ke dalam diri kita (Ibr 10:24-25).  
Setiap anggota mempunyai karunianya sendiri yang unik yang diberikan oleh Allah Roh Kudus untuk kepentingan komunitas dan bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Karunia-karunia diberikan untuk memperlengkapi komunitas untuk setiap pelayanan yang mulia yaitu untuk membangun Tubuh Kristus (Ef 4:7-16). Maka dari itu jelaslah bahwa karunia penyembuhan, karunia bernubuat, karunia berkhotbah bukan untuk kebesaran pribadi, ketenaran pribadi. “Saya mati terhadap diri sendiri agar supaya saya hidup untuk orang-orang lain” merupakan semboyan seorang murid Kristus. Untuk alasan yang sama, dia tidak akan pernah bertanya: Apa yang dapat saya peroleh dari komunitas? Sebaliknya dia akan bertanya: Apa yang dapat saya lakukan untuk komunitas saya? 
Kadang-kadang komunitas menjadi suatu beban bagi kita. Kedengarannya ada kontradiksi, tetapi meskipun demikian hal itu benar. Bila seorang anggota komunitas merasakan dirinya dalam situasi tidak adanya toleransi, pikiran yang secara otomatis muncul ialah: “Saya mau meninggalkan komunitas saja”. Salah pengertian, benturan antar pribadi, individualisme dan sikap yang aneh, sikap tak peduli terhadap kesejahteraan anggota-anggota yang lain, ketidak mampuan untuk berkomunitas dengan semua anggota yang lain (karena luka hati): semuanya ini pasti mengaburkan visi dan misi yang mulia dari komunitas.
Jika masalah-masalah tidak segera dibereskan, perpecahan akan terjadi, dalam banyak kasus, jika bukan dalam semua kasus, ada godaan untuk meninggalkan dan menyerah. Pertanyaan: “Apa yang saya lakukan di sini?” Mengomel dan mengomel terutama bila pemimpin tak berhasil memenuhi keinginan atau aspirasi orang perorang dan gagal memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang dirasakan. Pada saat-saat yang mengesalkan inilah justru murid-murid Kristus dipanggil untuk menyembuhkan, membangun kembali komunitas-komunitas yang menjadi melemah. Murid-murid Kristus harus menghayati hidup yang pantas, yang sesuai dengan panggilannya – berusaha men-jaga persatuan Roh melalui ikatan kesempurnaan yaitu kasih bersabar satu terhadap yang lain dan saling mengampuni. Murid Kristus, sementara mempunyai kesempatan, harus menjadi alat perdamaian Kristus. Kol 3:12-15 mengatakan: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah”.
Tantangan lain yang nyata ialah diterimanya pribadi-pribadi yang sulit ke dalam komunitas. Diterimanya mereka itu dalam komunitas tak dapat dihindari. Komunitas kristiani, karena merupakan komunitas Allah, harus memeluk orang-orang kudus dan orang-orang berdosa juga. Ini kita tahu. “Pribadi-pribadi yang sulit” adalah orang-orang yang tidak mudah untuk diajak bergaul karena sifat-sifatnya yang khas. Juga termasuk orang-orang yang sakit, orang-orang lanjut usia, orang-orang yang egois, orang-orang yang sulit diajak bekerja sama dan orang yang merasa dirinya mengetahui semuanya. Pribadi-pribadi yang sulit, disadari maupun tanpa disadari, dapat menunjang tujuan yang baik. Mereka membawa kebaikan bawaan dan menghasilkan kesabaran murid Kristus yang sejati dalam komunitas. Mereka menimbulkan dalam diri kita kemurahan hati, kerendahan hati dan kasih pengorbanan yang ditanamkan Allah di dalam hati kita. Bila ada kasih, pribadi yang sulit tidak lagi menjadi beban.
Perlu ditekankan bahwa komunitas Kristiani jangan berorientasi kepada imam dan jangan berorientasi kepada pribadi. Jangan sampai kita mau menjadi anggota komunitas yang aktif hanya karena imam favorit kita memimpin kelompok dan menarik diri dari komunitas bila imam favorit kita meninggalkan komunitas karena perpindahan misalnya. Imam-imam dan orang-orang ‘hebat’ datang pergi, tetapi komunitas tetap tinggal. Seperti halnya komunitas kita mendukung kita secara penuh, kita harus mendukung komunitas secara penuh, apapun yang terjadi.

Seorang murid mencintai kehidupan
Hidup manusia adalah berharga bukan karena masyarakat beradab telah membuatnya demikian atau karena para ahli filsafat telah menyimpulkan demikian. Hidup manusia itu berharga karena merupakan bagian yang penting dari karunia Allah yang dibungkus misteri. Hidup manusia adalah karunia dari Allah. Allah adalah Sang Pemberi karunia. Hidup manusia adalah biji mata Allah. Allah sendiri Pencipta utama dan sumber hidup manusia. Setiap serangan terhadap hidup manusia merupakan serangan terhadap Allah. 
“Karunia hidup tidaklah menjadi kurang indah walaupun seandainya hidup itu diiringi oleh penyakit atau kelemahan, kelaparan atau kemiskinan, rintangan mental atau rintangan fisik, kesepian atau usia lanjut. Sungguh, dijaman ini hidup manusia harus dihormati,. Diperhatikan, dipelihara karena hidup ini indah. Di dalam dan melalui yang paling lemah dari bejana-bejana manusiawi inilah bahwa Tuhan terus menyatakan kuasa kasihNya” (Terence Kardinal Cooke).
Keindahan hidup manusia akhirnya dimengerti lebih baik jika orang menjadi bersedia memeluk misterinya, bukan melalui perencanaan dan pengontrolan manusia secara sistematis saja. Sebab hidup manusia dan sifat-sifatnya yang melekat berada di luar jangkauan laboratorium. Para dokter dan teknologi medis menghadapi problem baru sekarang ini. Mereka bertanya apakah mereka mempunyai hak untuk memilih hidup atau mati bagi pasien mereka. Metode dan penemuan-penemuan yang baru yang berdasarkan ilmu pengetahuan seperti misalnya tehnik genetika dan bedah pencangkokan jantung telah dikembangkan un-tuk memperpanjang hidup. Pada extrim yang lain sekarang sudah ada apa yang disebut mesin bunuh diri yang digunakan untuk membunuh karena belaskasihan (hak untuk mati) dan aborsi.
Dewasa ini jutaan bayi yang dibunuh lewat aborsi. Bahkan ada negara yang mengesahkan undang-undang yang mengijinkan orang melakukan aborsi. Seorang anak tidak lagi dipandang sebagai ‘sumber sukacita’, tetapi sebagai beban. 
Murid Kristus adalah orang-orang yang pro-kehidupan dalam keyakinan dan dalam tindakan. Murid Kristus harus selalu berada di pihak yang membela hidup, terutama bila hidup itu dianggap oleh sementara orang sebagai “tak dikehendaki, tidak ada gunanya atau tidak produktif”. Murid Kristus itu punya keyakinan yang mendalam bahwa hidup manusia itu mulai pada saat kehamilan, bahwa hak untuk hidup dari bayi yang belum dilahirkan harus dinomor satukan dan tidak boleh dihancurkan. Merenggut hidup anak yang tidak dapat membela diri adalah menolak permintaan yang indah dari Allah, menolak mendengarkan nyanyian kasih dari atas. 
Aborsi tidak disetujui sepanjang sejarah manusia sebab pada dasarnya merupakan kejahatan melawan keluarga manusia. Sikap mental orang-orang di dunia ini sekarang ialah memberikan toleransi yang besar untuk melakukan aborsi, sehingga aborsi menjadi bisnis yang berkembang dengan cepat. Aborsi telah menjamur menjadi industri kematian yang tidak adil dan penghancuran yang tidak sah yang membuat subur barisan tetap para wanita yang bingung dan tidak berbahagia dan manambah jumlah pria-pria yang tidak bertanggung jawab. 
Meyakinkan yang teguh murid-murid Kristus harus bertindak dan melibatkan diri dalam masalah ini. Dalam menghadapi kejahatan sosial aborsi ini dan dalam menghadapi pembunuhan anak “yang tidak dikehendaki”, murid-murid Kristus tidak boleh hanya duduk dan santai, dengan berkata “tidak usah susah-susah”. Waktunya telah datang bagi murid Kristus untuk keluar dari “spiritualitas private”nya dan memikul tanggungjawab menjadi “penjaga dan pelindung saudara”nya. (Stefan Surya)