Kamis, 01 April 2010

Getsemani

Getsemani adalah suatu tempat di mana dilakukan pemeras buah zaitun. Terletak di lembah Kidron, yaitu tempat penghakiman, di mana akan terjadi pertempuran eskatologis.
Menjelang sengsaraNya, Yesus membawa tiga murid menyertaiNya (Mat 26:37), membawa bukan mengajak. Mereka ini adalah saksi pernyataan Kerajaan. Mereka ini menyaksikan kebangkitan anak Yairus (Mrk 5:37). Mereka adalah yang menyaksikan Yesus sewaktu berubah di atas gunung Tabor (Mrk 9:7). Mereka ini telah mendengar keterangan eskatologis, atau khotbah tentang akhir zaman (Mrk 13:3-37).
Ketiga murid ini telah melihat tanda-tanda ini dan percaya. Karena itu sekarang mereka harus siap menghadapi pertempuran eskatologis yang akan dimulai di situ sebentar lagi.
Mengapa mereka? Mereka dipanggil bukan diajak ataupun di-undang. Merupakan suatu perintah. Tetapi bukan untuk mendapat sesuatu hak istimewa akan tetapi untuk suatu tugas, biarpun mereka tidak sadar bahwa untuk Kristus memulai pertempuran eskatologis. Sedangkan murid-murid yang lainnya tinggal di luar, jauh.
Mereka diajak berdoa; orang bisa bertahan sebagai murid kalau ber-jaga dan berdoa. Petrus yang tertidur dipanggil dengan nama Simon, seperti sebelum dipanggil.
Pada Mrk 14:33 dikatakan : Ia sangat takut dan gentar. Mengapa demikian? Setiap orang yang mati berhadapan dengan maut yang sudah ditebus oleh Kristus, tetapi Kristus sendiri menghadapi maut yang belum ditebus.
Pada ayat 34 dikatakan: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya”. Ini teringat Mazmur 42:6 : “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Dalam doa ini Yesus memakai Sabda Allah sendiri, sebab pada saat yang sulit hanya Sabda Allah dapat menolong manusia.
Kemudian pada ayat 35-37 : tentang saat Tuhan seperti telah diramalkan nabi Yoel (Yl 2:30-32). Tentang cawan atau piala: adalah piala angkara/eskatologis seperti telah diramalkan oleh Yeheskiel 23:32 ; Habakuk 2:16 dan Yeremia 25:15. Berarti bahwa Anak Allah harus meminum piala itu; AnakNya sendiri. Itulah akibat dosa! Padahal Dia tidak berdosa, dosa-dosa kitalah yang ditanggungNya. Dan dosa harus dihukum. Tetapi sekarang bukan engkau atau aku yang harus memikul beban dosa, tetapi Putera. Belaskasihan Allah menjadi nyata justru dalam membebankan dosa dan hukumannya atas orang benar ini. Injil Matius sudah mencatatnya (8:17): “Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita”. (bdk Yes 53:4). Yesus memikul kelemahan manusia.
Pada ayat 36 dikatakan: “Ya Abba; ya Bapa”, merupakan sintese dari Bapa Kami. Doa ini diucapkan (kata ini diucapkan) dalam konteks di mana Kristus bertindak sebagai Anak yang melakukan kehendak BapaNya. “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr 5:7-9).
Getsemani adalah tempat doa murni. Di mana manusia berhadapan dengan kehendak Allah. Menerima atau menolak. Tidak lagi hal ini atau hal itu yang didoakan, yang diminta, tetapi berhadapan hanya dengan kehendak Pencipta.
Pada ayat 38 dikatakan: “Berjaga-jagalah dan berdoalah”. Mengenai hal ini berulangkali telah dikatakan oleh Yesus sebagai suatu peringatan. “Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu bilamanakah waktunya tiba. Dan halnya sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penunggu pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu bilamanakah tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah!” (Mrk 13:33-37).
Berjaga dan berdoa itulah sikap orang yang menghadapi pertempuran terakhir/eskatologis. Kita hidup di masa terakhir oleh karena itu harus berjaga dan berdoa, karena inilah saat di mana kuasa kegelapan melancarkan perlawanan terakhir; tetapi Allah akan menang dengan menanggungkan dosa-dosa manusia kepada AnakNya.
Tiga kali Yesus mengajak ketiga muridNya agar berjaga dan berdoa. Doa adalah dimensi eskatologis dari hidup manusia. Tetapi semua menyerah dan tertidur… tetapi akhirnya semua melarikan diri apabila harus menghadapi tantangan; kecuali satu: Dia; satu-satunya. Berdoa supaya tidak jatuh sewaktu menghadapi godaan… Godaan… Inilah pertempuran antara yang baik dan yang jahat; kalau jiwa tidak diperkuatkan oleh/dalam doa, berarti kalah.

(St. ST)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda. ^^