Rabu, 02 November 2011

Sebaiknya Kita Tahu

MENGAPA BERDOA MELALUI PARA KUDUS DAN MENDOAKAN ARWAH?
Posted by Cornelius on 12 September 2011

Dasar Biblis : Berdoa melalui Perantaraan Para Kudus
Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, tersungkurlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan kemenyan: itulah doa orang-orang kudus. (Wahyu 5:8)
Maka datanglah seorang malaikat lain, dan ia pergi berdiri dekat mezbah dengan sebuah pedupaan emas. Dan kepadanya diberikan banyak kemenyan untuk dipersembahkannya bersama-sama dengan doa semua orang kudus di atas mezbah emas di hadapan takhta itu. Maka naiklah asap kemenyan bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah. (Wahyu 8: 3-4)
Orang Katolik yakin Orang Kristen yg telah meninggal sungguh hidup bersama Kristus. Tuhan Yesus telah mengaruniakan hidup kekal kepada mereka yang telah makan Tubuh dan Darah Kristus (dalam Ekaristi) seperti yang dijanjikannya dalam Yoh 6:35, 48, 51, 53-58, “…Jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu…. Barang siapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” Jadi dalam pengertian ini, Para Kudus yang meninggal dalam Kristus tersebut, sesungguhnya lebih “hidup” dari pada kita, sebab mereka telah bersatu dengan Sang Hidup itu sendiri yaitu Kristus, di surga.
Gereja Katolik tidak membatasi bahwa pengertian “orang kudus” ini hanya terbatas pada orang-orang yang masih hidup di dunia. Orang kudus yang meninggal dalam Kristus, tidak berhenti menjadi orang kudus setelah ia memasuki hadirat Allah yang ilahi. Para Orang Kudus yang sudah meninggal dan masuk Surga ini juga merupakan bagian dari Gereja yang Satu. Mereka tetap menjadi anggota Tubuh Kristus [yang satu] oleh karena jasa Yesus Kristus sebagai Kepalanya. Jadi keanggotaan mereka dalam Gereja tidak berhenti dgn kematian.
Itulah alasan doa-doa dari orang Kudus masih tetap dimohonkan, sebagaimana kita meminta didoakan oleh orang-orang Kristen yg masih hidup. Itulah alasan kenapa kami berdoa kepada Maria dan kepada Orang-Orang Kudus yg telah meninggal. Mereka meminta Orang-Orang Kudus ini mendoakan mereka kepada Allah. Jika kita semua setuju bahwa mereka sungguh hidup bersama Kristus, maka mereka dapat berdoa untuk kita kepada Allah sepanjang waktu.
“Hendaklah kamu saling mendoakan….doa orang yg benar, sangat besar kuasanya” (Yak 5:16; bdk. Why 8:3-4)
Apakah kamu mengatakan bahwa tidak memerlukan siapa-siapa selain Tuhan? Jika iya maka kamu pasti lebih hebat daripada Yesus sendiri. Bahkan Yesus sendiri pun menyediakan diri-Nya untuk dilayani oleh para Kudus dan Malaikat (Mat 4:11, Luk 22:43, Mrk 9:2)
Dasar Biblis dan Bapa Gereja : Mendoakan orang yang telah meninggal
2 Timotius 1 : 16-18
16. Tuhan kiranya mengaruniakan rahmat-Nya kepada keluarga Onesiforus yang telah berulang-ulang menyegarkan hatiku. Ia tidak malu menjumpai aku di dalam penjara. 17. Ketika di Roma, ia berusaha mencari aku dan sudah juga menemui aku. 18. Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya pada hari-Nya. Betapa banyaknya pelayanan yang ia lakukan di Efesus engkau lebih mengetahuinya dari padaku.
Santo Paulus berdoa untuk Onesiforus, kawannya yang telah meninggal dunia, yang hanya bermakna jika ia ditolong dengan doa.
1Kor 15:29
Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?
Dalam argumennya tentang kebangkitan badan, Santo Paulus menyebut (tanpa niat mengutuk atau menyetujui) praktik orang-orang yang mau dibaptis demi orang-orang yang telah meninggal, yang tidak bisa dibantu jika tidak ada “kondisi antara” untuk pemurnian.
Singkatnya, jika orang-orang Yahudi, Santo Paulus, dan orang-orang kristen perdana mendoakan orang mati, kita tidak perlu takut untuk juga mendoakan mereka yang telah mendahului kita. Mendoakan orang mati mengandaikan adanya kondisi antara, yakni kondisi pemurnian, apa pun namanya. Umat Katolik menyebutnya api penyucian.
=======================
Penjelasan dikutip dari buku Pembelaan Iman Katolik 1, oleh Frank Chacon dan Jim Burnham.
Berikut ini tulisan Bapa Gereja mengenai praktek berdoa bagi arwah orang yang sudah meninggal :
St. Ambrosius dari Milano (333-397)
Jika doaku terkabulkan, kalian berdua, Gratius dan Valentinianus (dua kaisar yang wafat waktu itu) akan bahagia. Bagi kalian tidak ada hari yang terlupakan. Tak ada doa yang lupa kupanjatkan bagi kehormatan kalian. Tidak akan ada malam yang kulewatkan tanpa memanjatkan doa bagi kalian. Pada setiap pengurbanan, aku akan ingat pada kalian. (De obitu Valent. N.78. ML 16, 1381)
St. Agustinus dari Hippo (354-430)
Doa Gereja sendiri atau doa masing-masing umat beriman bagi beberapa saudara yang sudah meninggal dunia, dikabulkan. Itulah doa untuk mereka yang dilahirkan kembali dalam Kristus, padahal hidupnya di dunia tidak begitu jelek, sehingga dianggap tidak pantas menerima belaskasihan, namun juga tidak begitu bagus, sehingga mereka dianggap tidak memerlukan belas kasihan itu. (De. Civ. Dei. 21, 24, 2. ML 41, 739)
Pesan St. Monika kepada St. Agustinus sebagaimana ia catat di buku Pengakuan (Confessiones)
Kuburkan badanku ini dimana kau kehendaki; janganlah merpeotkan kamu. Hanya inilah yang kuminta, agar kamu, dimana kau berada mendoakan aku di Altar Tuhan (Conf. I. 9. c. II, 27. ML 32, 775)

Sumber : Internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda. ^^