Rabu, 09 Maret 2011

Cerita Mini

PERCIKAN API YANG MENYADARKAN


Sudah dua bulan, Shila lalai menjalankan kewajiban yang diberikan kedua orangtuanya. Orangtua Shila merupakan pemilik yayasan sosial, yang mana sasaran utamanya tertuju pada pelayanan anak- anak keluarga kurang mampu, agar mereka mendapatkan kehidupan dan pendidikan yang layak. Otomatis, Shila pun turut dibebani kewajiban, yakni melakukan kunjungan rutin ke yayasan dan memantau perkembangan anak asuh di sana.
“Ah, papa mama aja gak pernah punya waktu buat aku. Buat apa aku nyempetin waktu buat anak- anak itu, masa iya, dua minggu sekali harus kunjungan. Lagi pula, semua kan udah diatur pengelola yayasan dan semua pasti berjalan lancar. Tapi.... kalo mama tanya, aku jawab apa nih, bisa kena omel dong. Aduh, bisa- bisa uang bulanan aku dipotong nih. Hah....demi uang jajan, ayolah, setor muka ajah deh.” dumel Shila sambil melangkah dengan berat menuju mobilnya.
*
“Siang, Bu Rani.”
“Nak Shila, apa kabarnya? Sudah lama gak berkunjung nih.” ucap Bu Rani yang merupakan pengelola yayasan tersebut.
“Ya, gimana kabar di sini, bu?” tanya Shila sekedarnya.
“Semua berjalan baik dan kita kedatangan anggota baru, usianya sudah 10 tahun.” papar Bu Rani.
“Tuh kan betul, buang- buang waktu aja aku ke sini, aku gak kunjungan dua bulan aja, semua tetep baik.” pikir Shila.
“Nak Shila, Nak...ayo, jangan melamun. Mari kita berkeliling.” lanjut Bu Rani.
*
Sesampainya di aula, Shila melihat pemandangan yang berbeda dari biasanya.
“Siapa itu, bu?” tanya Shila heran.
“Itu Ayumi, anggota baru yang sempat ibu bicarakan tadi. Memang seperti itulah dia, senang sekali mengumpulkan teman- temannya lalu ia mendongeng. Dia membawa perubahan yang baik di sini, anak- anak menjadi lebih patuh sama ibu. Sebentar ya, ibu panggilkan.” papar Bu Rani.
“Halo ka, aku Ayumi, seneng banget bisa ketemu kakak.” ujar Ayumi.
Shila membalas dengan senyum seadanya.
“Shila, Ayumi pernah bilang, kalau dia ketemu kamu, dia ingin berbincang denganmu. Betul begitu, Ayumi?” ucap Bu Rani.
“Ya betul, bu. Ka, boleh aku ngobrol sama kakak?” tanya Ayumi.
*
Ayumi pun mengajak Shila ke taman, sebenarnya Shila sudah ingin mengakhiri kunjungannya, tetapi segan menolak ajakan Ayumi.
“Ka, sampaikan terimakasihku ya, sama kedua orangtua kakak. Karena mereka mau mendirikan yayasan ini.” ucap Ayumi mengawali perbincangan.
Respon yang sama pun terlontar dari wajah Shila. Ya, hanya senyum seadanya.
“Ya ka, karena di sini aku menemukan keluarga baru. Aku ini yatim piatu. Dulu aku tinggal sama bibi, tapi bibi harus mencari uang ke Jakarta, jadi aku dititipkan di sini. Berkat orangtua kakak, aku merasa mendapat kasih sayang orangtua.” lanjut Ayumi.
“Aku aja anaknya, gak merasa dapet kasih sayang dari mereka, malah ini bocah yang ngerasa kasih sayang.”ucap Shila dalam hati.
Shila pun mulai tertarik dan sedikit bingung dengan perkataan Ayumi. Shila merasa anak 10 tahun di hadapannya itu berbeda dari anak yayasan lainnya, karena dia anak pertama yang mengajak Shila bercakap- cakap dan karena Ayumi mengatakan hal yang tidak terpikir oleh Shila.
“Siapa yang ngajarin kamu ngomong kayak gitu?” tanya Shila spontan.
“Hah, kayak gitu? Itu cuma sekedar apa yang ingin aku sampein aja ke kakak, gak ada yang ngajarin aku untuk ngomong itu. Yang aku tau sekarang, aku sangat bersyukur atas hidupku, Ibu Rani yang perhatian banget, temen- temen di sini yang sayang sama aku dan Tuhan Yesus yang gak pernah ninggalin aku.” papar Ayumi yang semakin membuat Shila berpikir.
“Serasa jantung berhenti, rasanya gemetar mendengar perkataan dan setiap jawaban bocah ajaib ini.” rasa Shila
Menit-menit itulah yang membuat Shila berpikir. Ia memiliki segalanya, tapi selalu merasa kurang. Ayumi yang kekurangan, tapi ia merasa sangat bersyukur atas apa yang dimilikinya. Percikan api dengan lembut menyelinap dalam diri Shila, memanaskan hatinya dan menerangi pikiran untuk melihat apa yang telah dimiliki, bukan apa yang tidak dimiliki.(LKH)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda. ^^