Selasa, 05 Juli 2011

Percikan Pengalaman 2

TITIK BALIK HIDUP

24Setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya” ( Mat 7: 24-27 )

                Tepatnya satu tahun yang lalu, peristiwa itulah yang menyakinkanku bahwa aku ada di dalam rencana-Nya. Aku menjadi yakin, Ia tak pernah sedikitpun meninggalkanku dan aku menyadari jika Ia teramat mengasihiku lebih dari siapapun di dunia ini.
                Sejak SMA, ada satu pandangan hidup yang tak pernah terhapus dari benakku. Pertemanan dan persahabatan adalah segala- galanya bagiku, aku akan mengorbankan apapun untuk kesenangan aku dan sahabatku. Disaat aku percaya pada seseorang, aku akan menganggapnya sebagai sahabat dan satu hal yang aku pahami, seorang sahabat takkan pernah menjerumuskan sahabatnya ke dalam hal buruk Itulah yang aku lakukan kepada setiap orang yang ku anggap sahabat dan aku yakin mereka pun akan bersikap demikian kepadaku. Itulah prinsip yang tertanam dalam diriku yang tak lekang hingga aku berada di perguruan tinggi.
                Saat ini, aku masih mengenyam pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Bali dan aku terdaftar sebagai mahasiswa semester empat. Aku memang ingin merasakan hidup mandiri dan terpisah dari keluargaku di Bogor. Satu hal yang membuatku sangat senang yakni kebebasan yang aku peroleh untuk bergaul dengan siapapun dan memperbanyak teman tanpa ada yang membatasi.
                Saat aku semester satu, aku mulai memperluas pertemananku. Hampir satu fakultas angkatanku mengenal aku dan aku mengenal sebagian dari mereka. Disaat aku beranjak ke semester dua, temanku semakin bertambah. Aku mengenal mereka yang berada di angkatan atas, dua, tiga, bahkan lima tahun lebih dewasa dariku. Mereka semua kuanggap teman bahkan sahabat. Hidup yang sempurna, itulah kalimat yang dapat menggambarkan perasaanku kala itu.
                Tapi nyatanya, tak sesempurna bayanganku. Aku tumbuh menjadi pribadi yang sangat teledor. Ada satu pertanyaan ibu yang kuingat:
                “ Uang yang ibu kirim, udah kamu bayar untuk kuliah dan kos, nak? ”
                “ Udah, bu.” dengan gemetar aku menjawab pertanyaan ibu.
                Tetapi nyatanya, dua bulan sudah bayaran itu menunggak. Aku terlalu asik berteman, jalan- jalan, makan di cafe dan menghambur- hamburkan uang untuk kesenanganku semata, hingga uang yang diberikan ibu untuk pendidikanku pun terpakai. Responku kala itu, aku memilih untuk tenang, cuek dan tak terlalu memikirkan tunggakan itu.
                Bahkan satu malam, aku masih memberanikan diri untuk pergi ke sebuah night club bersama teman- teman. Terlalu polos dan labil, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan diriku. Kala itu, seseorang yang kuanggap teman baikku, Dudi memberiku sebuah bungkusan kecil berisi serbuk seperti garam. Tak lama kemudian, Dudi menitipkan lagi enam bungkusan yang sama seperti itu. Kemudian ia meninggalkanku sejenak, katanya ia hendak memesan minum. Tak tersirat sedikitpun pikiran buruk dalam benakku. Namun, setengah jam berlalu Dudi tak kunjung kembali, yang datang malah sekelompok orang berjaket kulit dan mereka memaksaku keluar dari tempat itu.
                Sesampainya di depan night club, aku diperiksa dengan seksama dan tujuh bungkus serbuk itu didapati bersamaku. Lalu aku diminta untuk tes urine begitu pula semua orang di tempat itu, termasuk Dudi yang tertangkap saat melarikan diri. Mungkin terlalu lambat menyadarinya, setelah tes urine aku baru menyadari, itulah penggeledahan narkoba.
                Nyatanya, hasil tes urine yang negative dari narkoba pun tak cukup kuat untuk membebaskanku dari semua tuduhan itu. Tuduhan pengedar pun sempat terlontar menghampiriku. Hingga akhirnya melalui proses yang panjang aku dinyatakan tak bersalah.
                Saat itu menjadi titik balik hidupku. Pandanganku akan arti sahabat pun berubah. Terlalu kolot untuk punya pandangan seperti dulu. Karena pada dasarnya kita takkan pernah bisa seutuhnya memahami bagaimana sikap seseorang. Aku pun menyadari kelalaian sikapku yang menghamburkan uang hanya untuk kesenanganku saja dan aku mulai memperbaiki diri. Sedikit demi sedikit aku mengubah semua itu dan mendapati satu hal yang pasti dan jauh lebih baik. Sahabat setiaku hanyalah Yesus.
Kejadian itu, satu tahun lalu, membuka mataku bahwa Tuhan takkan membiarkanku tenggelam dalam keterpurukan. Ia menuntunku setiap saat, menyadarkanku dikala aku lengah dan mengangkatku disaat aku terjatuh. Menyadarkan dan menjauhkan aku dari hal negative hingga zat adiktif itu tak pernah mengalir di darahku.
6Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak- anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut. 7Celakalah dunia dengan segala penyesatannya: memang penyesatan harus ada, tetapi celakalah orang yang mengadakannya. 8Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. 9Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua. 10Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak- anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah BapaKu yang di sorga. [ 11Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang.]” ( Mat 18: 21-35 ). (LKH)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda. ^^