Kamis, 01 Juli 2010

Percikan Pengalaman

SILAKAN PILIH TINGGAL DI DARAT ATAU DI DASAR LAUT

Seorang anak sekolah minggu pucat pasi manakala ia mendapat giliran doa “Bapa Kami”. Keringat dingin deras mengalir bagaikan bulir jagung yang berjatuhan. Anak itu diam seribu bahasa, berdiri bagaikan patung tidak bergeming. Setelah ditunggu lama dan tidak berdoa juga, Ibu Ani, guru sekolah minggu yang bijaksana menaikkan doa, ganti Teddy yang diam seribu bahasa.
Ibu guru berpikir keras apa gerangan yang menjadi penghalang untuk sebuah doa. Bagaimana mungkin Teddy yang cerdas tidak mampu melafal doa yang singkat. Bagaimana Teddy yang sehat tiba-tiba menjadi pucat pasi, tertunduk lesu dan tidak berdaya. Doa yang seharusnya menjadi keteduhan hati kini nampak menjadi beban yang menekan sedemikian berat.
Bagi Ibu Ani ini masalah yang serius, oleh karena itu setiap hari minggu ia menyediakan diri menjadi teman. Ia bermain dan bercakap-cakap dengan Teddy secara khusus. Hingga pada suatu saat Ibu Ani baru mengerti mengapa sebuah doa menjadi beban yang begitu berat bagi Teddy. Ketika mereka bermain menggambar rumah idaman Teddy menggambar rumah yang besar sekali. Tapi rumah itu sedikit aneh oleh karena pintu dan jendela dikenai palang pintu yang besar-besar.
“Ted, kenapa rumahmu ditutup rapat dengan palang pintu yang kuat? Nanti kamu akan sulit keluar rumah atau sebaliknya. “Teddy tidak menjawab malah palang pintunya ditambahkan lagi. Dan sambil menggambar ia berkata lirih… Teddy takut bu…
“Apa yang kamu takutkan Teddy, bukankah di rumah ada papa dan mama yang senantiasa menjagamu?”
“Justru itu Teddy takut sama papa, setiap kali pulang papa selalu marah-marah. Gelas dibanting, piring dilempar adalah hal biasa, ketika tidak ada lagi hal-hal yang bisa dilemparkannya lagi giliran mama yang menjadi sasaran”. Air mata Teddy mulai berjatuhan membasahi pipi dan juga gambar rumah idamannya.
“Teddy kasihan sama mama. Teddy tidak suka kalau papa terus menerus menyakiti mama..”
Teddy terus menambahkan palang pintu idamannya sampai gambar itu rusak bercampur air mata. Ibu Ani pun tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk Teddy dan membisikkan sesuatu “Ibu juga sayang sama Teddy”.
Teddy tidak dapat mengucapkan doa Bapa Kami bukan karena ia bodoh dan juga bukan karena ia malas, tapi karena citra Bapa yang baik telah dirusak, dihancurleburkan oleh sang Ayah.
Bagi Teddy Bapa itu jahat dan sewenang-wenang. Bagi Teddy Bapa itu penuh dengan kebencian dan kemarahan. Bagi Teddy Bapa itu menakutkan dan mengerikan. Oleh karena itu ia sulit menyapa Allah sebagai Bapa.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan, ada banyak Teddy-Teddy lain dalam kehidupan kita yang mengalami kesulitan untuk memahami Firman Tuhan oleh karena kita terlanjur memberi citra yang bertentangan bahkan menyesatkan.
Bagaimana anak memahami damai sejahtera apabila kita selaku orang tua senantiasa berseteru. Bagaimana anak memahami janji setia Allah apabila kita senantiasa tidak pernah menepati janji. Bagaimana anak memahami arti kesabaran apabila kita senantiasa menghadirkan kemarahan. (diar sanjaya – HEA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda. ^^